
Sesampainya di lapak pedagang gado-gado.
Dery berjalan terburu-buru.Takut kalau kehabisan gado-gadonya.
Intan saja sampai terlupakan.
Di tinggal begitu saja saat baru turun dari sepeda motor.
"Pak,gado-gadonya masih kan pak?"Dery harap-harap cemas.Karna ia melihat pedagangnya sudah mulai merapikan tempat.
Bapak penjual gado-gado tersebut melihat Dery dan juga melihat Intan.
"Sebenarnya masih mas,tapi cuma tinggal satu porsi saja.Sedangkan mas nya kan berdua.Ini mau beres-beres pulang."
"Satu gakpapa pak.Tolong buatin ya."Pinta Dery.
"Tapi...oh...buat mbaknya yang lagi hamil ini pasti ya.Ngidam gado gado mbak?"Bapak melihat Intan.
"Enggak kok pak,saya tadi sudah beli disini juga.Sekarang yang pengen suami saya."Terang Intan.
"Oh...begitu."Mengangguk mengerti.
"Tolong buatin sekarang ya pak.Sudah laper banget ini."Dery mengusap perutnya.
"Iya mas,tunggu sebentar ya.Silahkan duduk dulu."Jempol tangannya menunjuk tempat duduk lesehan.
"Iya pak.Sama minumnya es teh dua ya pak."
"Siap mas..."
Dery dan Intan duduk berdua di tempat lesehan yang beralaskan tikar.
"Untung aja masih kebagian."Gerutu Dery.
"Mas Dery suka ya sama gado-gado?"Tanya Intan sambil meraih makanan camilan yang di tata di atas rak makanan.
"Biasa aja sih sebenarnya.Kamu sih tadi bilang soal gado-gado,terus lihat ibu makan sepertinya enak banget.Jadinya kan pengen."
"Kayaknya mas Dery ngidam deh."Celetuk Intan.
"Ngidam apaan,kayak perempuan aja ngidam."Dery tak mau di bilang ngidam.
"Jangan salah lho mas,pria juga bisa ngidam lho."
"Ada-ada aja kamu."
"Yang di pelajari jangan cuma cara mengajar aja mas,mas juga harus belajar mengenai wanita hamil dan melahirkan."
"Ah,udah deh aku mau makan gado-gado dulu.Jangan ganggu aku."Dery melihat pesanannya sudah datang.
Intan pun mengambil es teh yang baru saja di datang dan langsung meminumnya.
Sedangkan Dery asyik menikmati gado-gado tersebut.
Satu piring gado-gado sudah habis Dery makan.
"Huhhh...kenyangnya..."Sambil mengusap perutnya.
"Enak gak mas?"Tanya Intan.
"Enak."Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Ya udah ayok pulang.Bapaknya dah mau pulang juga tuh.Kasihan kalo nunggunya lama."Dery berdiri.
Intan pun ikut berdiri setelah menghabiskan es teh nya.
Intan berjalan menuju sepeda motor yang terparkir di depan warung tenda,sedang Dery pergi ke Bapak penjualnya untuk membayar makanan yang tadi sudah di makan.
Selesai membayar Dery menyusul Intan.
Ia mulai menyalakan mesin sepeda motornya.
Intan membonceng di belakang.
"Setelah ini kita mau kemana mas?"Intan mengeratkan pelukannya.
"Pulang lah.Emang mau kemana?"
"Gak jalan-jalan dulu gitu?"
"Jalan-jalan kemana?Sudah mulai malam ini."
"Ya...kemana gitu...taman misalnya."
"Ngapain jam segini ke taman?"
"Ya jalan-jalan lah,kan kita jarang jalan-jalan.Malem gini biasanya rame lho mas.Banyak orang nongkrong."Intan sangat berharap Dery mengiyakan ajakannya.
"Gak ah,males!"
Ucapan Dery seketika membuat harapan Intan sirna.
Tadinya ia berpikir jika malam ini akan jadi malam terindah buatnya.Bisa jalan-jalan berdua layaknya pasangan suami istri yang sedang bahagia.
Dan mungkin akan membuat hubungannya dengan Dery menuju awal yang indah.
Ia tidak boleh sedih.
Karna sore ini sudah jauh lebih indah dari hari-hari kemarin.
Paling tidak ia bisa boncengan naik sepeda motor berdua.
Bisa memeluk Dery dari belakang.
Buktinya Dery diam saja saat Intan mengeratkan pelukannya.
Bukankah itu sudah merupakan sebuah perkembangan yang pesat untuk hubungannya?
Intan bukanlah seseorang yang lemah.
Ia akan terus berusaha mengambil hati Dery dan juga ibu mertuanya.
Urusan mbak Desy bukanlah hal yang perlu dipusingkan.
Toh mbak Desy tinggalnya ikut suaminya.
Jadi kalau ibu sudah bisa menerima Intan,ia yakin pasti mbak Desy pun juga akan menerima Intan.
Intan akan terus memperjuangkan apa yang sudah menjadi miliknya.
Seperti apa yang selalu Rania ingatkan.
Jika Dery sudah sah jadi milik Intan.
__ADS_1
Dan Intan berhak untuk terus memilikinya.
Yang masih jadi pertanyaan Intan saat ini adalah Rania.
Kenapa Rania selalu mendukungnya untuk memperjuangkan Dery?
Apa mungkin Rania sudah benar-benar melupakan Dery?
Atau mungkin Rania sudah punya cowok lain dihatinya?
Semuanya masih jadi misteri di benak Intan.
Tapi ia akan terus mencari tau kehidupan Rania yang akhir-akhir ini semakin jarang Intan ketahui.
Intan sangat mengenal Rania,tapi karna akhir-akhir ini Intan sibuk dengan kehamilannya yang sedikit bermasalah ia jadi melupakan kebersamaannya dengan Rania.
Tapi ia yakin betul jika ada sesuatu hal yang Rania sembunyikan darinya.Untuk itu Intan pasti akan segera mencaritahu semuanya.
Mungkin ada kejadian yang terlewatkan olehnya yang sedang di alami Rania.
Sesampainya dirumah Intan melihat Bapak yang sedang duduk di teras.
"Kalian darimana?Tumben keluar."Tanya Pak Herman.
"Iya pak,ini habis nemenin mas Dery makan gado-gado."
"Gado-gado.Tumben Dery makan gado-gado."Bapak heran karna biasanya Dery tidak suka dengan sayuran.
"Tadi pengen aja lihat ibu makan gado-gado."Dery duduk di sebelah Bapaknya.
"Dapat gado-gado darimana?"
"Tadi Intan yang beli pak..."Imbuh Intan.
"Oh...ibumu makan gado-gado juga?"
"Iya pak,emang kenapa?"Intan penasaran dengan keluarga ini tentang gado-gado.
"Nggak sih...tapi biasanya ibumu gak suka makanan pinggir jalan,Dery juga biasanya gak suka sayuran.Tumben aja mereka makan gado-gado."Jelas sang bapak.
"Oh...begitu..."Intan baru paham sekarang.
Pantas saja tadi bapak terlihat heran saat ia bilang soal gado-gado.
Mungkin sebenarnya ibu bukannya tidak menyukai makanan pinggir jalan ataupun gado-gado.
Hanya saja ibu mungkin gengsi dan tak terbiasa.
Sehingga mereka tidak tau betapa nikmatnya makanan khas tersebut.
Dan mungkin saja,setelah ini ibu dan juga mas Dery akan kembali lagi mencari makanan yang berisi beraneka sayuran tersebut.
"Ya sudah,Intan masuk dulu ya pak,mas.Mau istirahat."
"Iya,istirahat aja.Jangan sampai kamu kecapek'an."Kata bapak.
"Iya pak."
Seperti biasanya,justru bapak mertua yang sangat perhatian pada Intan.
Sedangkan Dery diam saja tanpa ekspresi.
__ADS_1
Intan sudah terbiasa dengan hal itu.
Meski sakit di awalnya,tapi ia yakin suatu saat nanti ia akan bahagia.