
"Ini lho buk...mata mbak Rania bengkak,kayak habis nangis."Mbok Jum menjelaskan.
Mama Anita mendekat lalu memegang wajah Rania.
Mama Anita sempat kaget saat melihatnya.
Ternyata yang dibilang mbok Jum benar adanya.
"Rania,kamu habis nangis?"
Pertanyaan mama Anita membuat Rania semakin kebingungan untuk mencari jawaban.
"Enggak kok ma...ini tadi kelilipan."Rania segera menyembunyikan wajahnya dengan kembali beraktifitas.
"Kamu dimarahi Arya,kalian berantem?"Mama menggelengkan kepala,takut jika apa yang dia pikirkan benar terjadi.
"Enggak ma...beneran gakpapa kok."Kembali Rania meyakinkan mama Anita.
Tapi mama Anita tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Rania.
Mama segera berjalan cepat pergi dari dapur dan mencari Arya.
Mama Anita menemukan Arya sedang olahraga ringan dengan papanya,segera ia mendekat dan sedikit marah pada Arya.
"Arya,Rania kamu apain?"
Arya dan papa Jaya sama-sama heran dengan pertanyaan mama Anita.
Baru juga datang sudah bertanya hal aneh pada Arya.
"Maksud mama ini apa ma...?"Papa Jaya yang justru balik bertanya.
"Mama tanya sama Arya,Rania diapain sama anak papa itu.Matanya sampek bengkak kayak habis nangis lho pa."Giliran papa Jaya yang kaget.
Papa paham apa yang di bilang mama.
"Biar Arya papa yang atur ma,Rania nya gimana?"
"Rania nya sih udah gakpapa.Tadi mama tanya gak ngaku dia,bilangnya kelilipan.Padahal jelas banget kalo habis nangis.Kalo sampek nenek tau bisa habis kamu Arya dimarahin nenek."Mama Anita pun berlalu dari sana.
Biarlah Arya jadi urusan papa.
__ADS_1
"Ada apa Arya?Kalian berantem?"Papa Jaya mulai bertanya.
"Gak kok pa."
"Lalu?"
"Cuma sedikit berdebat."
"Kamu ingat kan janji papa sama pak Hartono?"
"Maksud papa?"
"Papa sendiri yang akan mengantarkan Rania kembali pada orang tua nya jika kamu menyakitinya!"Papa Jaya mengingatkan janjinya.
"Pa...apaan sih.Gak gitu.Kita cuma berdebat sedikit kok pa."Arya mulai panik.
"Meskipun sedikit berdebat tapi jika Rania merasa sedih dan tak bahagia,buat apa dipertahankan.Kasihan,dia hanya penolong disaat kamu sedang terdesak.Tidak adil jika dia harus menderita karna ulah kamu."Papa Jaya sengaja menakut-nakuti Arya.Ingin tau bagaimana reaksi Arya selanjutnya.
Arya menunduk malu.Semua ucapan papa benar adanya.
Tapi dia tak pernah rela jika Rania harus pergi dari hidupnya.
"Pa...gak gitu juga dong pa...Kita kan baru saja memulainya."Sanggah Arya.
"Baru saja kamu bilang Arya?Kalian sudah menikah hampir dua bulan lamanya.Mau berapa lama lagi kamu akan menyiksa batinnya?"
"Tapi pa.Arya juga gak mau ini terjadi.Arya tuh mau dia bisa menganggapku suami,bukan atasan dia."Arya akhirnya keceplosan.
"Maksud kamu gimana?"
Sebenarnya Arya malu karna sudah keceplosan bicara pada papa Jaya.
"Ya...Arya juga mau dia bisa mengerti aku pa...kita kan bukan lagi atasan dan bawahan,melainkan suami istri,tapi kenapa dia selalu saja jaga jarak sama Arya."Akhirnya Arya jujur pada papanya.
"Memang kamu sudah mengerti dia?"
"Mengerti gimana maksud papa?"Arya bingung dengan pertanyaan balik papa.
"Iya,apa kamu sudah bisa mengerti dia sedangkan kamu menginginkan dia mengerti kamu?"Arya merasa tertampar dengan ucapan papa.
"Mungkin dia masih membatasi hatinya layaknya bawahan dan atasan karna kamu pun belum mengungkapkan rasa yang kamu miliki untuk dia."Imbuh sang papa yang membuat Arya makin terdiam dan mulai berpikir keras.
__ADS_1
"Mungkinkah aku sudah mulai ada rasa padanya?ah,tapi itu tak mungkin.Pasti ini hanya karna terbawa suasana.Mungkin karna biasa bersama selama dua bulan ini membuatku merasa nyaman.Ya,pasti itu."Masih tak terima dengan apa yang ia rasa.
"Terkadang kita baru akan menyadari disaat kita sudah kehilangannya."Papa Jaya kembali memancing respon Arya.
"Tapi pa...kita sudah dewasa,apa iya semuanya harus di katakan.Apa tindakan tidak cukup untuk mewakilinya?"Arya mulai merasa takut akan kehilangan Rania.
"Masuk jebakan papa kamu Arya,lucu sekali kamu.Seorang CEO sukses tapi tak bisa mengungkapkan perasaan pada wanita yang sudah berstatus istrinya sendiri."Papa Jaya menahan diri untuk tidak menertawakan sikap kekanak-kanakan Arya.
"Memang Arya,tak harus semuanya di ucapkan.Tapi terkadang wanita perlu pengakuan dan kepastian.Supaya ia tak salah mengartikan."
"Lalu Arya harus gimana dong pa...?"Arya kembali diserang panik.
"Kamu cinta sama dia?"
"Emm...mungkin belum deh pa.Mungkin karna terbiasa aja."Arya masih tak mau mengakui.
"Terkadang cinta itu bisa tumbuh karna terbiasa."
"Belum bisa dikatakan cinta pa."
"Lalu menurutmu seperti apa itu cinta?Seperti apa yang terjadi antara kamu dan mantan kamu itu?Apa kamu masih mengharapkannya?"Papa Jaya mulai serius.
"Pa...apaan sih,hubungan Arya dan dia sudah berjalan lama pa...pasti tak semudah itu untuk melupakannya,tapi sampai kapanpun Arya pastikan,Arya gak akan pernah kembali padanya?"
"Benarkah begitu?Apapun alasannya?"
"Ya,apapun alasannya!"Arya bicara dengan nada yang mantab.
"Jika begitu,yakinkan hatimu.Sebelum kamu kehilangan wanita terbaik dalam hidupmu!"
Papa Jaya pergi meninggalkan Arya yang masih mencerna ucapan demi ucapannya.
Arya menjambak rambutnya frustasi.
Ternyata semua terasa berat.
Berat untuk mengerti hatinya sendiri,juga berat untuk mengerti bagaimana perasaan Rania padanya yang sesungguhnya.
Ia kembali ke kamar dan segera masuk kamar mandi.Mengguyur seluruh tubuh dan rambutnya dengan air dingin.
Berharap dinginnya air mampu mendinginkan panasnya kekalutan yang sedang ia rasa.
__ADS_1