
Malam mulai menjelang.Udara terasa dingin karna baru saja hujan turun dengan derasnya.
Sholat isya' berjamaah selesai dilaksanakan.
Arya sibuk berkutat dengan hp nya.
Sedangkan Rania mulai merawat wajahnya seperti biasa.
Saat sedang asyik perawatan rutin untuk wajahnya tiba-tiba Arya mendekat dan memeluk dari belakang.Kedua tangannya melingkar di perut Rania.Menempelkan dagunya di pundak sang istri dengan manja.
"Sayang...."Bicara tepat di samping telinga Rania.Membuat bulu kuduknya merinding dibuatnya.
"Ada apa mas?"Hanya berani melirik lewat kaca cermin rias di depannya.
"Boleh kan?"Tanya Arya.Bibirnya mulai menempel di leher putih milik Rania yang sudah tak tertutup jilbab.
"Boleh apa sih mas...ihhh...geli tau."Sedikit menjauhkan diri dari Arya.
"Bikin anak!"Ucapnya tanpa basa basi.
Membuat Rania malu sekali.
Bisa-bisanya seorang CEO dingin itu berubah jadi begitu ceplas ceplos saat bicara berdua dengan istrinya.Sungguh jauh sekali dari sikapnya sehari-hari disaat bekerja.
"Apa sih mas..."Memegang kepala Arya,memintanya untuk menghentikan keisengannya.
"Sayang,boleh kan aku meminta hak ku?"Arya memohon.
"Mas,emm mas be-ne-ran?"Tanya Rania terbata karna Arya kembali menciumi lehernya.
"Tadinya aku ingin melakukannya setelah nanti acara resepsi,tapi maaf,sepertinya aku sudah tidak bisa menunda lagi.Boleh ya..."Memohon kembali.
Meskipun malu tapi mau gak mau Rania harus menganggukkan kepalanya.Ia tak mungkin bisa lagi menolak suaminya yang menginginkan haknya.
Selama jadi istrinya selama empat bulan Arya selalu memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.Yaitu menafkahi penuh sang istri dan tak pernah sekalipun berlaku kasar padanya.Untuk itu tak ada alasan bagi Rania untuk menolaknya.
Setelah membaca doa diujung kepala sang istri,Arya memulai penyatuan mereka dengan penuh kasih.
Malam ini menjadi malam panjang bagi mereka.Malam pertama untuk pengantin yang sudah resmi menikah selama empat bulan lamanya.
Serasa baru saja memejamkan mata tapi Arya sudah membangunkan Rania.Ternyata sudah tiba saatnya sholat subuh.
"Sayang...bangun..."Arya mencium pipi Rania.
Mencoba membangunkannya yang sepertinya enggan untuk membuka mata.
"Sayang,cepetan mandi...waktu sholat subuh sudah hampir habis."Mendengar ucapan Arya maka Rania membuka matanya dengan lebar.
__ADS_1
Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan waktu subuh sedikit terlewat.
Lalu melihat Arya yang sudah rapi dengan rambut yang masih basah.Mempertandakan jika Arya baru saja selesai mandi.
"Mas sudah mandi?"Tanyanya meskipun sudah jelas jawabannya.
"Iya,kamu buruan mandi.Sudah aku siapkan air hangatnya.Keburu habis waktunya subuh."Kembali mengusap pipi Rania sambil tersenyum.
Rania jadi malu sekali.Baru kali ini dia bangun terlambat.Bahkan suaminya sudah mandi dan rapi dengan baju Koko serta sarung bersiap untuk melaksanakan sholat subuh.
"Maaf ya mas aku telat bangun."Tersenyum malu tanpa berani melihat sang suami.
"Iya gakpapa.Sana cepetan mandi."Suruh Arya.
"Iya mas."Rania harus buru-buru bangun untuk mandi,tapi baru saja ia menggerakkan tubuhnya ia meringis merasakan tubuh bagian intinya terasa begitu perih.Memaksakan untuk segera bangun tapi ternyata seluruh tubuhnya pun terasa sakit semua.
"Auuu..."Kembali meringis merasakan tubuhnya yang tak karu-karuan rasanya.
"Kenapa sayang?"Arya mengerutkan keningnya melihat sang istri yang sepertinya sedang kesakitan.
"Sakit mas."Jawabnya sambil meringis lagi.
"Mananya yang sakit...hemm?"Melihat dari atas sampai ke bawah,mencari tau bagian mana yang di bilang sakit oleh sang istri.
"Seluruh tubuhku rasanya sakit semua.Pegal-pegal."Hanya tubuhnya saja yang dia sebut.Tak berani menyebutkan hal yang lebih spesifik lagi karna malu.
"Jangan mas,lebih baik aku mandi saja,keburu waktunya subuh habis."Sekuat tenaga Rania mencoba bangun dari tidurnya.
Baru saja ingin melangkah dari ranjang tapi Rania kembali merasakan perih lagi.Terasa sangat sakit jika digunakan untuk berjalan.
"Aduh!"Menahan rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan.
"Sini aku gendong."Tanpa menunggu jawaban sang istri Arya langsung menggendongnya menuju kamar mandi.
"Eh,gak usah mas...aku bisa jalan sendiri kok."
"Gakpapa...udah jangan banyak gerak,nanti jatuh lhoh..."Akhirnya kedua tangan Rania berpegangan erat pada leher suaminya.
Membuka pintu kamar mandi lalu menurunkannya di samping bathub.
"Udah mas keluar dulu ya,aku gak lama kok mandinya.Tunggu sebentar ya..."Rania menyuruh Arya keluar dari kamar mandi tersebut.
"Emang bisa mandi sendiri?Sini aku mandiin."Hendak melepaskan baju sang istri.
Namun dengan segera Rania melarangnya.
"Gak usah mas,mas tunggu di luar aja.Aku bisa kok sendiri."Memegang erat baju yang ingin di tarik oleh Arya.
__ADS_1
"Lucu kamu,masih malu aja sama suami sendiri.Kan aku sudah melihat semuanya."Arya sengaja menggoda Rania.Membuatnya tersipu malu.
"Ihhh...mas Arya...keluar dulu dong...tar keburu siang lho..."Mendorong tubuh Arya untuk segera pergi.
"Ya udah,aku tungguin di luar ya..."Arya pun pergi sambil tersenyum.
"Iya..."
Setelah Arya sudah keluar,Rania segera mandi besar.Lebih tepatnya mandi besar yang cukup singkat karna tak mau ketinggalan waktu sholat subuh.
Selesai mandi mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah di dalam kamar.
Usai sholat Rania merapikan kembali mukena dan sajadah yang ia gunakan.
Melihat ranjang yang masih berantakan ia berniat ingin merapikannya.
Saat mulai merapikan selimut ia melihat ada noda merah di atas seprei.
Arya yang membantu merapikan seprei pun ikut melihatnya.
Arya tersenyum teringat apa yang sudah terjadi semalam.Kini Rania sudah dimiliki sepenuhnya oleh Arya,dan berharap akan segera ada janin yang tumbuh di dalam rahim sang istri.
Rania yang menyadari hal itu segera menarik seprei tersebut.Menggantinya dengan seprei bersih yang lain.
Rania yang masih merasakan lelah yang teramat di tubuhnya meringkuk sebentar di atas seprei yang baru saja di gantinya.
Karna terlalu capek ia pun tertidur kembali.
Arya yang tadinya sedang mengecek laptopnya segera menutupnya kembali melihat istrinya tertidur kembali dalam keadaan meringkuk.
Arya menyusul istrinya yang sedang tidur.
Ikut tidur di sampingnya lalu menarik selimut guna menutupi tubuh mereka berdua.
Arya memeluk Rania dengan penuh kelembutan.Hingga mereka kembali tertidur bersama di pagi yang mulai menjelang.
Saat jam sarapan tiba mbok Jum diutus untuk memanggil Arya dan Rania.
Akhirnya mbok Jum naik ke lantai atas menuju kamar Arya.
Mengetuk pintu pelan sambil memanggil nama Arya.
"Mas...mas Arya,mbak Rania..."Ucapnya membangunkan Arya dari tidurnya.
Sedangkan Rania sama sekali tak bergerak,ia masih tidur begitu lelapnya.
Arya segera turun perlahan dari ranjang lalu berjalan menuju pintu kamar.
__ADS_1
Membuka pintu lalu di lihatnya mbok Jum sedang berdiri di depan pintu.