
Hari terus berlalu.
Rania benar-benar membuktikan ucapannya.
Ia menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja.
Pagi ini Rania ingin bersantai di kost.
Setelah beberapa minggu ini padat dengan jadwal lembur.
Selesai mandi Rania sarapan pagi.
Setelah perutnya kanyang ia bersantai sambil nonton tv.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan kost Rania.
Rania segera melihatnya dari balik jendela.
Dan ternyata nenek Adiyasa yang datang.
"Saya mau di sini dulu.Kamu pulang saja.Nanti saya di jemput Arya."Nenek berkata pada sopir pribadinya.
"Baik Bu...saya permisi dulu."
Lalu mobil mulai berjalan pergi dari depan kost'an.
Rania segera keluar menyambut nenek.
Membuka pintu lalu berjalan keluar.
"Nenek...masuk Nek..."
"Rania...baru aja nenek mau telphon kamu.Takut lagi keluar."
"Ah,enggak kok nek...Rania pengen santai di rumah.Capek habis lembur terus."Rania menggandeng nenek masuk rumah.
"Duduk sini Nek."Rania menunjukkan tempat duduk lesehan.
"Maaf ya nek...adanya cuma begini...maklum anak kost."Rania tersenyum malu sambil membersihkan karpet bulu yang sering ia gunakan sebagai alas duduk saat nonton tv.
"Iya gapapa."Nenek pun duduk dengan nyaman.
"Nenek mau minum teh hangat?"
"Boleh...Jangan manis-manis ya..."
"Siap Nek..."
"O iya,jangan lupa bawa piring sama sendok ya.Tadi nenek beli kue.kita icip bareng."
"Iya Nek..."
Rania pergi ke dapur mini yang ada di kost nya.
Semenjak ia pindah kost yang baru,ia jadi lebih mandiri.
__ADS_1
Ia merasa nyaman seperti punya rumah sendiri.
Ia selalu rajin membersihkan rumah dan mulai mengisi alat dapur.
Ia sudah jarang beli makan diluar.
Lebih suka masak sendiri.
Meski hanya di makan sendiri,tapi ia bisa pilih menu yang ia suka.
Tidak seperti jajan di warteg.
Yang biasanya menunya hanya itu-itu saja.
Selesai membuat teh dan tak lupa membawa piring,Rania kembali menghampiri nenek yang sedang duduk.
"Nenek...kok repot,pakek beli kue segala..harusnya kan tamu di siapin,lha ini malah nenek yang nyiapin...Rania kan jadi gak enak..."Rania menyerahkan teh pada nenek.
"Gapapa...kayak sama siapa aja..."Nenek menerima teh dari Rania lalu meminumnya.
"Enak...Ngomong-ngomong rumah kamu bersih.Kamu rajin beberes ya?"Nenek melihat rumah Rania yang bersih dan nyaman.
Meski tempatnya kecil tapi karna tidak banyak barang justru terlihat rapi.
"Ya gitu lah Nek..tiap libur pengennya bersih-bersih rumah.Terus kalo pas ke pasar pengennya beli perlengkapan dapur.Kadang jadi kalap belanja Nek...hehehe..."Rania memotong kue dan di taruh di piring nenek juga piringnya.
"Emang kamu masak sendiri?"
"Iya Nek,selain ngirit juga bisa pilih menu sesuka Rania."
"Berarti pinter masak dong."
Kan dimakan sendiri.Jadi kalo hari ini belum bisa enak berarti besok di perbaiki lagi."
"Pinter kamu."Nenek mengusap ujung kepala Rania yang tertutup jilbab.
"Ah nenek...biasa aja kok nek.Kalo di rumah kampung tuh dari SD dah di suruh belajar masak Nek."
"Oya,kamu juga?"
"Ya kadang sih Nek.Paling tidak ya bantu-bantu ibuk lah."Rania mengingat Bapak ibunya di kampung.
Ia belum berani pulang dan bicara jujur sama orangtuanya.
Tentang hubungannya dengan Dery yang sudah kandas.
Entah sampai kapan ia akan berani jujur pada orang tuanya.
Sebab orang tuanya sudah berharap banyak dengan Dery.
Dan yang orang sekampung tau,Dery bakal jadi suami Rania.
"Rania,enak gak kuenya."Nenek sengaja bertanya ketika melihat Rania melamun.
"Eh,enak Nek.Enak banget.Ini beli di tempat langganan nenek itu ya?"Rania segera menghapus pikirannya yang terbang ke kampung.
__ADS_1
"Iya,ini menu baru."
"Ow...enak banget Nek."Rania mangut-mangut.
"Rania,kamu baik-baik saja?"
Rania tersedak kue mendengar ucapan nenek.
Ia taruh piringnya lalu mengambil minum air putih.
Setelah minum ia bertanya balik pada nenek.
"Maksud nenek?"
"Nenek sudah tau semuanya.Tentang kamu dengan mantan kamu yang menikah dengan teman kamu yang hamil duluan itu."Nada bicara nenek terlihat geram.
Rania sudah menebak jika nenek tau semuanya.
Ia tak lupa jika nenek Adiyasa adalah orang yang tak hanya memiliki uang banyak,tapi ia juga memiliki kuasa yang cukup besar di kota S.Jadi bukan masalah besar untuknya mengetahui hal yang ingin ia cari tau.
"Nek...Rania baik-baik saja kok.Intan adalah sahabat Rania.Dia adalah korban disini Nek.Untung saja Intan termasuk wanita yang kuat.Rania Ikhlas kok nek kalo mereka bahagia."Rania berusaha tegar.
"Itu cowok brengsek ya.Untung aja gak kena kamu.Coba kalo kamu,udah di hamilin,gak di restuin ibunya yang matre itu.iih...amit-amit deh."Nenek merasa jijik dengan sikap Bu Herman.
"Rania juga bersyukur Nek soal itu.Tapi justru itu,Rania kasihan sama Intan.Semoga aja Intan kuat ya nek."Rania tak bisa bayangkan jika berada di posisi Intan.
"Terus kamu sudah bilang sama keluarga kamu di kampung?"
"Emmm belum Nek."
"Kenapa belum,semakin cepat semakin baik..."
"Iya,Rania cari waktu yang tepat dulu.Mau pulang juga belum sempet,habis lembur terus."
"Oiya Rania...Minggu depan Arya mau nikah.Kamu datang ya."
"Oh iya,cepet banget ya.Pak Arya udah bilang pas datang ke resepsinya Intan waktu itu.Tapi Rania lupa."
"Eh iya,Arya undang kamu?"Nenek heran.Tidak biasanya Arya sedekat itu dengan wanita,sampai mengundangnya di acara ijab Qabul yang hanya di hadiri keluarga dekat saja.
"Waktu itu pak Arya bilang mau ijab Qabul gitu.Terus Rania di suruh dateng."Jawab Rania dengan polosnya.
"Ah iya.Besok itu baru ijab Qabulnya dulu.Dan hanya di hadiri keluarga terdekat saja.Untuk acara resepsinya masih belum tau mereka maunya kapan."
"Lho...kalau cuma di hadiri keluarga terdekat saja apa iya Rania harus datang Nek..."Tanya Rania ketika ia sadar dengan ucapan nenek.
"Ya harus datang dong...kan kamu juga keluarga dekat.Udah gitu di undang langsung sama pengantinnya lagi.Jadi ya harus tetep datang.Gak ada penolakan pokoknya."
"Sebenarnya nenek masih belum rela kalo Arya nikah sama Sesil."Nenek bicara sambil pikirannya menerawang memikirkan Arya.
"Emang kenapa nek...?"
"Ya gak tau,kurang sreg aja."Nenek menaikkan bahunya.
"Yang menjalani kan pak Arya sama mbak Sesil Nek...Nah...nenek tinggal merestui aja...biar keluarga yang mereka bina nanti bisa jadi keluarga samawa Nek.."
__ADS_1
Nenek semakin kagum dengan Rania.Selain dia baik dia juga selalu berpikir positif.
Apalagi setelah dia berhijab.Penampilannya semakin anggun seanggun hatinya.