
"Mas Dery mau kemana?"Pertanyaan Intan menghentikan langkah kaki Dery yang sedang membuka pintu kamarnya.
"Katanya di suruh makan."Dery merasa kesal dengan Intan.Ia yang sudah menyuruh Dery makan,tapi dia juga yang bertanya lagi.
"Oh,iya.Ya udah yuk Intan temenin."Intan melingkarkan tangannya di pundak Dery.
"Aku gakpapa kok sendiri."Tolak Dery.
Namun bukan Intan namanya jika ia harus menyerah dan berdiam diri.
Ia tetap berjalan mengikuti Dery tanpa melepaskan tangannya yang berada di bahu Dery.
"Gakpapa mas,Intan buatin kopi sekalian bikin susu."Tersenyum sambil terus berjalan di samping Dery.
Selama menikah sampai sekarang Dery masih bersikap cuek terhadap Intan.Namun ia tak menolak jika Intan menunjukkan rasa sayangnya dan ingin dekat dengan Dery.
Dery memang belum bisa mencintai Intan,namun ia juga tak bisa bersikap kasar terhadap Intan.
Ia tak bisa terus menyalahkan Intan yang sudah jadi korban dari kesalahannya.
Apalagi jika melihat pengorbanan Intan yang rela mempertahankan janin yang di awal kehamilannya sangat lemah.
Intan sampai harus rawat inap di rumah sakit selama dua minggu dan bedrest yang cukup lama di rumah.
Apalagi mengingat sambutan yang tidak ramah dari ibu dan mbak Desy,Intan masih tetap bertahan dan tersenyum.
Meski ia tau jika saat itu Intan sangat terluka.
Dery sering melihat Intan yang sering menangis disaat ia sedang di kamar sendirian.
Mulai saat itu Dery tak lagi mengeluarkan kata-kata kasar dan menyalahkan Intan.
Ia merasa kasihan.Ya,hanya sebuah rasa kasihan.
Jika tiba saatnya nanti ia tetap akan melepaskan Intan.
Membiarkan Intan mendapatkan kabahagiaannya sendiri dengan orang lain.
Bukan dengannya yang hatinya masih setia untuk Rania seorang.
Sesampainya mereka di ruang makan Dery segera membuka tudung saji yang berada di atas meja.
Sedangkan Intan berjalan ke arah kompor dan menyalakannya untuk merebus air untuk bikin kopi.
"Intan,mana makanannya?"Dery tak menemukan makanan yang di maksud Intan.
"Itu mas...masih di dalam bungkusan."Menoleh sebentar lalu mengambil gelas.
"Mana,gak ada kok."
"Cari yang benar mas....di samping lauk itu lho..."Sambil sibuk membuka bungkus susu ibu hamil.
"Gak ada."Dery kesal karna tak menemukannya.
"Masak sih?"Intan berbalik badan lalu mendekati Dery.
__ADS_1
"Mana?"Dery menggeser-geser lauk dan sayur yang berada di meja.
"Lhoh...tadi disini kok.Beneran deh."Intan menutup tudung saji lalu dibuka lagi.
Ia pun heran.Ia tidak salah menaruh.Ia yakin tadi ia taruh disitu masih utuh dengan bungkus plastiknya.
"Ah,kamu."Dery semakin kesal.Ia duduk dengan sedikit keras menjatuhkan tubuhnya di kursi makan.
"Beneran kok mas,coba aku tanya ibu dulu deh.Tadi ibu juga lihat kok."
Setelah menuang air yang sudah mendidih Intan berjalan mencari ibu.
Dery yang ingin tahu pun mengikuti Intan mencari ibu.
Mencari ke ruang keluarga ataupun ruang tamu tapi mereka juga tak menemukan ibu.
Berjalan ke ruang belakang.Tempat dimana biasanya mereka gunakan untuk bersantai.
Dari ruang santai itu terdengar seperti suara sendok yang sedang beradu dengan piring.
"seperti ada orang yang lagi makan."
Intan mendekat ke arah sumber suara.
Dan suaranya semakin lama semakin terdengar jelas.
Berdiri di belakang pintu.Intan berhenti disitu tak lagi melanjutkan langkahnya
ketika melihat ibu sedang makan dengan lahap.Jika dilihat lagi makanan yang ibu makan ternyata adalah gado-gado yang sedang mereka cari.
"Ssstt...."Intan menaruh jari telunjuk di depan bibir.
Intan menujuk ibu yang sedang makan,
"Ibu yang makan gado-gadonya."
Intan tersenyum.Ternyata ibu juga mau sama makanan pinggir jalan.
Dery berjalan mendekati ibunya,"Ibu makan gado-gado Dery ya?"
Seolah tak ingin kalah Dery mencoba merebut piring sang ibu.
Namun sayang,ketika Dery dapat merebutnya dengan susah payah ternyata piringnya kosong.
Gado-gado nya sudah habis di makan ibu.
Menyisakan piring dan sendok kotor bekasnya makan.
"Yaaahhh....kenapa di habiskan Bu..."Protesnya dengan wajah lesu.
"Tadi Intan bilang suruh makan ibu."Pembelaan sang ibu.
"Tapi kan mau Dery makan."
"Salah siapa tadi nyuruh ibu makan.Istrimu itu yang aneh.Nawarin ibu tapi juga nawari kamu."
__ADS_1
Masih terus mencari pembelaan diri.
"Tadi ibu bilang gak mau makan makanan pinggir jalan,makanya Intan manggil mas Dery buat makan gado-gadonya."
"Halahh...cuma makanan kayak gitu aja kok di ributin.Rasanya juga gak enak kok."Melengos lalu pergi.Saking malunya.
"Gak enak tapi di habisin."Dery kesal.
Ibu sedikit tersenyum tanpa menoleh ia buru-buru pergi.
"Ya udah gakpapa mas.Makan nasi sama sayur di rumah juga ada kok.Yuk Intan temenin."Ajak Intan.
"Gak mau.Pokoknya aku mau gado-gado yang seperti tadi."Manyun dan kesal.
Entah kenapa Dery ingin sekali makan gado-gado tadi.
Apa mungkin efek ngidam seperti yang di rasakan Intan?
Baru melihat saja rasanya sudah pengen makan.
"Emmm....gimana kalo kita beli lagi aja mas.Deket kok dari sini."Usul Intan.
"Beneran jam segini masih?"Dery melihat jam yang sudah hampir tiba waktu magrib.
"Biasanya masih kok."
"Ya udah cepetan."Dery sudah tak sabar.Jangan sampek ia terlambat dan melihatnya sudah tutup.
"Intan ganti baju dulu."Intan buru-buru masuk kamar.Ganti baju lalu mengambil dompet.
"Ayo mas."Intan datang sudah dengan pakaian sopan sambil tersenyum senang.
Pasalnya baru kali ini ia akan jalan-jalan keluar berdua dengan Dery.
Ya...meskipun hanya membeli gado-gado.
Tapi itu sudah sangat membuat Intan bahagia.
"Kita jalan kaki saja mas,deket kok.Cuma sekitaran area kampus."
"Gak ada,kita naik sepeda saja.Aku gak mau kita telat sampek sana terus gak kebagian gado-gadonya."Dery sudah duduk di atas sepedanya yang tadi ia keluarkan dari garasi.
"Ya sudah lah,terserah mas Dery saja."
"Yang penting jadi keluar berdua."Imbuhnya dalam hati.
Intan kemudian membonceng di belakang.
Sepeda mulai dinyalakan mesinnya dan berjalan dengan santai menuju pedagang gado-gado.
"Wuihhh...romantis banget.Baru kali ini bisa berduaan dengan mas Dery.Hihihihi...."
Intan tersenyum lebar.Kemudian kedua tangannya melingkar dengan sangat hati-hati di pinggang Dery.
Menikmati sore hari yang terasa begitu indahnya.
__ADS_1
Merasa tak ada penolakan dari Dery,Intan pun mengeratkan pelukannya sambil kepalanya diam-diam disandarkan di punggung Dery.
Sebenarnya Dery merasa risih,tapi ia diam saja tanpa mau merespon hanya demi keamanan Intan supaya tidak terjatuh jika melewati jalanan tengah komplek yang banyak terdapat polisi tidurnya.