
Mengingat perbincangannya dengan Intan tadi membuat Rania tidak fokus.
Ia masuk kamar dengan sedikit melamun,alhasil dia menabrak Arya yang berdiri di depannya.
"Auuu..."Rania mengusap keningnya.
"Kalau jalan jangan sambil menunduk,apalagi melamun."Arya menatap Rania.
"Maaf pak."
"Pak pak.Sampai kapan kamu memanggilku pak?Aku ini suami kamu."Ya,selama ini Rania hanya memanggil mas pada Arya saat di depan orangtua dan neneknya.
"Maaf."Jawabnya pasrah.
"Selalu saja minta maaf.Di depan nenek dan mama papa kamu bisa panggil aku mas,kenapa saat berdua kamu kembali panggil pak?"
"Hah..."Rania melongo mendengar protes dari Arya.
"Emang aku bapak-bapak?"
"Terus mau di panggil apa?"Rania tak ingin berdebat.Kebiasaan baru Arya adalah sering usil dan berdebat kecil dengan Rania.
"Ya dipikir aja sendiri.Aku ini siapa kamu?"Arya benci dengan sikap Rania yang di pikirnya tidak menganggap Arya suami yang sesungguhnya.
"Su-suami."
"Nah,itu tau."
"Tapi..."
"Tapi apa?Kamu gak suka jadi istriku?Sehingga dengan sahabat kamu sendiri kamu tidak mengakui hubungan kita."Omelan Arya semakin panjang.
"Bukannya pak Arya sendiri yang menginginkan hubungan kita tidak banyak yang tau?"Rania sedikit marah dengan ucapan Arya yang menurutnya menyudutkannya.
"Sekalipun itu dengan sahabat dekat kamu?"Ucapan ketus itu mampu membuat Rania meneteskan air matanya.
"Kamu ingat ucapanku?Meskipun pernikahan kita bukan keinginan kita,tapi aku tidak pernah menganggap hal yang sah itu sebagai sebuah permainan."Kembali Arya menegaskan ucapannya.
"Iya,sekalipun itu hanya sebagai percobaan selama enam bulan.Dan setelah mantan kamu datang kamu akan pergi begitu saja bersama dia dan menganggapku tak pernah ada!"Serangan balik dari Rania membuat Arya pun marah.
Baru sekali itu Rania berani mengungkapkan perasaannya dan seberani itu bicara biasa layaknya suami istri,bukan seperti biasa Rania yang menganggap Arya sebagai bos nya.Dengan susah payah ia selalu mengendalikan hatinya untuk tidak jatuh hati pada Arya.
Beda halnya dengan Arya.Ia ingin marah,mendengar Rania yang bicara bahwa ia akan kembali dengan Sesil.
Karna bagi Arya,sekali dia di sakiti maka tak akan pernah ia mau kembali.
Sekalipun ia gagal mempertahankan rumah tangganya,tapi tak ada niat Arya untuk kembali pada mantan yang sudah meninggalkannya.
Arya begitu kecewa dengan Rania.
Ia berjalan cepat mengambil bantal di tempat tidur.Kemudian berjalan kembali menuju ruang ganti.Membuka lemari dan mengambil selimut tipis.
Ia melemparkan bantal ke sofa yang berada di sudut kamar.
Tak lama kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa itu.
Menarik selimut lalu tidur dengan sembarang.
__ADS_1
Rania ganti baju tidur lalu membersihkan wajahnya.
Selesai dengan kegiatan rutin merawat wajahnya.
Rania pun mulai berbaring di ranjang.Menutupi tubuhnya dengan selimut.
Ia mencuri pandang melihat Arya yang marah dan tidur di sofa.
Ada rasa tak biasa dalam hatinya.
Entah karna apa,semenjak menikah mereka selalu tidur berdua dalam satu ranjang.
Meski masih dibatasi guling tapi sering kali mereka terbangun dengan keadaan saling berpelukan.
Mungkinkah kebiasaan itu sudah membuat Rania merasa nyaman?
Hingga saat tidur sendiri membuatnya tak bisa benar-benar tidur.
Berulang kali Rania melihat ke arah Arya.
Seluruh tubuhnya tertutup oleh selimut.
Sesekali terlihat bergerak lalu memiringkan tubuhnya memunggungi posisi Rania.
Ingin ia mendekat dan memeluk Arya,namun siapalah dia.
Dia takut jika Arya semakin marah padanya.
Namun tidur sendirian membuatnya gelisah.
Rania kembali mengingat perdebatan tadi.
Baru kali ini mereka berdebat yang ujungnya harus tidur terpisah.
Rania menangis di balik selimut yang baru saja ia tarik hingga ke ujung rambutnya.
Menyesali ucapannya yang menyangkut mantan Arya hingga membuatnya tak bisa tidur sampai larut malam.
Di balik selimut yang berbeda Arya mendengar suara Isak tangis lirih.
Ia yakin Rania sedang menangis.
Ingin sekali mendekat dan memeluk guna menenangkannya,tapi ia pun masih marah.
Lebih tepatnya kecewa.
Biarlah menjadi pelajaran bagi Rania jika ia tak suka jika nama mantannya kembali di ingatkan dalam hidupnya.
Sama halnya dengan Rania,Arya pun sebenarnya tak bisa tidur.
Ia tidur miring supaya Rania tak melihatnya yang masih setia membuka mata.
Rupanya bisa memandang Rania yang sedang tidur pulas membuatnya merasa nyaman.
Hingga kedamaiannya pun menular di mata dan hatinya.
Setelah puas melihat wajah cantik Rania ia bisa tidur dengan pulas.
__ADS_1
Terbukti saat sekarang dia tak lagi sedang memandangnya ia tak bisa tidur.
Pagi harinya keduanya sama-bangun kesiangan.
Arya tak bisa menjalankan sholat berjamaah seperti biasa.
Selesai sholat sendiri-sendiri mereka keluar dari kamar.
Arya menemui papa yang sedang olahraga ringan di ruang olahraga.
Rania juga pergi ke dapur seperti biasa.
Sejak resmi menikah dengan Arya setiap pagi Rania selalu menyempatkan diri untuk ikut memasak sambil belajar banyak masakan sesuai selera keluarga Adiyasa.
Meskipun ada koki khusus yang di tugaskan di rumah tapi Rania masih ikut memasak dengan alasan ingin belajar.
"Lhoh...mbak Rania kenapa,kok matanya bengkak?"Koki di rumah itupun bertanya.
"Eh iya,mata mbak Rania bengkak."Mbok Jum ikut menimpali.
"Masak sih mbok...enggak kok..."Rania kaget.Ia tidak sempat bercermin karna bangun kesiangan.Dia langsung wudhu dan sholat tanpa melihat cermin.
Rania memegangi kedua matanya.
Memang terasa agak berat saat berkedip,tapi ia tak sampai berpikiran jika matanya ternyata bengkak.
"Iya lho mbak...coba sini bercermin dulu deh mbak."Mbak Tutik selaku koki rumah Adiyasa.
Rania yang terkenal ramah,sopan dan rendah hati itu sudah biasa akrab dengan para pembantu di rumah Adiyasa.
Semua art senang dengan keluarga Adiyasa.
Apalagi mempunyai menantu seperti Rania,mereka semakin nyaman karna tak pernah sekalipun di rendahkan meski mereka semua adalah pembantu.
Mbak Tutik mengambilkan cermin untuk Rania.
Dan benar saja,ternyata kedua matanya bengkak.
Mungkin karna semalam ia menangis dan tak bisa tidur hingga larut malam.
"Benar kan mbak...mbak Rania habis nangis?"Tanya Mbak Tutik sambil memegang dagu Rania.
"Enggak kok mbak...mungkin ini kelilipan.Iya,pasti kelilipan."Rania mencari alasan.
"Masak kelilipan dua duanya mbak..."Mbak Tutik tidak percaya.
"Iya,gak mungkin mbak..."Mbok Jum pun tak percaya.
Mendengar kehebohan yang terjadi di dapur,mama Anita yang ingin mengambil minum pun mendekat.
"Ada apa ini,pagi-pagi kok rame banget."
"Ini lho buk...mbak Rania..."
"Eh mama,enggak kok ma,ini kita lagi bercanda."Rania segera menyela ucapan mbok Jum.
"Rania kenapa mbok?"Mama Anita ikut penasaran.
__ADS_1