
Pagi ini semua tetap berjalan seperti biasanya.
Arya tetap berangkat bekerja satu mobil dengan Rania.
Dan Rania pun sama seperti biasa juga,ia tetap turun di pinggir jalan raya.Supaya tak ada yang curiga dengan hubungan mereka.
Meski satu mobil berdua tapi kali ini tak ada sedikitpun obrolan antara mereka.
Rania bekerja seperti biasa,namun tidak dengan Arya.
Arya sama sekali tak bisa fokus.
Setengah hari ia lewati dengan uring-uringan.
Tak jarang asisten Roy kena semprot kemarahan Arya.
Tiba saat istirahat biasanya asisten Roy selalu mengirim pesan pada Rania untuk tidak lupa menemani Arya makan siang di ruangannya.
Tapi kali ini tak ada pesan masuk.
"Rania,kamu gak makan sama Intan?"Maya heran,biasanya Rania pamit makan bersama Intan pada saat jam istirahat tiba.
Ya,Rania menutupi semuanya sedemikian rupa.
Tak ingin ada yang tau Rania selalu bilang makan bersama Intan saat jam istirahat,padahal semua temannya di satu ruangan selalu makan di tempat dengan jatah makan yang mereka dapatkan dari pabrik.
Alih-alih makan bersama Intan,justru waktunya bersama Intan semakin jarang demi kemauan sang bos yang sekaligus suaminya itu.
"Ditanya malah bengong."Maya memegang bahu Rania yang terlihat sedang melamun.
"Ah iya mbak,ini mau makan...sama Intan."Mengambil Kotak nasi lalu berlalu.
"Iya ya,kenapa gak makan sama Intan aja.Kan kesempatan.Jarang-jarang sekarang bisa makan sama Intan.hihihi..."Rania berjalan sambil sesekali tersenyum.
Ia mulai berjalan ke lantai bawah dan menyusuri lorong menuju tempat bagian kerjanya Intan.
Saat tak menemukan Intan di sana akhirnya Rania berinisiatif mencari Intan ke kantin.
Dan benar saja,terlihat Intan duduk sendirian di pojok kantin.Tempat biasa yang mereka duduki saat makan.
"Hai.Bumil kok sendirian aja,boleh aku temenin gak?"Rania mengagetkan Intan yang sedang asyik makan.
Intan pun menoleh saat mendengar suara temannya yang sekarang jarang bisa bertemu itu.
"Rania,tumben kamu kesini pas jam makan siang?Apa gak sedang nemenin pak..."
Rania segera menutup mulut Intan dengan kedua tangannya sebelum ucapannya di dengar banyak orang.
"Ssuttt...ngomong apaan sih."Rania bicara dengan setengah berbisik pada Intan sambil melepaskan tangannya dari mulut Intan.
__ADS_1
"Eh iya.Lupa.Hihihi..."Intan tertawa sambil mencubit pipi Rania.
Rania mendengus kesal dengan mulut di buat manyun.Ia pun duduk di sebelah Intan.
"Iya maaf...tapi kok kamu kesini?"Kali ini Intan bertanya dengan nada pelan.
"Kenapa?Gak suka aku temenin makan?Ya udah deh aku balik."Rania hendak berdiri namun di tahan oleh Intan.
"Gitu aja ngambek...Sini buka makanan kamu.Pasti makanan staf jauh lebih enak."Intan merebut kotak makan Rania lalu membukanya.
"Apaan sih.Dasar bumil.Awas tuh gak cuma perut aja yang melar,tuh badan sudah pada melar semua.Liat tuh pipi,udah kayak bakpao aja."Rania geleng-geleng kepala melihat tingkah Intan.
"Biarin."Intan mengambil makanan Rania lalu dimakan.
Mereka berdua menikmati makan siang mereka sambil bercanda.
Tak lama kemudian datanglah pak Anton.Supervisor Rania saat di bagian finishing.
Melihat Rania yang sedang makan berdua dengan Intan pak Anton pun mendekat.
"Rania,tumben makan di kantin,boleh gabung gak?"Tanya pak Anton.
"Boleh pak,sini."Rania menunjuk bangku di sebelahnya yang masih kosong.
"Tumben makan disini Ran,kirain udah lupa sama kita-kita ya Tan."Sindir pak Anton.Dulu pak Anton sering ikut makan bareng Intan dan Rania.
"Iya tuh pak,sekarang sudah jadi i..."Intan hampir keceplosan lagi namun Rania dengan cepat menginjak kaki Intan sebelum ucapannya semakin kebablasan.
"Tau tuh pak,makan sambil ngomong ya gitu jadinya."
"Maksudnya sejak Rania jadi staf sudah mulai lupa sama kita."Intan meneruskan ucapannya.
"Ya,betul itu."Imbuh pak Anton.
"Ya gak gitu juga pak.Kadang males aja kesini.toh makanannya dah di anterin ke atas jadinya sering makan di tempat."
"Lha ini?"
"Mungkin lagi gak mood di atas kali pak makanya inget kita."Intan menghabiskan minumannya.
"Gak juga...lagi pengen aja."Jawab Rania.
Mereka bertiga melanjutkan makan sambil bercanda bersama.
"Huhhh kenyang.Aku duluan ya pak,Ran."Intan mengelus perutnya yang makin buncit karna kekenyangan.
"Kok udah habis aja sih Tan."Rania melihat makanan Intan yang sudah habis tak tersisa.
"Iya,mau ke toilet terus rebahan sebentar.Kalian habisin makannya dulu.Daahh..."Intan berdiri dan mulai berlalu.
__ADS_1
Tinggallah pak Anton dan Rania yang masih duduk berdua menghabiskan makannya.
Dari jauh Arya melihat Rania yang sedang duduk bersama pak Anton.
Yang tadinya berniat ke parkiran untuk mengambil dompet yang tertinggal di mobil,jadi berhenti saat melihat pemandangan yang membuatnya ingin marah.
Melihat Rania duduk berdua dan bisa tertawa lepas dengan orang lain membuat dadanya serasa sesak.
Selama jadi suaminya ia belum pernah melihat Rania selepas itu bercanda dan tertawa.
Ada rasa tak terima dalam hatinya.
Seharusnya ia yang berada di posisi itu sekarang.
Berdua dan bercanda bersama tanpa rasa canggung.
Arya mengepalkan tangannya erat.
Ingin marah tapi ia tak punya keberanian,mengingat pernikahan mereka yang tanpa cinta.
"Benarkah dia tak bahagia bersamaku?Hingga tertawa pun tak pernah dia perlihatkan padaku.
Atau...aku yang memang tak bisa membahagiakannya?Tak bisa membuatnya nyaman sampai tertawa selepas itu?"
Arya meninju tembok di sebelahnya.
Marah pada dirinya sendiri.
Sakitnya punggung tangan yang terbentur dengan tembok tak ia rasa.
Asisten Roy yang melihat itu segera mendekat pada pak Arya dan memegang tangannya.
Memastikan ada luka atau tidak disana.
Merah memang pada punggung tangannya namun tak ada darah dan tak ada luka hanya sedikit goresan-goresan kecil yang terlihat.
"Pak Arya gak apa-apa?"Asisten Roy semakin bingung saat Arya yang masih terdiam sambil pandangannya tak berubah sedikitpun.
Karna penasaran asisten Roy ikut melihat ke arah pandangan pak Arya.
Pantas saja pak Arya marah,melihat istri yang dia sembunyikan sedang duduk berdua dengan laki-laki lain.
Asisten Roy tau betul apa yang terjadi dengan pak Arya.
Meski bekerja dengan pak Arya belum lama,tapi asisten Roy jadi orang kepercayaannya.
Hanya pada Roy saja Arya menceritakan pernikahannya dengan Rania.
Tak jarang Roy jadi perantara untuk Arya sebagai alat saat Arya tak berani mengungkapkan apa yang dia mau.
__ADS_1
Bukan hanya sebagai asisten kantor tapi sudah merangkap menjadi asisten pribadi bagi Arya.