Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Sarapan di kamar


__ADS_3

"Mas,ditunggu di ruang makan buat sarapan..."Mbok Jum menyampaikan maksudnya ketika melihat Arya membuka pintu kamarnya.


Arya melihat Rania masih tidur dengan nyenyak.


"Mbok,kita sarapannya di kamar saja ya mbok.Nanti tolong anterin ke kamar kalau semuanya sudah selesai makan."Tak tega rasanya mengganggu sang istri yang sedang kecapek'an.


"Iya mas."Sebenarnya mbok Jum begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan pasangan itu.Mbok Jum khawatir jika Rania sakit.Tapi tak berani banyak bertanya akhirnya mbok Jum hanya bisa mengiyakan perintah majikannya.


"Ya sudah kalau begitu mbok pamit dulu ya mas,nanti mbok anterin sesuai permintaan mas Arya."Ucapnya undur diri.


"Iya mbok,makasih ya..."Arya kembali menutup pintu setelah melihat mbok Jum pergi.


"Maaf pak,Bu,nek...mas Arya dan mbak Rania pagi ini gak ikut sarapan disini.Nanti disuruh bawa ke kamar katanya."Mbok Jum menyampaikan ucapan Arya.


"Kok tumben mbok,apa mereka lagi sakit?"Nenek bertanya karna biasanya mereka ikut makan.


"Mbok gak tau pasti nek...karna mas Arya tidak bicara soal itu.Hanya saja tadi mas Arya yang buka pintu kamar,bukan mbak Rania seperti biasanya."Mbok Jum pun khawatir akan hal itu.


"Ya sudah,nanti siapkan saja sarapannya biar saya yang antar ke kamar mereka."Mama Anita juga ikutan khawatir.


"Baik buk..."Mbok Jum pamit undur diri saat semua majikannya mulai makan.


Selesai makan mama Anita membawakan sarapan sesuai pesanan Arya yang sudah disiapkan mbok Jum.


Tok tok tok...


Mama Anita mengetuk pelan pintu kamar Arya.


Tak lama kemudian Arya terlihat membuka pintu.


"Mama!Kok mama yang anterin,simbok mana?"


"Mama yang minta.Tumben kalian gak sarapan di bawah.Rania sakit?"Pandangan mata mama terus ke dalam kamar,mencari-cari Rania.


Tapi seolah Arya menghalangi mama yang ingin tau keadaan Rania.


"Emm...enggak kok ma,Nia gak sakit.Cuma lagi kecapekan saja."Arya menggaruk tengkuknya meski sebenarnya tidak merasa gatal.


Mama Anita yang melihat tingkah aneh sang putra jadi mengerti apa maksudnya.


"Ow...kecapekan...?Emang semalam gak tidur?"Ledek sang mama.


"Mama apaan sih...?"Arya dibuat malu dengan ucapan mamanya.


Mama Anita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kayak malam pertama saja kalian itu.hehehe..."


"Memang baru malam pertama kali ma..."Arya bicara sangat pelan.Meski begitu mama Anita mendengarnya.


"Punya istri secantik dan sebaik dia kok dianggurin sekian lama sih Arya...Pantes aja mama belum dapet cucu."

__ADS_1


"Ma...mama kan tau gimana awal pernikahan kami."Arya mengingat kembali awal pernikahannya dengan Rania.


"Dia itu jodoh terbaik buat kamu Arya,jadi jangan sia-sia kan dia.Mama aja sayang banget kok sama dia."Sedikit menasehati anak semata wayangnya.


"Iya ma,Arya tau itu.Tenang saja ma,Arya gak bakalan sia-siakan dia.Arya sudah jatuh cinta sama dia ma.Doakan ya ma semoga Arya cepet-cepet jadi ayah."


"Aamiin...ya udah kalau gitu mama kembali turun.Jangan lupa suruh Rania sarapan dulu ya.Jangan sampai anak perempuan mama sakit.Awas kalau sampai dia sakit.Bakalan mama ajak tidur di kamar mama.Biar kamu tidur sendirian!"


"Jangan dong ma...Arya gak bisa tidur tanpa Nia."


"Halahhh....gombal banget anak mama sekarang"Mama Anita berlalu pergi dari depan kamar Arya.


"Makasih ya ma!"Setengah berteriak melihat mama yang mulai pergi.


"Ya..."Balas mama di depan tangga.


Arya membawa masuk sarapan yang sudah dibawakan oleh mamanya.


Menaruhnya di meja lalu membangunkan Rania yang masih asyik tidur.


"Sayang,bangun.Kita sarapan dulu."Mencium kening sang istri.


Rania merasa terganggu.Namun ia masih enggan bangun.


"Sayang,sudah siang lho ini.Nanti kamu bisa sakit kalo gak makan."


Mendengar kata siang Rania terbelalak kaget.


Saat membuka mata dilihatnya cahaya matahari sudah masuk lewat celah-celah korden besar yang menghubungkan ke arah balkon.


"Tuh...sudah lewat jam sarapan."Sedikit menggeser tubuhnya supaya Rania bisa melihat jam.


"Ya ampun mas...kenapa mas gak bangunin."Langsung bangun dari tidurnya dan panik.


"Ini baru juga bangunin kamu."Ucap Arya dengan santainya.


"Mas udah sarapan belum?"


"Belum."


Rania semakin panik.


"Ya ampun...mas Arya kan punya sakit lambung...gak boleh telat makan.Maaf ya mas,Rania siapin sarapan dulu ya."Buru-buru menggulung rambutnya lalu mencari jilbab instan untuk dipakai.


"Sayang...kamu mau kemana...?Tuh...sarapannya sudah siap."Memegang wajah Rania lalu diarahkan ke meja tempatnya menaruh makan.


"Lhoh,mas yang ambil?"


"Bukan...tadi mama yang anterin.Sengaja aku bilang sama mbok Jum mau sarapan di kamar."


Menarik tangan Rania lalu diajaknya duduk di sofa.

__ADS_1


"Pasti semuanya pada nungguin kita..."Berdiri membuka korden yang masih tertutup lalu kembali duduk.


"Tadinya sih iya,tapi aku udah bilang mau sarapan di kamar."


"Duuhhh...Nia kan malu mas..."


"Malu kenapa...heemmm?"Kembali mencium pipi Rania.


"Ya malu...Nia bangunnya kesiangan."Memanyunkan bibirnya.


"Gakpapa.Tadi mama ngira kamu sakit."


"Tuuuhhh kan mas...aaa...Nia malu..."Menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Terus mas bilang apa sama mama?"Mendongakkan wajahnya melihat wajah Arya.


"Ya bilang apa adanya."


"Maksudnya?"


"Iya....bilang kalau istriku ini lagi kecapekan karna habis malam pertama.Semalaman gak tidur."Bicara di dekat telinga Rania setengah berbisik.


"Iiiihhhh....mas Arya kok gitu sih..."Kembali membenamkan wajahnya karna malu sambil mencubit perut Arya.


"Ya kan emang bener gitu kan?"Ucapnya tanpa merasa malu.


"Rania gak berani keluar nih...malu sama mama..."


"Ya udah,kita sarapan dulu.Hari ini kita gak usah keluar kamar."Mengurai pelukannya lalu mengambil makanan yang sudah di siapkan.


"Terus ngapain seharian di kamar?"


"Melanjutkan yang semalam.Mumpung libur."Menyodorkan makanan di depan mulut Rania.


"Iiih mas Arya..."Menutup wajahnya dengan kedua tangan.Merasa malu mendengar ucapan Arya.


"Udah,makan dulu.Biar punya energi untuk lanjut lagi.Sini buka mulutnya."Menarik tangan Rania lalu menyuapinya makan.


Rania sangat malu.Mengunyah makanan sambil memikirkan dirinya sekarang.


Semalam ia sudah menyerahkan seluruhnya untuk Arya.


Rasa lega,malu,takut,semua bercampur jadi satu.Masih belum percaya jika sekarang ia sudah bukan gadis lagi.


Hal yang selama ini ia jaga dengan sungguh-sungguh sudah ia serahkan pada lelaki yang sudah sah jadi suaminya selama empat bulan ini.


Sekalipun sudah sah namun ia masih sedikit merasa khawatir.Takut jika Arya akan meninggalkannya suatu saat nanti.


Meski begitu ia tak merasa menyesal karna sudah menyerahkan seluruh dirinya untuk orang yang tepat.


Sudah sepantasnya seorang istri memberikan hak suaminya.

__ADS_1


Meski apapun yang akan terjadi kedepannya,tapi saat ini mereka menyatu dalam ikatan sah.Sah di mata Tuhan dan sah di mata hukum.


Apapun yang akan terjadi nanti ke depannya,Rania hanya bisa berdoa yang terbaik untuk rumah tangganya.


__ADS_2