Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
kembali ke kost


__ADS_3

Di dalam mobil Rania terus saja diam.


Pandangannya selalu mengarah ke jendela kaca mobil.


Ingin sekali Arya bicara,namun sepertinya Rania masih butuh ketenangan.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu sih.Kenapa kamu jadi terlihat sering melamun."Batin Arya bertanya-tanya.


"Hei."Melambaikan tangan di depan muka Rania.


"Are you ok?"Tanyanya.


Rania menoleh kesamping.


"Iy eh iya pak."Rania gelagapan.


"Kamu gak papa kan?Sudah sampai soalnya."Arya menunjuk tempat kost Rania.


"Hah..."Rania pun melihat ke arah telunjuk Arya.


Ia tak sadar jika mobil sudah berhenti dan ternyata sudah sampai kost'an.


"Ba-baik pak.Terimakasih.Maaf sudah merepotkan bapak terus."Rania menangkupkan kedua tangannya lalu membuka pintu mobil.


Setelah mobil Arya pergi,Rania segera masuk kost.


Tanpa menoleh,ia langsung menuju kamar.


Ia membuka kunci pintu kamar lalu segera masuk.


Melemparkan tas ke ujung kasur,kemudian di susul tubuh Rania yang mendarat tepat di tengah kasur.


Ia sedang tak ingin memikirkan apapun untuk saat ini.


Yang ia ingin hanya tidur.


Badannya terasa sakit,kepala nya pun masih pusing.


Ia sudah tak sanggup menyembunyikannya lagi.Tak seperti tadi di rumah pak Adiyasa.

__ADS_1


Ia harus berusaha terlihat baik-baik saja karna tak ingin semua khawatir.


Tak butuh waktu lama ia sudah terlelap.


Mungkin efek dari obat yang dia minum tadi.


Intan masih mengkhawatirkan Rania.


Sampai sore dia juga belum kelihatan batang hidungnya.


Selesai mandi ia melihat pintu kamar Rania sedikit terbuka.


Ia segera mendekat,dan di bukanya pintu itu.


"Pintunya kok kebuka,apa jangan-jangan Rania sudah pulang."


Intan membuka lebar pintu itu dan masuk kamar Rania.


Ia melihat Rania sedang tidur dengan nyenyaknya.


Intan kemudian menutup kembali pintu kamar lalu berjalan pelan mendekati Rania.


Mencoba membangunkan Rania.


Saat memegang bahu nya,ia merasakan tubuh Rania panas.


Lalu ia tempelkan tangannya ke dahi Rania.


Di pegang beberapa tempat,mulai dari dahi ke pipi.


Semuanya sama,terasa panas.


"Rania...Ran..kamu kok panas..."Sambil menggoyangkan tubuh Rania supaya bangun.


Perlahan Rania membuka mata.Sambil mengucek matanya ia berusaha duduk.


"Kamu dari mana saja?pulang-pulang kok panas.Aku khawatirkan kamu tau..."Protes Intan.


Rania yang melihat kebawelan Intan hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


"Maaf..."


"Maaf apanya,gak bisa.Pokoknya kamu cerita sama aku.Sejelas-jelasnya."Intan tak mau kalah.


Rania melihat jam dinding,ia tak mengira jika sudah tidur cukup lama.


Dan sekarang sudah sore.


"Aku mandi dulu ya.Ternyata sudah sore."Rania duduk di tepi kasur.


"Ya elah...emang tadi kamu pulang jam berapa?"


"Gak tau,sekitar jam 11siang kayaknya."Tangannya sibuk mengikat rambutnya yang berantakan.


"Kok kayaknya sih,aneh deh kamu."Intan mengerutkan keningnya.


"Tadi pusing,pulang rebahan,gak tau nya langsung ketiduran."Sambil sibuk menyiapkan baju ganti.


"Eh,itu baju kamu baru ya?Kok baru lihat.Sebenarnya kamu dari mana sih."Intan semakin heran.


"Iya ini baju baru.Yang ngasih ibu nya pak Arya.Dan semalem aku nginep disana."


"What?"Seketika Intan kaget.


Dan saat itu juga Rania membekap mulut Intan supaya suaranya tidak terdengar sampai kamar sebelah.


"Kamu beneran Ran?kok bisa?"Intan masih terus saja bertanya.


"Kalo kamu tanya terus,kapan aku mandinya."Rania berjalan ke arah pintu.


"Nanti aku jelasinnya.Sekarang mandi dulu ya."Rania pun berlalu.


Sedang Intan tak henti nya terus berpikir tentang kata-kata yang Rania ucapkan barusan.


Ia kemarin melihat Rania di jemput pulang sama mbak Desy waktu pulang kerja.


Tapi kenapa tadi Rania bisa bilang kalau semalam dia tidur di rumah pak Arya.


"Aneh ni anak."Gumam Intan.

__ADS_1


__ADS_2