
Diperjalanan pulang Dery masih terngiang dengan ucapan teman-temannya.
Rupanya bujuk rayu itu masih tak bisa hilang dari pikirannya.
Disatu sisi ia ingin segera memiliki Rania.
Tapi disisi lain ia tak mau menyakiti orang yang sangat ia cinta.
Meski mungkin saja dengan cara kotor itu,mau tak mau ibunya akan merestuinya.
Atau justru...akan semakin membenci Rania.
"Tidak Dery,kamu jangan bodoh.Kasihan sama Rania."Ucapnya bimbang.
Semakin lama Dery merasakan kepalanya semakin pusing.
Tapi apapun itu alasannya,ia tetap ingin menemui Rania.
Selain ingin melihat keadaannya,juga karna ingin membahas soal hubungan mereka kedepannya.
Dery berharap Rania tak kan mundur sedikitpun.Sebagaimana ia pun yang tak kan berhenti untuk memperjuangkannya.
Sesampainya di depan kost...
Dery berdiri di teras.
Menghubungi nomer Rania lagi,namun masih sama saja.
Nomernya tidak aktif.
Dery mendekat ke arah pintu.
Pintunya tidak di kunci.
Dery berfikir mungkin mereka lupa menguncinya.
Di buka nya perlahan pintu utama.
Dery masuk,melihat sekeliling ruangan.
Terlihat sepi tak ada seorangpun.
Mungkin karna hari Sabtu,maka banyak yang pada pulang kerumah masing-masing.
Berjalan sempoyongan,Dery mendekat ke arah kamar Rania.
Ingin mengetuk pintunya,namun Dery merasa aneh.
Pintu itu sedikit terbuka.Pertanda jika tidak di kunci.
Tanpa ragu Dery membuka pelan pintu kamar Rania.
Gelap.
Itulah yang terlihat ketika masuk kamar.
Berjalan ke arah meja rias.
Dirabanya meja tersebut,ia menemukan lampu tidur kecil,yang dulu Rania beli bersama Dery.
Dery teringat,jika waktu tidur Rania tidak suka lampu yang terlalu terang katanya.
Untuk itu disaat tidur,ia akan menyalakan lampu kecil itu.
Ketika lampu sudah menyala,meski remang-remang ia melihat ada seseorang yang sedang tidur di kasur tipis milik Rania.
Entah karna mabuk atau karna teringat ucapan teman-temannya,tanpa pikir panjang Dery mendekati kasur itu.
Ia memeluk orang yang sedang tidur disitu.
Yang ia yakini pasti itu Rania.
Karna meskipun hanya remang-remang,tapi ia hafal betul dengan kamar Rania.
Dery sudah pernah masuk kamar Rania.
Meski masuk kamar tersebut di saat melihat keadaan Rania yang sedang sakit waktu itu.
__ADS_1
Jika tanpa alasan merawat Rania yang sedang tak berdaya,tidak mungkin Dery di ijinkan masuk kamar Rania.
Kepala Dery semakin pusing.
Pusing antara efek minuman memabukkan tadi atau juga karna permasalahan yang sedang ia hadapi,ia pun tak tau.
Ia merebahkan tubuhnya di samping Rania.
Perlahan mencoba memeluk Rania.
Merasa tak ada penolakan,ia mengeratkan pelukannya.
Seketika pikiran jahat itu terlintas di benak Dery.
Tanpa bisa berpikir normal,Dery memaksa Rania.
Yang ia pikirkan saat itu hanyalah ingin memiliki Rania seutuhnya.
Wanita yang Dery pikir Rania itu,ia terbangun ketika merasakan ada seseorang yang sedang mengganggu tidurnya.
Ia sangat kaget,melihat Dery yang sudah memeluknya.
Ya,meskipun remang-remang,ia hafal betul dengan wajah Dery.
Jangankan melihat wajahnya,hanya dari bentuk tubuhnya saja ia sudah sangat hafal dengan Dery.Orang yang sudah begitu di perhatikannya begitu lama.
Di cintanya begitu dalam,meskipun hanya bertepuk sebelah tangan.
Dery mulai memaksa Rania.
Meski berkali-kali ia menolak dan berusaha melawan.
Namun kekuatannya tak seimbang dengan kekuatan yang Dery miliki.
Ia menangis dan berkali-kali mengatakan jika ia bukan lah Rania.
Namun apa daya,rendahnya kesadaran yang Dery miliki seakan membuat telinganya tuli untuk mendengar perkataan itu.
Ingin berteriak meminta tolongpun percuma saja.
Di tempat kost yang besar itu,ia sedang sendirian.
Hanya tersisa ia seorang diri yang disana.
Dan malam itu....
Terjadilah perbuatan terlarang antara seorang wanita dan pria yang belum terikat hubungan sah.
Dery melakukan itu dengan sangat kasar dan berulang-ulang.
Hingga wanita itu pun pingsan.
Dan pagi harinya...
Dery membuka matanya perlahan ketika mendengar suara isak tangis.
Kepalanya masih terasa pusing.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai kembali.
Ia melihat sekeliling ruangan itu.
Rupanya yang ia lakukan semalam itu tidak hanya sekedar mimpi.
Antara sedih dan senang,ia akan menerima jika Rania marah padanya.
Namun ia berjanji akan segera menikahi Rania.
Sekalipun ibu masih tetap menolak.
Namun jika Rania sudah hamil anak darinya,tak ada alasan lagi untuk ibu melarang mereka menikah.
Ditengah senyuman yang terukir di bibir Dery,ia segera sadar dengan suara Isak tangis tersebut.
Dengan segera ia memakai kembali pakaiannya yang sudah berserakan di sekitar kasur.
Lalu ia berjalan pelan mendekati gadis yang menangis di pojokan kamar di samping pintu.
__ADS_1
Dilihatnya tubuh gadis itu yang bergetar membelakangi Dery.
Dipegangnya kedua bahu wanita itu.
Di usapnya dan dibawa memutar menghadap tubuh Dery.
Seketika itu,Nafas Dery seakan ingin berhenti.
Dilepasnya kasar tubuh wanita itu.
"Kenapa kamu disini?"Tanya Dery ketus.
Ya,wanita itu bukanlah Rania,kekasih Dery yang sangat ia cintai.
Melainkan dia adalah Intan.Sahabat dari Rania.
Dengan masih terisak,Intan memberanikan diri menatap tajam Dery.
"Apa yang sudah kamu lakukan Dery..."Lemah tak berdaya Intan mengucapkan itu.
"A-aku melakukannya pada Rania ku.Kenapa kamu yang ada disini.Dimana Rania."Dery bingung dengan keadaan ini.
"Aku sudah berkali kali bilang sama kamu,kalau aku bukan Rania.Tapi kamu tak mau mendengarnya."Intan kembali menangis mengingat kejadian semalam.
Seketika Dery mematung.Ia kembali mengingat kajadian semalam.
Samar-samar ia mendengar pengakuan itu.
Menyebut nama Intan berkali-kali.
Tapi entah kenapa,ia tak mau mendengar itu.
Karna di kuasai nafsu dan keinginan memiliki Rania seutuhnya.Juga karna pengaruh minuman memabukkan itu.
Ia jadi seperti bukan Dery yang ada dalam tubuhnya.
Dery merutuki hal itu.
Semua nya hancur dalam sekejap.
Keinginannya untuk memiliki Rania akan sirna.
Dery mundur...ia berbalik badan menghadap tembok.
Di pukulnya tembok tersebut.
Lalu memukulkan kepalanya berkali kali ke tembok itu.
Berharap semua ini hanya mimpi.
Di tolehnya kasur yang semalam ia tiduri.
Melihat bercak di beberapa tempat.
Seprei yang terlihat sudah acak-acakan.
Semakin membuatnya hancur.
"Lupakan kejadian ini.Anggap tak pernah terjadi."
Dengan mudahnya Dery mengatakan itu tanpa mau melihat wajah Intan.
Sedang Intan,ia meremas tangannya.
Antara kecewa,benci,sedih.Semua bercampur jadi satu.
"Kamu tau kan,aku hanya mencintai Rania.Dan hanya akan menikah dengannya."Lanjutnya.
Mendengar itu dari mulut Dery,setelah apa yang terjadi antara mereka.
Membuat Intan jadi benci dengan sikap Dery.
Setelah mengatakan itu,Dery keluar dari kamar.
Menutup pintu dengan kasar.
Sedang Intan kembali menangis tersedu.
__ADS_1
Mendekat ke kasur lalu segera mengambil seprei itu.
Ia akan mencuci seprei itu dan menghilangkan noda yang membekas,tak hanya membekas di situ saja.Tapi juga di tubuh dan hati Intan.