Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Canggung


__ADS_3

Rania masuk ke kamar Arya.


Pertama kali yang dilihatnya adalah ranjang yang begitu besar dengan selimut yang sama besar dan tertata rapi di atasnya.


Di sudut kamar terdapat beberapa foto.


Foto Arya bersama Sesil.


Saat Arya menyadari hal itu,ia pun melirik Rania.


"Emm...i-itu biar nanti di bersihin mbok Jum."Arya merasa tak enak hati.


"Foto itu maksudnya?"Tanya Rania.


"Iya."


"Gak papa kok."


"Apa?Gak papa gimana maksudnya?Apa dia gak marah ada foto wanita lain di dalam kamarku?


Ah iya,kenapa aku lupa.kita kan gak saling cinta."


"Aku mau mandi duluan."Arya pergi ke kamar mandi yang berada bagian di ujung kamar.


"Iya,saya mau bersihin muka dulu."


Rania berjalan menuju meja rias.


Di meja tersebut berjajar berbagai macam parfum dan peralatan wajah khusus pria.


Tapi Rania juga heran.Disitu juga sudah tertata rapi beberapa peralatan skincare dan make up wanita.Semuanya masih baru.


Rania memberanikan diri membuka satu pembersih wajah dan memakainya.


"Nanti aja ijinnya.Kalau pak Arya sudah selesai mandi."


Rania terus membersihkan wajahnya dari sisa make up tadi sambil terus memperhatikan ruang kamar Arya.


"Kamar orang kaya.Besarnya melebihi satu rumah kost'an.."Rania menggelengkan kepalanya.


Di dalam kamar tersebut terdapat satu ranjang big size.Dua sofa santai yang panjang sebagai sekat ruang kerja mini.Juga terdapat tv besar yang menempel di tembok.Serta beberapa lemari-lemari kecil juga perabot yang terlihat mahal.


Semua tertata rapi.Tak ada satu barangpun yang terlihat berdebu


Tak lama setelahnya Arya keluar dari kamar mandi.


Ia berjalan dengan ragu.


"Aaaaa"


Rania menoleh dan menjerit ketika melihat Arya yang hanya mengenakan handuk saja.


Sambil menutup matanya ia pun protes pada Arya.


"Kenapa gak pakek baju pak Arya..."


"Aku lupa.Biasanya juga begini."Jawabnya sok santai.Padahal sebenarnya ia sedang menutupi rasa malu dan gugupnya.


"Kan biasanya gak ada saya pak."


Arya segera berlalu tanpa berniat membalas ucapan Rania.


Ia terlihat memasuki sebuah ruangan yang masih satu ruang dengan kamarnya namun seolah di batasi dinding kayu ukir.


Setelah beberapa saat akhirnya Arya keluar dari ruang tersebut dengan sudah mengenakan pakaian santai lengkap dengan handuk yang melingkar di lehernya.


"Pak-pak Arya.Ma-maaf tadi saya buka ini."Menggoyang-goyangkan pembersih wajah yang tadi di gunakan Rania.


"Pakai saja.Itu memang punya kamu mulai sekarang."


Rania belum paham dengan maksud Arya.

__ADS_1


Ia menaikkan alis matanya.


"Sini."Arya menarik tangan Rania dan di bawanya ke sebuah ruangan yang tadi Arya masuki.


Rania mengikuti langkah Arya sambil terus melihat tangannya yang sudah di pegang erat oleh Arya.


"Lihat ini.Ini semua juga milik kamu mulai sekarang."Arya bicara dan melihat Rania.


Ia jadi salah tingkah ketika melihat Rania yang sedang memperhatikan tangannya yang berada di genggaman tangan Arya.


Seketika itu pandangan mereka menyatu dalam beberapa detik.


Keduanya sama-sama terdiam dengan keadaan jantung yang mulai berdetak kencang.


"Ma-maksud pak Arya."


Arya segera melepas genggaman tangan itu.


Sambil mengalihkan kegugupan.


"I-ya.Seperti yang kamu lihat.Ini semua punya kamu.Nenek sama mama yang sudah mempersiapkannya.


Rania mulai paham maksud ucapan Arya.


Mungkin semuanya memang sudah di persiapkan.Namun bukan untuknya.


Melainkan untuk Sesil.


Calon istri Arya sebenarnya.


"Rania boleh memakainya?"


"Itu kan memang punya kamu."


"Bukan punya mbak Sesil?"


Arya menoleh seketika.


Melainkan adalah Sesil.


Wanita yang sudah ia pacari selama empat tahun lamanya.


Rania menutup mulutnya.


Takut jika kata-katanya membuat Arya tak suka.


"Ma-maaf,maksud sa-saya.Emm.."


"Itu untuk kamu.Nenek dan mama yang sudah siapin.Meski mendadak tapi mungkin sudah bisa buat kamu pakai.walaupun baru seadanya."


Rania tak menyangka jika nenek dan mama seantusias itu.Dan mereka benar-benar menerima Rania dengan tulus.


"I-iya pak.Terimakasih."Rania tak berani lagi bicara menyinggung Sesil.Takut Arya merasa ia terlalu ikut campur urusan Arya.


"Sa-saya mau mandi dulu pak."


"Hemm."Hanya di jawab dengan singkat.


Kemudian Rania mengambil baju ganti di dalam lemari tersebut.


Lengkap dengan handuk baru dan juga kerudung instan.


Ia tak mau kelupaan seperti Arya tadi.


Begitu masuk kamar mandi Rania kembali di buat terkejut dengan isi nya.


Kamar mandi yang luas lengkap dengan bathub,closet dan juga terdapat sebuah cermin yang cukup besar di dalam ruangan itu.


Rania pun berendam di bathub.


Menikmati mandi dengan cara baru supaya badannya kembali segar.

__ADS_1


Ia tuang sabun beraroma yang sudah tersedia di samping bathub.


Terasa nyaman dan menenangkan.


Setelah dirasa cukup,Rania menyudahi acara mandinya.


Kembali masuk ke dalam kamar.


Arya terlihat duduk di sofa santai sambil menonton tv.


Arya menoleh sebentar kemudian bicara pada Rania.


"Kamu kalau capek istirahat saja."


"Iya pak.Terimakasih."


Mereka kembali di dera rasa canggung.


Berada dalam satu kamar dengan ikatan yang sudah sah,namun mereka sama-sama tanpa rasa cinta.


Rania mulai merebahkan dirinya di ranjang yang terasa begitu nyaman itu.


Namun sayang,hatinya masih belum merasa nyaman.


Ia masih belum percaya jika sekarang ia sudah menikah.


Ia melirik Arya sebentar sebelum ia mencoba memejamkan matanya.


"Aku memilikimu,tapi tak bisa memiliki hatimu.


Bagaimana jika pemilik hatimu kembali?


Ah,sudah pasti kamu akan kembali padanya.


Jadi jangan baper Rania.


Meski ia tak menolak kehadiranmu tapi ia tak memiliki cinta untukmu.


Ingat itu."


Rania terus mengingatkan akan statusnya yang hanya jadi pengantin pengganti.


Entah sampai kapan itu.


Mungkin karna ia terlalu capek seharian dengan hal-hal yang mengejutkan baginya,akhirnya tak butuh waktu lama Rania pun tidur.


Arya meliriknya,disaat dilihatnya Rania yang mulai memejamkan mata dan terlihat mulai benar-benar tidur,Arya menyunggingkan senyum manis di pipinya.


Ia merasa heran tapi lucu.


Gadis itu,dalam sehari bisa berubah status dalam hidupnya.


Ia yang kemarin masih jadi karyawannya,sekarang sudah menjadi istri sahnya.


Entahlah.Mungkin saja itu yang dinamakan jodoh.


Untuk kedepannya ia hanya mampu pasrah dengan keadaan.


Jika memang Rania jodoh sejati nya,ia akan menerima dengan lapang dada.


Yang jelas,mulai saat ini...Sesil harus enyah dari pikirannya.


Sudah tak ada lagi yang harus diperjuangkannya.


Karna Sesil sendiri yang sudah memilih pergi dari hidupnya.


"Kamu aneh.Kenapa didepan suami masih saja pakai kerudung."


Sambil terus tersenyum saat memperhatikan wajah Rania akhirnya Arya pun juga ikutan tertidur di sofa.


Ia tidur masih dalam keadaan senyum.

__ADS_1


__ADS_2