Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Sikap cuek Dery


__ADS_3

Malam ini sama seperti beberapa malam belakangan.Intan terbangun di tengah malam namun belum melihat Dery pulang.


Sofa yang biasa di tiduri Dery masih kosong.


Intan masih menatap sofa kosong itu,setelahnya ia kaget saat mendengar Devan menangis.


Intan segera mendekat pada Devan.


Di rabanya popok Devan,biasanya Devan menangis karna popoknya sudah penuh.


Namun ternyata popoknya masih kering,itu tandanya Devan belum banyak pipis.


Tapi Devan masih terus saja menangis,Intan pun segera memberi Devan asi.


"Adek haus ya...sini minum dulu sayang..."


Intan menggendong Devan hendak memberinya asi.


Intan terkejut saat mulut Devan menempel pada tubuhnya.


Bibir Devan terasa panas,lalu Intan meraba kening putranya itu,ternyata panas juga.


Devan tak mau minum asi,dia terus saja menangis bahkan tangisannya semakin kencang.Intan bingung bagaimana cara menenangkan Devan,namun ia berusaha untuk tidak panik.


Karna Dery belum pulang maka terpaksa Intan menggendong Devan.


Intan mengajak Devan turun tangga dan pergi menuju dapur.Mencari kotak obat di dekat dapur.


Sesampainya di depan kotak obat Intan segera membuka kotak tersebut.


Dicarinya sirup panas yang biasa Intan simpan buat jaga-jaga jika Devan panas seperti sekarang.


Karna biasanya Devan sering mendadak panas.


Beruntung sirup yang di cari Intan masih ada stok.Dengan segera Intan mengambilnya dan di berikan pada Devan.


Setelah minum obat Devan masih tetap saja menangis.


Intan berinisiatif menggendongnya sampai Devan tenang dan tidur.


Devan di gendong sambil di ajak berjalan-jalan di sekitar ruang keluarga namun Devan masih saja menangis.


Suara tangisan Devan membangunkan pak Herman dari tidurnya.


Lalu pak Herman mencoba membangunkan sang istri.


"Buk...bangun buk,sepertinya Devan sedang menangis."Pak Herman menggoyang-goyangkan tubuh istrinya yang terlelap dalam tidur.


"Buk...bangun."Kembali mengguncang tubuh Bu Herman supaya bangun.


"Ada apa sih pak?"Bu Herman bertanya dengan mata yang masih tertutup.

__ADS_1


"Itu...sepertinya Devan menangis,kita lihat dulu."


"Mungkin lagi di ganti popoknya pak."Bu Herman membalikkan badannya memunggungi pak Herman lalu kembali tidur.


Pak Herman diam sejenak,mungkin apa yang dikatakan istrinya benar,jika begitu ia tak perlu keluar dan melihat cucunya.Karna pasti ibunya sudah paham akan kebiasaan Devan.


Namun setelah beberapa menit berlalu tapi suara tangis Devan tetap tak berhenti.


Pak Herman pun kembali membangunkan istrinya.


Kali ini Bu Herman tak bisa tidur lagi,karna benar saja,terdengar suara Devan yang menangis dengan kencang.


Akhirnya sepasang kakek nenek itupun keluar kamar hendak melihat cucunya.


"Intan,kenapa dengan Devan?Dari tadi bapak dengar dia menangis terus?"Tanya pak Herman.


Intan kaget,ia tak menyangka jika suara Devan membangunkan kedua mertuanya.


"Maaf pak,Bu...maaf jika suara Devan mengganggu istirahat bapak dan ibu."


"Gakpapa Intan.Tapi kenapa dengan Devan?Tidak biasanya malam-malam begini nangis."Pak Herman mendekati cucunya.


"Ini pak...Devan panas."


"Oh...cucu kakek panas ya...sini kakek gendong."Pak Herman mengambil Devan dari gendongan Intan.


"Sudah di kasih obat belum?"Tanya Bu Herman.


"Owh....cucu nenek panas ya sayang...sini nenek saja yang gendong."Bu Herman mengambil alih Devan dari gendongan kakeknya.


Ya,Bu Herman jauh lebih mudah di luluhkan hatinya di bandingkan Dery.


Semenjak Devan lahir Bu Herman begitu bahagia.


Bu Herman sangat menginginkan cucu.


Pernikahan Desy anak pertamanya sudah hampir sepuluh tahun tapi belum juga di karuniai anak.


Bu Herman sangat senang,apalagi melihat cucu pertamanya seorang cucu laki-laki yang sangat tampan.


Sejak saat itu Bu Herman mulai menerima keberadaan Intan.


Dan dia turut melarang Dery menceraikan Intan karna ia tak ingin jauh dari cucunya.


Dengan telaten Bu Herman menggendong Devan dan menenangkannya.


"Dery tidur?kenapa gak kamu bangunkan saat anaknya nangis dan panas seperti itu?"Tanya pak Herman pada Intan.


"Emmm...mas Dery belum pulang pak."Sebenarnya Intan tak ingin mengatakannya,tapi Intan tak ingin berbohong.Pak Herman harus tau kelakuan Dery.


"Belum pulang?Jam segini belum pulang,pergi kemana memangnya?"Pak Herman melihat jam dinding yang menunjukkan hampir pukul satu dini hari.

__ADS_1


"Intan juga tidak tau pak.Beberapa hari ini mas Dery sering pulang larut malam."


"Apa kamu tidak bertanya dia pergi kemana?"


"Setiap Intan tanya mas Dery selalu bilang sibuk tanpa menjelaskannya pak."Intan pun bicara jujur pada pak Herman.


"Dia masih belum berubah juga rupanya."Pak Herman bergumam namun Intan masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas.


"Intan,Devan sudah tidur.Ibu tidurkan di atas atau biar di tidur sama ibu saja?"Tanya Bu Herman dengan suara pelan,supaya Devan tidak terbangun.


"Tidur di atas saja Bu."


"Ya sudah,ayo ibu tidurkan saja."


"Iya Bu..."Intan mengikuti ibu mertuanya dari belakang.


Saat pak Herman berdiri dan akan kembali ke kamarnya ia melihat Dery pulang.


"Dari mana kamu Dery?"Tanya pak Herman tepat di depan Dery.


Dery yang sedang berjalan lesu,kaget saat melihat bapaknya sudah berdiri di depannya.


"Bapak kenapa jam segini belum tidur?Bikin Dery kaget saja."Ucapnya mengalihkan pertanyaan bapak.


"Bapak tanya kamu dari mana?"Pak Herman mengulang pertanyaannya dengan tegas.


"Habis ada acara sama teman pak."


"Acara apa sampai pulang larut malam beberapa malam ini?"


"Darimana bapak tau kalau beberapa malam ini Dery pulang malam?Intan ngadu sama bapak?"Dery melepas kancing lengan bajunya lalu menggulungnya.


"Asal kamu tau Dery,baru aja Devan nangis cukup lama karna ia sedang panas.Seharusnya kamu ada di samping Devan dan membantu menenangkannya."


"Kan ada Intan pak..."


"Tapi kamu ayahnya,kamu wajib membantu istri kamu merawat anak kalian."


"Dery sibuk!"


"Hal apa yang membuatmu sibuk sampai melupakan anak dan istri kamu?"Pak Herman begitu geram dengan sikap anaknya yang tak juga mau berubah.


"Dery capek pak,mau tidur."Dery berdiri dari duduknya hendak menghindar dari pertanyaan bapak.


"Capek kamu bilang,apa kamu tau kalau istri kamu itu jauh lebih capek dari kamu?Dia mengurus Devan seharian,dan begitu saat tidur Devan menangis karna panas."Pak Herman menjeda ucapannya.


"Devan,anak kamu sakit Dery!Sampai kapan kamu akan seperti ini?"Lanjut pak Herman.


Tak ada tanggapan dari Dery,meski ia sempat berhenti berjalan saat mendengar Devan sakit,tapi setelahnya ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Intan mendengarkan semua percakapan antara Dery dan Bapaknya.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Dery,Intan mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum.Ia pun dengan segera kembali ke lantai atas sebelum Dery melihatnya.


__ADS_2