
Seminggu setelahnya Dery datang kerumah Intan ditemani Bapaknya.
Sedang sang ibu tak mau ikut,dengan alasan sedang sibuk menunggu mini market.
Biasanya pada tanggal muda toko akan lebih ramai dari pada akhir bulan.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan akhirnya sampai juga di rumah orang tua Intan.
Sesampainya di sana di sambut oleh Ibunya Intan dan juga kakaknya.
Pak Herman mengutarakan niat baiknya pada keluarga Intan.
Dan keluarga Intan pun merasa bahagia,karna merasa Intan sudah bertemu dengan jodohnya setelah satu tahun lebih di tinggal oleh bapaknya.
Intan sendiri tak berani mengatakan yang sebenarnya terjadi padanya.
Takut membuat semua keluarganya menjadi syok dan sedih.
Yang Intan perlihatkan adalah senyuman kecil supaya keluarga mereka bahagia.
Dari acara lamaran tersebut mereka sepakat untuk menikah dua Minggu lagi.
Meski ibu Intan merasa sedikit heran tapi ibu tak mau berpikiran buruk.
Karna memang niat baik harus di segerakan.
Tak ingin jika keluarganya tau Intan sedang hamil maka Intan ikut kembali pulang bersama Dery.
"Intan...kok kamu tidak tidur disini saja dulu nak...ibuk kangen pengen tidur dipeluk kamu sebelum kamu menikah..."Ibu Intan menangis haru.Melihat anaknya yang paling kecil sudah besar.Dan sebentar lagi akan menikah.
"Ibuk...Intan besok mesti kerja,Ibuk baik-baik saja ya dirumah..."Mata Intan mulai berkaca-kaca.
"Ya sudahlah...kamu hati-hati ya nak...Ibu dan mbakmu akan mengurus surat-surat yang akan kamu gunakan untuk menikah nanti.Tapi maafkan ibuk ya nak...kalian hanya menikah di KUA saja,ibuk tidak bisa menyiapkan acara besar."Ibu Intan memeluk anaknya.
"Ibuk...maafkan Intan yang bilangnya mendadak...Intan gakpapa kok,yang penting kan sah..."Intan menangis di pelukan ibunya.
Pak Herman yang menyaksikan semua itu merasa terharu dan merasa bersalah pada keluarga Intan.
Jika keluarga Intan tau yang sebenarnya mungkin mereka akan membenci kelakuan calon menantunya tersebut.
Sedangkan Dery hanya terlihat acuh.
Ia hanya terus terdiam dengan pikirannya sendiri.
Selesai melepas rindu sebentar,mereka memutuskan untuk kembali ke kota.
Di dalam mobil saat di perjalan semua terdiam.
Pak Herman membuka percakapan guna mengurangi rasa sepi.
"Intan,kenapa kamu tidak jujur saja dengan apa yang sudah terjadi padamu nak,supaya mereka tau yang sebenarnya."Pak Herman yang duduk di sebelah Dery pun menoleh ke belakang.Dimana Intan sedang duduk sendirian disana.
"Saya rasa tidak perlu pak,mereka cukup tau senangnya saja,tidak perlu tau sedihnya.Takut membuat Ibu kaget."Intan memaksakan senyumnya.
Intan tak mau Ibunya kembali bersedih.
__ADS_1
Setelah di tinggal Bapak satu tahun yang lalu Ibu sering sakit-sakitan.
Ia tak mungkin menambah beban Ibunya.
"Baiklah kalau begitu.Maafkan Dery ya nak."Pak Herman merasa bersalah atas kelakuan anaknya.
"Iya pak."Wajah Intan tertunduk sedih.
Dery sendiri masih terus saja diam.
Seolah tak terjadi apapun padanya.
Ia begitu dingin dan cuek terhadap Intan.
Sesampainya mereka di kota Dery melajukan mobil menuju kost Intan.
Intan bersiap turun dari mobil.
"Intan,apa tidak sebaiknya kamu tinggal di rumah kami.Kamu bisa tidur di kamar tamu sebelum kalian resmi menikah."Tutur pak Herman.
"Tidak perlu pak...Intan sementara bisa di kost saja dulu."Tolak Intan secara halus.
"Baiklah kalau itu mau kamu.Hati-hati ya.Jaga kesehatan kamu,supaya kandungan kamu juga baik-baik saja."Pesan pak Herman.
"Baik pak,terimakasih."Airmata Intan kembali menetes.Segera ia mengusapnya.
Seharusnya kalimat itu di ucapkan oleh Dery.
Ia yang jadi ayah dari bayi yang ia kandung.
Intan dengan segera turun saat mobil sudah berhenti di depan kost.
Tanpa bisa lagi bicara Intan langsung masuk kamar.
Ia keluarkan semua air mata nya yang sudah ia tahan dari tadi sewaktu masih di kampung.
"Ibuk...Bapak...maafkan Intan..."Masih sambil menangis.
Di dalam mobil pak Herman geram terhadap Dery.
"Dery,apa kamu tidak bisa bersikap sedikit saja perhatian dengan Intan,dia itu calon istri kamu.Calon ibu dari anak kamu.Kamu jangan egois Dery..."Pak Herman mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi ia tahan.
Dery masih terus diam.Seolah enggan menjawab perkataan dari sang Bapak.
"Kamu ingat Dery,ini semua hasil dari kesalahan yang kamu buat.Jadi jangan kamu salahkan Intan.Disini Intan yang jadi korban sikap arogan kamu.Jadilah lelaki yang bertanggung jawab."Runtutan kemarahan dari pak Herman.
"Dery...kamu dengar apa kata Bapak kan!"Sedikit membentak.
"Iya pak."Jawab Dery pasrah.
"Mulai sekarang fokuskan diri kamu untuk memikirkan pernikahan kalian yang tinggal dua Minggu lagi."
Dery mengangguk.Ia pun tak bisa berbuat banyak lagi,selain hanya menurut dengan kata-kata pak Herman.
Meski ini sangat berat untuk Dery.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Dery langsung masuk ke dalam kamar.
Tak lupa ia mengunci pintu agar tak ada seorangpun yang mengganggunya.
Entah itu sang ibu ataupun sang kakak.
Ia terus merenung sendirian.
Merasakan dirinya yang benar-benar telah hancur.
Tak pernah ia pikirkan sebelumnya,jika semuanya akan seperti sekarang.
Kisah cinta nya yang ia perjuangkan untuk Rania harus kandas begitu saja.
Kini tak ada lagi harapan dirinya akan bisa kembali bersama Rania.
Justru ia akan menjalani rumah tangga dengan tanpa cinta.
Ia tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa rumah tangganya nanti.
Hidup bersama dengan seseorang yang tak pernah ia cintai.
Ketika ia sadar dengan lamunannya,ia kemudian melihat hp nya.
Di bukanya galeri setelah hp di nyalakan.
Melihat begitu banyak foto-fotonya bersama Rania.Semua penuh dengan memori mereka berdua.
Saat-saat mereka bahagia bersama.
Saat keduanya sama-sama saling mencintai.
Banyak angan dan mimpi yang sudah mereka rajut berdua.
Hingga rencana pernikahan yang sudah mereka rencanakan sehari sebelum mereka berpisah dalam kesalahpahaman waktu itu.
Semua tersusun rapi.
Nampak serasi bagaikan pasangan yang sempurna.
Di usapnya foto Rania berulang kali.
Mengingat kembali dengan sosok Rania.
Dia orang yang baik,lembut,rendah hati dan selalu tersenyum.
Semua tingkah laku Rania membuatnya semakin jatuh cinta padanya.
Senyum tulusnya mampu meredam emosi yang bergejolak.
Sifatnya yang apa adanya lah yang membuat Dery selalu nyaman saat berada di dekat Rania.
Haruskah semua itu ia kubur dalam-dalam dari lubuk hatinya?
Harapan demi harapan yang sudah mereka rajut pun,haruskah hilang begitu saja.
__ADS_1
Andai ia bisa mengulang waktu,ingin ia mengenal Rania jauh sebelum orang lain mengenalnya.