Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Tiba di rumah


__ADS_3

Makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga.Mencium aroma mie rebus yang masih panas membuat Rania tak sabar ingin memakannya.


Sedangkan di depan Arya sudah tersedia dua porsi sate.Seporsi sate ayam dan seporsi sate kelinci.Juga dua cangkir kopi panas.


Rania menyeruput kuah mie rebus yang masih panas.Melihatnya yang seolah begitu menikmati mie,Arya pun ikut menyendok sedikit mie dan ikut merasakan.


"Heeemmm....enak."Kali ini juga mengambil sedikit mie dan meniupnya lalu kembali di makan.


"Mas...kan gak boleh makan mie..."Rania menarik mangkok mie nya sedikit dijauhkan dari jangkauan Arya.


"Habisnya liat kamu menikmati banget makan mie nya,jadi pengen."Ucapnya sambil tersenyum.


"Ya udah,udah nyobain kan?Sekarang mas Arya makan sate nya gih..."Menyodorkan dua porsi sate di depan Arya.


"Pengen di suapin..."Ucapnya manja.


Rania melebarkan kedua matanya,kaget mendengar ucapan Arya.


Seorang CEO yang tadinya sangat dingin kenapa tiba-tiba bisa bersikap begitu manja di depan Rania?


"Mas,apaan sih...malu tau."Rania menunjuk beberapa pengunjung lain dengan ekor matanya.


"Gak mau....padahal kita suami istri lho.Ya udah deh."Pura-pura ngambek.


Rania pun geleng-geleng kepala dibuatnya.


Mengambil satu tusuk sate lalu di suapkan ke mulut Arya dengan menahan malu.


Arya pun dengan semangat membuka mulutnya menerima suapan dari Rania.


"Eemmm...satenya gak kalah enak."Ucapnya menilai makanan yang baru masuk mulutnya tersebut.


Mengambil satu tusuk yang lainnya lalu gantian di suapkan ke mulut Rania.


"Aaaa..."Setengah memaksa agar Rania makan satenya.Padahal di mulut Rania masih penuh dengan mie yang baru dia makan.


Segera menelan mie nya lalu menerima suapan dari Arya.Takut Arya marah dan lebih bikin malu di depan umum hanya karna alasan mereka suami istri.


Akhirnya habis juga makanan dan minuman yang mereka pesan.


Arya kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Rania yang katanya tinggal sebentar lagi.


Kira-kira tiga puluh menit kemudian sampailah mereka di depan rumah Rania.


"Akhirnya...sampai juga mas."Menghela nafas.Melihat rumah yang dulu ia pernah di besarkan di sana.


"Ya sudah,ayo kita turun.Kasih kejutan buat bapak ibu."Arya membuka kunci pintu mobil dan mengajak Rania turun.

__ADS_1


Mobil berhenti tepat halaman rumah Rania yang cukup luas.Sepasang suami istri itu pun turun dari mobil.


Masih belum ada tanda-tanda bapak ibu keluar menyambut mereka.


Sepertinya belum pada tau jika anak kesayangan mereka pulang.


Rania masuk kerumah begitu saja melihat pintunya yang tak tertutup.


"Assalamualaikum..."Tak melihat seorangpun yang ada di ruang tamu.


Langsung berjalan melewati dapur dan lanjut ke belakang rumah.Dan benar saja,mereka semua sedang asyik di sana.


Ternyata sedang musim panen padi.


"Assalamualaikum pak...buk..."Rania kembali mengucap salam.


Bapak dan ibu menoleh,kaget melihat kedatangan anak sulungnya.


"Waalaikumsalam..."Jawab mereka serempak.


"Mbak Nia..."Nabila mendekat lalu memeluk kakak perempuannya.


"Nabila...jangan peluk mbak Nia...kamu baru saja petik padi,nanti mbakmu gatal semua...mandi dulu sana."Suruh ibu.


"Eh iya,lupa mbak hehehe"Saking senengnya melihat kakaknya pulang.


"Sengaja mau kasih kejutan pak."Semuanya kaget saat melihat Arya muncul di belakang Rania.


"Lho,sama nak Arya juga to."Bapak menghentikan aktifitasnya.


"Kalian ini...datang kok gak bilang-bilang."Ibu sudah bingung segera pergi ke dapur.


Arya mendekat ke bapak dan ingin mencium tangannya.


"Bapak baru saja panen nak,nanti gatel semua kalian.Ayo masuk saja dulu.Bapak mau mandi dulu."


Mereka kembali ke ruang tamu.Tak lama kemudian ibu datang membawa dua gelas teh panas.


"Kalian minum dulu,kalau capek istirahat saja di kamar."Ibu meletakkan minum di meja.


"Ibu gak usah repot-repot,kita habis minum kok Bu."Ucap Arya melihat ibu menyambut mereka.


"Gakpapa...cuma teh saja adanya kalau di gunung begini nak."


"Makasih Bu..."


"Iya...ayo diminum dulu."Ibu menyodorkan teh di depan Arya.

__ADS_1


"Oh iya mas,belanjaannya."Rania mengingat barang yang sudah di belinya tadi.


"Oh iya,kita ambil yuk."Arya mengambil kunci mobilnya dan kembali ke halaman rumah.


Membuka bagasi lalu mengambil barang-barang yang berada di dalamnya.


Melihat banyaknya barang yang di bawa membuat Tomy yang sudah selesai mandi pun bertanya,"Bawa apa aja sih mbak,kok banyak banget."


"Iya nih,bantuin yuk."Ajak Rania.


Tomy dan Nabila sibuk mengambil beberapa barang dan dibawa masuk ke dalam rumah.


Semuanya ditata berjajar di ruang tamu yang sekaligus jadi ruang nonton televisi.


Rania membawa barang hasil belanjanya tadi saat mampir ke pasar.


"Buk...ini Nia beli beberapa bahan buat di masak.Bumbunya masih gak,tadi Nia lupa belinya."


"Masih nduk...kamu kenapa datang gak bilang-bilang.Kan ibuk gak siap-siap.Malah kamu sudah belanja komplit begini lagi."Ibu merasa tak enak hati.


"Gakpapa buk...mas Arya sengaja mau bikin kejutan,katanya biar bapak ibu seneng.Ini tadi Nia sengaja beli lauk pauk supaya bisa di masak beberapa hari."


"Gimana nduk sama pernikahan kamu,apa kamu bahagia?Mereka semua baik kan nduk sama kamu?"Ibu memeluk Rania dan mulai meneteskan air mata.Takut jika anaknya tidak bahagia disana.


"Buk...doain Nia terus ya pokoknya...tapi mereka semua baik banget buk sama Nia.Mereka memperlakukan Nia seperti anak kandung dan cucu sendiri."Rania mengingat betapa bahagianya ia diterima begitu baik di keluarga Adiyasa.


"Alhamdulillah kalau begitu nduk..."Ucap ibu merasa lega.


"Kita ini keluarga miskin,tidak sebanding dengan mereka.Tadinya Ibu takut jika kamu disia-sia sama mereka.Tapi Bapakmu terus meyakinkan Ibu."Imbuhnya.


"Iya buk...Ibuk tenang saja,insya Allah Nia bahagia di sana buk...Ibuk gak usah khawatir."Rania menenangkan sang Ibu.


"Kalau ada apa-apa jangan takut beritahu Ibuk Bapakmu ya nduk..."Pesan Ibu.


"Iya buk..."Mereka mulai mengurai pelukan setelah Ibu merasa lega mendengar cerita anaknya.


"Ya sudah sana temani dulu suamimu,Ibuk tak beli cemilan dulu."Mengambil dompet di dalam saku.


"Beli apa Buk?Gak usah,itu tadi sudah dibawakan oleh-oleh,titipan dari mama.Kita buka yuk Buk..."Rania menarik tangan sang Ibu.


Di ajaknya kembali ke ruang tamu.


"Sayang,oleh-oleh dari mama kenapa gak di bawa ke dapur?"Tanya Arya yang sedang duduk di ruang tamu.


Rania tersenyum malu mendengar panggilan baru dari Arya.


"Iya mas,ini juga mau di ambil."Ucapnya mulai membuka kardus.

__ADS_1


__ADS_2