Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Pergi perawatan


__ADS_3

Pagi ini nenek mengajak Rania pergi ke salon.


Meskipun sudah berumur tapi nenek selalu rutin merawat dirinya.


Nenek pun memaksa Rania juga untuk ikut nyalon.Mereka berdua menghabiskan waktu ber jam jam untuk melakukan perawatan tubuh.


"Nah...gini kan fresh sayang...cucu nenek juga makin cantik.Gimana,enak gak perawatan?"Tanya sang nenek ketika melihat Rania keluar dari ruang perawatan.


"Iya nek,rasanya di badan lebih segar."Jawab Rania.


Tak bisa di pungkiri Rania pun menikmati perawatan tubuh yang baru pertama kali ia lakukan itu.Meskipun awalnya Rania merasa geli dan risih saat di pijat,tapi pada akhirnya ia menikmati setiap proses perawatan itu.


Dan hasilnya pun tak mengecewakan,seluruh tubuh serasa kembali segar.


Banyaknya aktifitas membuat Rania sering tak memikirkan tubuhnya.


"Ya sudah yuk,nenek mau bayar dulu."Nenek menggandeng tangan Rania untuk di ajaknya ke kasir.


"Berapa totalnya mbak?"Tanya nenek pada petugas kasir yang menjaga tempatnya.


"Iya ibu...ini totalnya."Mbak tersebut menyerahkan struk pada nenek.


Dan nenek pun menyerahkan sebuah kartu sebagai transaksi pembayaran pada kasir.


Rania sedikit mengintip jumlah total biaya perawatan mereka berdua tadi.


Alangkah terkejutnya Rania melihat angka yang berjejer di struk pembayaran itu.


Mulutnya pun menganga saking terkejutnya.


Setelah kartu itu di kembalikan pada nenek mereka pun berjalan keluar lalu menuju mobil yang terparkir di depan salon tersebut.


Rupanya pak supir sudah datang menjemput mereka berdua setelah belum lama tadi nenek menghubunginya.


"Nek,biaya nya mahal sekali,apa gak sayang uangnya?"Mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Gak apa asal gak keseringan,tubuh kan juga perlu dirawat.Gimana,enak bukan?"Tanya balik sang nenek.


"Enak sih...secara bayarnya aja menghabiskan biaya yang tidak sedikit."Batinnya bermonolog.


"Hehehe...iya juga sih nek...tapi mahal."Bagi Rania lebih baik uang segitu ia simpan,bisa untuk bayar sekolah sang adik.


"Ya kan sesuai dengan fasilitas yang sudah kita dapatkan sayang..."Kembali nenek menjelaskan.


"Hehehe iya,makasih ya nek...harusnya tadi nenek aja,Rania kan bisa nungguin di luar."


"Kenapa...masih sayang sama uangnya...?Sekali kali gakpapa sayang.Gak bikin suami kamu bangkrut kok...hehehe..."Canda nenek melihat Rania yang menyayangkan uangnya.


Rania pun ikut tertawa.


"Maaf,setelah ini kita kemana nyonya?"Tanya pak supir di balik kemudinya.


"Eemmm...kita ke mol aja dulu pak,sekalian makan siang disana."Jawab nenek.

__ADS_1


"Baik nyonya."Pak supir pun kembali fokus pada jalanan yang dilalui.


Sesampainya di sebuah mol terbesar di kota tersebut nenek pun hendak turun dari mobil.


"Pak Yanto ikut makan di dalam aja sama kita."Tawar nenek ketika ingin membuka pintu mobil.


"Tidak nyonya terimakasih,tadi saya sudah makan siang sebelum jemput nyonya."Tolak halus pak supir.


"Baiklah kalau begitu.Lalu pak Yanto tunggu disini atau bagaimana?"


"Maaf,saya harus kembali dulu nyonya,mau menjemput pak Jaya yang sedang bertemu rekannya."


"Oh...ya sudah kalau begitu,nanti saya telphon lagi saja kalau kita sudah mau pulang."


"Baik nyonya,saya permisi dulu."Pamit pak supir.


"Iya,terimakasih ya pak.Hati-hati nyupirnya."


"Baik nyonya."


Setelah berpamitan pak supir mulai melajukan mobilnya kembali.


Nenek dan Rania masuk ke dalam mol tersebut.


Lalu nenek mengajak Rania makan terlebih dahulu karna jam makan siang sudah terlewat setelah tadi mereka sibuk dengan perawatan tubuh.


"Kita mau makan apa nak?"Tanya nenek ketika mereka sudah sampai di gerai makanan di dalam mol.


"Rania ngikut nenek aja,Rania bisa makan apa saja kok nek."Ucapnya tak ingin membuat nenek bingung.


"Iya nek."Nenek menuntun tangan Rania menuju tempat makan yang nenek inginkan.


Setelah memesan makanan mereka menunggu di meja kosong dekat jendela.


Dari situ mereka bisa menikmati makan sambil melihat taman di samping tempat makan tersebut.


Setelah makanan datang nenek segera makan.Usia nya yang sudah tua membuatnya harus menjaga pola makannya supaya tidak mudah sakit.


Disaat sedang asyik menikmati makan tiba-tiba saja hp Rania bergetar.


Ia sengaja mematikan mode dering supaya tidak mengganggu kenyamanan saat perawatan tadi.


Getaran itu semakin lama semakin terasa.


Lalu Rania membuka tas dan mengambil hpnya.Dilihatnya sudah puluhan panggilan dan pesan dari Arya terlewatkan.


"Siapa yang telpon,Arya?"Tebak nenek.


"Iya nek,sudah beberapa kali,tapi Rania tidak tau karna dari tadi di mode silent."Rania meringis,takut Arya marah.


"Ya udah,tinggal telphon balik bilang aja tadi gak denger."


"Ya udah Rania telephon dulu ya nek."

__ADS_1


Nenek mengangguk.Belum juga Rania menghubungi Arya tapi panggilan kembali berdering.Akhirnya Rania mengangkatnya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam,kamu di mana?Kenapa gak angkat telphon ku?Pesanku juga gak dibaca."Protes Arya di seberang sana.


"Maaf mas,tadi hpnya di mode silent,jadi gak denger pas mas telephon."


"Terus sekarang lagi di mana?"


"Ini lagi makan di mol sama nenek."


"Sudah mau pulang?"


"Belum...rencana nenek masih ngajak belanja."


"Kirim lokasinya,nanti kalau sudah selesai aku susul."


"Iya."


"Ya sudah,aku mau lanjut meeting lagi.Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."Rania menutup panggilan lalu memeriksa pesan masuk.


Dan benar saja,Arya berulang kali mengirimkan pesan.


"Rania,nenek mau ke toilet sebentar ya.Kamu tunggu di sini dulu habis itu nanti kita belanja."


"Iya nek,Rania temenin gak?"


"Kayak anak kecil aja di temenin.Gak usah,nenek pergi dulu ya.Kamu tungguin di sini aja."Nenek berdiri lalu pergi ke toilet.


Rania kembali fokus membuka satu persatu pesan masuk sambil sesekali meminum minuman yang masih tersisa.


"Rania!"Tiba-tiba saja Rania mendengar seseorang memanggil namanya.Suara itu terdengar familiar di telinganya.


Ia matikan hpnya lalu melihat sumber suara tadi.


Dilihatnya Dery sudah berdiri di depannya sambil kedua tangannya terayun hendak memeluk Rania.


Rania segera menghindar.Ia pun berdiri dari duduknya sedikit menjauh dari Dery.


"Ada apa?"Tanya Rania sedikit ketus.


"Rania,aku kangen sama kamu.Akhirnya kita ketemu di sini."


"Apa maksud kamu mas,kamu sudah punya istri,jangan lagi bicara seperti itu.Bagaimana kalau Intan mendengarnya."Tolaknya.


"Aku akan segera menceraikan dia setelah anak itu lahir,dan kita bisa kembali lagi."Dery tersenyum,berfikir pasti Rania senang mendengar kabar tersebut.


"Kamu sudah gila mas!"


"Iya,aku sudah gila dan tak bisa lepas dari kamu Rania."Jawab Dery dengan percaya dirinya.

__ADS_1


"Lupakan aku mas.Antara kita sudah tak ada lagi hubungan apa-apa sebelum kamu menikah dengan Intan."


__ADS_2