Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Menemui kekasih hati.


__ADS_3

Satu permasalahan di anggap selesai untuk beberapa waktu yang akan datang.


Dery terus meyakinkan Rania untuk tetap bersama.


Meski harus melewati jalan yang cukup sulit tapi mereka yakin pasti bisa.


Di belahan tempat yang lain.


Hubungan antara Arya dan Sesil sedang tidak baik-baik saja.


Sesil sering marah.Ia meminta kepastian dari Arya tentang hubungan mereka.


Semakin hari Arya semakin sibuk bekerja.


Di tambah jarak yang memisahkan mereka,membuat hubungan mereka semakin rentan terhadap percekcokan.


Malam ini Arya menyempatkan datang ke kota J untuk bertemu dengan Sesil.


Sudah dua hari Sesil selalu menolak panggilan telpon dari Arya.


Tok tok tok


Arya mengetuk pintu rumah Sesil.


Tak berselang lama pintu di buka.


Mama Sesil muncul dari balik pintu.


"Malam tante."Arya mengulurkan tangan.


"Malam,masuk Arya."


"Sesil nya ada kan Tante?"Tanyanya.


"Ada kok,ayo masuk.Sudah lama kamu gak main kesini."Menutup pintu setelah Arya masuk.


"Hehehe...iya Tante.Sibuk di luar kota.Mau sering kesini jauh soalnya."Arya berjalan di belakang mama Sesil.


"Ya udah kamu duduk dulu.Tante panggilkan Sesil dulu ya."


"Makasih Tante."


Mama Sesil berlalu ke kamar anak gadisnya.


Tok tok tok...


"Sesil...di cariin tuh..."


Sesil membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.


"Siapa sih ma..."Rambut Sesil terlihat acak-acakan.


"Cowok yang paling ganteng."Iseng mama Sesil.


"Hehehe...udah sana buruan turun.Tar balik lagi kamunya nangis..."Lanjutnya.


Membuat Sesil tersenyum malu.


"Arya maksud mama?"Sesil memastikan.


"Iya,pacarnya Sesil yang paling ganteng.Siapa lagi sih kalo bukan Arya."Mama memegang rambut Sesil.


"Rambutnya berantakan,sana di sisir dulu biar rapi.Masak mau ketemu pacar jelek begini sih anak mama."

__ADS_1


"Hehehe...Iya.Ya udah tolong bilangin Arya suruh nunggu bentar ya ma."Sesil berlari ke dalam kamar,menuju meja rias.


Menyisir rambut dan memoles sedikit wajahnya yang terlihat pucat.


Kini wajah Sesil terlihat segar kembali.


Ia buru-buru keluar kamar.


Walaupun sedang marahan dengan Arya,namun sejujurnya ia sangat senang saat tau Arya jauh-jauh datang untuk ketemu dia.


Setibanya di ruang tamu Sesil masih pura-pura marah pada Arya.


"Sayang."Arya berdiri menghampiri Sesil.


Di genggamnya tangan Sesil.


Namun Sesil segera menepis tangan Arya.


Dia duduk dengan santainya.


"Sayang,aku kangen...kamu gak kangen sama aku?"Arya sok manja.


"Ngapain juga kangen sama orang yang gak bener-bener cinta sama aku."Ketus nya.


"Kok gitu sih sayang..."Arya merengek seperti bayi.


"Ngapain kesini,aku bilang kalau mau ketemu aku mesti ada kepastian."Sesil menyinggung soal hal yang mereka perdebatkan waktu chating.


"Iya sayang...akan aku pikirkan..."Bicara sehalus mungkin.


"Apanya yang di pikirkan.Kalau iya ya iya,kalo gak ya udah,kita selesai."Gertak Sesil.


"Sayang jangan bercanda deh.Aku gak suka tau."Arya pura-pura marah balik.


"Sama,aku juga gak suka."Sesil pun tak mau kalah.


"Iya sayang...aku ngerti...Aku bakalan segera ngomong serius sama papa.Nunggu papa pulang dari luar negri dulu ya..."Arya tak bisa terus berkelit.


Memang benar apa kata Sesil,jika hubungan mereka sudah lama.


Dan mereka bukan lagi anak ABG yang masih seneng-senengnya pacaran.


Mereka sudah saatnya menjalin hubungan serius.


Menuju pernikahan yang sah.


Sah di mata hukum,sah juga di mata agama.


Jika memikirkan soal itu,kepala Arya selalu saja pusing.


Karna itulah permasalahan terbesar dalam hubungan mereka.


Mereka sama-sama punya keyakinan yang kuat dengan agama yang mereka anut.


Tidak akan mungkin mereka memaksakan salah satu pasangan untuk mengalah dan ikut dengan satu kepercayaan.


Mereka bisa saja menikah di luar negri.


Tapi bukan itu yang Arya inginkan.


Jauh dari lubuk hatinya ia ingin memiliki rumah tangga yang utuh.


Sama-sama belajar berumah tangga dan belajar mendalami agama secara bersama.

__ADS_1


"Tuh kan bengong."Sesil mengagetkan Arya.


"Eh,enggak kok sayang."Arya tersenyum kikuk karna ketahuan bengong.


"Kalo kamu gak secepetnya mutusin,aku bakalan daftar masuk manajemen artis luar negri lho ya."Ancam Sesil secara halus.


"Kok gitu?Gak kok sayang,kali ini aku serius.Begitu papa pulang dari luar negri,aku bakalan bicara kedepannya."Arya berusaha meyakinkan Sesil.


Sesil tersenyum dan mereka kembali mesra.


Meski sebenarnya secara diam-diam Sesil sudah daftar ke luar negri.Ia ingin sekali bisa mewujudkan cita-citanya untuk bisa jadi artis go internasional.


"Kita keluar yuk sayang,mumpung aku kesini lho."Ajak Arya.


"Iya,sekarang makin sibuk,jadi sering lupain pacar.Kasih kabar aja gak sempet."Sindir Sesil.


"Ya maaf...tau sendiri kan sayang..."


"Maka dari itu...mumpung aku kesini kita jalan yuk.Ke moll atau ke kafe mana yang kamu mau."Lanjut Arya.


"Tapi aku mau ganti baju dulu."Sesil masih sedikit kesal.


"Siap ratu ku...aku siap menunggu disini..."Rayu Arya.


Sesil berdiri lalu berjalan melewati tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


"Arya,sudah lama nak?"Tanya papa Sesil yang baru masuk kerumah.


"Iya om,sudah dari tadi.Om sendiri dari mana?"Tanya Arya.


"Om dari luar,ketemu temen om.Lho,minumnya kok gak diminum?"Papa Sesil melihat teh yang berada di depan Arya masih utuh seperti belum tersentuh.


"Eh,iya om."Arya minum sedikit.


"Ini minum buat papa."Mama Sesil muncul dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat untuk suaminya.


"Makasih mama...kok mama tau aja kalo papa sudah pulang."Papa Sesil tersenyum sambil menerima teh yang di sodorkan ke arahnya.


"Taulah,denger suara mobilnya soalnya."Mama Sesil duduk di sebelah sang suami.


"Ayo Arya,di minum lagi,tumben main.Kapan datang?"Tanya papa Sesil.


"Iya om,baru aja dateng terus langsung kesini."Jawab Arya.


Sesil datang dengan pakaian yang sudah rapi.


"Eh,papa sudah pulang?"Tanyanya.


"Iya,anak papa cantik banget,mau kemana nih?"Tanya sang papa.


"Sesil mau keluar sama Arya pa."


"Iya om,tante.Bolehkan Arya ajak Sesil keluar?"Arya meminta ijin.


"Boleh..."Jawab serempak dari papa dan mama Sesil.


"Makasih om Tante,kalo gitu kita langsung pamit ya om."Arya berdiri.


"Teh nya gak di habisin dulu?"Tanya mama Sesil.


"Udah Tante,makasih."


Arya menyalami tangan kedua orangtua Sesil.

__ADS_1


Di susul Sesil di belakangnya.


Mereka lalu berangkat ke mol yang mereka inginkan.


__ADS_2