Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Dibawa kerumah nenek


__ADS_3

"Rania..."


Seorang nenek datang membawa payung.Mendekat pada Rania yang duduk sendirian di tengah hujan deras yang mengguyur tubuhnya.


Rania masih saja menangis tanpa mempedulikan suara orang yang menghampirinya.


Sang nenek kembali mendekat dan memegang pundak Rania.


"Rania...kamu kenapa..?"Ia tak lain adalah nenek Adiyasa.


Rania mendongak,menatap wajah nenek.


Namun ia sudah tak mampu berkata apapun.


Seluruh badannya terasa menggigil kedinginan.


"Ayo ikut nenek."Mengajaknya berdiri.


Namun saat hendak berdiri,Rania sudah tak kuat lagi membawa beban tubuhnya.


Ia limbung dan jatuh seketika.


Sang nenek kebingungan.


Ingin mengangkat namun tak bisa.


"Arya,cepat kesini!"Serunya sambil melambaikan tangan.


Arya yang berada di dalam mobil begitu kagetnya,ia langsung lari keluar tanpa menggunakan payung.


"Dia kenapa nek?"


"Gak usah tanya kenapa,segera bawa ke mobil."Nenek geram dengan cucunya yang satu itu.


"I-iya Nek."


Sebenarnya Arya tidak ingin menyentuh Rania.


Jangankan menyentuh,berdekatan saja ia tak ingin.

__ADS_1


Ia takut tak bisa mengontrol jantungnya.


Tapi keadaan memaksanya.


Dalam hati begitu khawatir,takut terjadi sesuatu yang berbahaya sama Rania.


Untuk itu tanpa mengulur waktu ia segera mengangkat Rania dan di bawa masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di mobil.


"Kita bawa ke rumah sakit atau gimana ini Nek?"Arya menoleh ke jok belakang.


Tempat Rania di tidurkan dan di tunggu sang nenek.


"Kita kerumah saja.Badannya basah semua.Nanti nenek panggil dokter saja."Nenek berusaha menggosok telapak tangan Rania.


"Sayang,sadar nak..."Sambil menepuk pelan pipi Rania.


Namun Rania tak kunjung membuka mata.


"Arya...cepetan sedikit dong...kasihan Rania."Protes nenek.


Setibanya di rumah Rania segera di bawa masuk ke kamar tamu.


Di angkat Arya dari dalam mobil.


Sentuhan secara langsung membuat Arya semakin merasakan perasaan aneh.


"Arya...bukan saatnya mikirin yang lain..."Sambil berjalan Arya terus memandang wajah Rania.


Setelah Rania di tidurkan,nenek dan Bu Anita segera mendekat.


"Mbok Jum,ambil handuk kecil sama air hangat.Dan kamu Arya,cepetan hubungi dokter Andi.Nenek tunggu Rania,biar saya ambilkan baju ganti."Bu Anita membagi tugas.


Semua keluar dari kamar.


Tersisa nenek yang masih setia menunggu Rania di dalam kamar.


Selesai menghubungi dokter,Arya kembali ke kamar tamu.

__ADS_1


Bersamaan dengan mama Anita yang juga ikut masuk.


"Arya,kamu sudah hubungi dokter Andi?"Tanya nenek.


"Sudah Nek,sebentar lagi juga datang."Arya duduk di sebelah nenek.


"Arya,kenapa kamu masih disini?Sana keluar dulu."Usir mama Anita.


"Emang kenapa ma...?"


"Mama mau ganti bajunya Rania dulu...kamu mau liat...hemmm....?"Mama Anita melotot.


"Boleh sih...tapi mesti di nikahi dulu."Celetuk nenek.


"Hehehe...ampun deh ma,Arya keluar aja deh."Langsung berlari keluar dari kamar.


"Dasar anak kamu itu lho.Ada aja,kapan sih dia dewasanya."Nenek geleng-geleng kepala jika mengingat kelakuan Arya.


"Ya gitu deh cucunya nenek."Balas mama Anita sambil mulai mengganti baju Rania.


"Sebenernya Rania kenapa sih Nek?"Tanya mama Anita.


"Nenek juga gak tau.Tapi yang jelas pasti dia lagi sedih.Kasihan anak malang."Nenek mengusap rambut Rania.


Selesai ganti baju,Rania di periksa dokter Andi.


Nenek dan mama Anita masih setia menunggu di samping Rania.


"Bagaimana keadaannya dok?"Nenek terlihat khawatir.


"Gak papa nenek...Hanya dehidrasi,sama badannya panas,mungkin karna kehujanan tadi.


Ini saya kasih obat,begitu siuman segera di suruh minum ya Bu..."Pesan dokter Andi.


"Baik dokter..terima kasih..."Nenek dan mana Anita merasa lega.


"Baiklah,kalau begitu saya permisi dulu ya nek...buk..."Pamit dokter Andi.


"Mari dokter,saya antar sampai depan."Mama Anita mengantar dokter Andi.

__ADS_1


__ADS_2