Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Bicara serius


__ADS_3

Sebulan setelah pertengkaran terjadi,hari ini Dery berniat akan kembali membawa Rania kerumah Dery untuk bertemu dengan orang tua nya.Ingin membicarakan kelanjutan dari niat seriusnya untuk menikahi Rania.


Karna hari Sabtu,Rania pulang setengah hari.


Rania mempersiapkan diri untuk datang ke rumah Dery,lagi.


Lebih tepatnya menyiapkan mental dengan tanggapan dari orang tua Dery.Terutama dari Bu Herman.Rania merasa ragu dan gugup.


Seperti biasa Dery menjemput Rania ke tempat kost.


Mereka datang berdua untuk menemui orang tua Dery.


"Ayo sayang,langsung masuk saja."Dery mengajak Rania masuk kerumah.


Rania tersenyum lalu mengikuti Dery.


Dery berjalan menggandeng tangan Rania.


Dilihatnya pak Herman sedang duduk di ruang tamu.


Sepertinya memang sedang menunggu mereka berdua datang.


"Assalamualaikum pak..."Rania mencium tangan pak Herman.


"Waalaikumsalam...ayo duduk sini."Pak Herman menepuk kursi sofa di sampingnya.


Rania dan Dery pun duduk.


"Buk...Dery sudah datang lho ini..."Pak Herman memanggil istrinya.


Kemudian datanglah Bu Herman dan mbak Desy.Rania menunduk,ia masih sungkan dan sedikit merasa gak enak dengan kejadian sebulan yang lalu.


Semenjak kejadian itu mereka baru ketemu lagi sekarang.


Meski begitu Rania ingin menghargai orang tua Dery.


Ia datang mendekat pada Bu Herman dan mencium punggung tangannya.


"Sore buk..."Rania tersenyum.


"Sore."Bu Herman masih terlihat cuek,namun kali ini masih sedikit lebih halus.


Setelah semua kembali duduk dan ngobrol ringan,Dery pun mulai mengutarakan niatnya.


Mbak Desy ke dapur mengambil minuman.


"Pak,buk...niat kita kesini mau bicara serius.Dery minta doa restu,Dery pengen ngajak Bapak sama ibuk ngelamar Rania.

__ADS_1


Rencananya besok pengen ke rumah Rania dan ketemu sama orangtua Rania."Dery mengutarakan niatnya.


Pak Herman tidak kaget mendengar itu.Karna sebelumnya Dery memang sudah mengatakan pada Bapaknya.


Sedang Bu Herman sepertinya sedikit kaget.Ia memang sudah tau Dery berencana hal demikian.Namun ia tak menyangka jika akan secepat itu.


"Besok,apa itu tidak terlalu cepat Dery?"Tanya Bu Herman.


"Buk...Dery kan sudah bicara hal ini sebelumnya..."Pak Herman yang menjawabnya.


"Tapi kan gak secepat ini juga pak...besok lho.besok!"Bu Herman berkata dengan nada tak setuju.


"Lhoh,kok besok sih,emang segampang itu ya.Bikin acara kok dadakan banget.Gak bisa bulan depan atau nunggu waktu longgar dulu."Tiba-tiba mbak Desy menyahut.


Ia membawa nampan berisi minum dan cemilan.Menaruhnya di meja dengan gerakan cepat dan agak kasar.


"Gak bisa mbak,ini bukan dadakan.Ini sudah aku rencanakan dari jauh hari.Kita pacaran juga sudah cukup lama.Aku gak mau nunda-nunda lagi."Kali ini Dery tak bicara dengan tegas.


"Tapi Dery,kamu sudah yakin sama dia.Kalian pacaran baru satu tahun.Masih banyak yang belum kamu tau dari dia."Mbak Desy enggan menyebut nama Rania.


"Namanya Rania mbak,dan aku sudah sangat yakin sama dia."Jawaban Dery mantab.


"Kamu pikirkan baik-baik Dery,kamu itu adikku satu-satunya.Mbak gak mau kamu menyesal nantinya."Mbak Desy masih gak mau kalah.


Dery sudah ingin menjawab lagi namun Bapak menyela.


"Sudah sudah,kita minum dulu.Rania,minum dulu nak."Bapak mengambil minum dan meminumnya .


Rania minum hingga habis setengah gelas.


Guna memenangkan hatinya yang mulai di landa rasa takut.


"Ehm!"Pak Herman berdehem.


"Masalah ini memang sudah Dery bicarakan sebelumnya.Jadi semua terserah Dery.Jika memang itu niat Dery,kita sebagai keluarga hanya bisa merestuinya."Pak Herman berkata dengan bijak.


"Tapi pak,ibuk masih belum rela."Ucap Bu Herman cepat.


"Buk...Dery mohon buk,tolong restui Dery."Dery bicara dengan nada memohon.Berharap Bu Herman akan luluh.


"Ibuk sayang sama kamu Dery,kamu anak laki-laki ibuk satu-satunya.Ibuk ingin yang terbaik buat kamu."Bu Herman mulai berakting sedih.Supaya Dery tidak tega.


"Buk...jika memang ibuk mau yang terbaik buat Dery,Rania lah yang akan membuat Dery bahagia..."


"Tapi bukan Rania yang ibuk percaya untuk mendampingi kamu Dery,"Bu Herman menjeda ucapannya.


"Tarisa.Dia wanita yang ibuk inginkan buat jadi pendamping kamu.Selain dia cantik,baik,dia juga dari keluarga yang sudah jelas ibuk kenal.Dia seorang guru.Masa depan kamu akan lebih baik jika bersama dengan orang yang berlatar belakang sama."Bu Herman mengusap air matanya.

__ADS_1


"Tidak buk...Masa depan Dery akan bahagia jika bersama orang yang tepat,bersama orang yang Dery cintai.Dan hanya Rania yang Dery inginkan buk..."Dery datang ke depan kaki ibunya dan bersujud disana.


"Jika itu mau kamu.Lebih baik ibuk mati saja.Buat apa ibuk hidup.Kamu sudah di butakan cinta.Suatu saat nanti kamu akan melupakan ibuk dan memilih dia.Wanita yang belum tentu baik buat kamu."Bu Herman menunjuk Rania.


Rania yang menyaksikan semua itu tak kuasa membendung air matanya.


Ia masih duduk mematung dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


Segitu bencinya Bu Herman padanya.Bagaimana mungkin ia akan berumah tangga jika tanpa restu dan ridho orangtua.


Merasa tak mampu lagi untuk menahan semuanya,Rania pergi begitu saja.


Ia berlari keluar.


Dery yang mengetahui itu langsung menyusul Rania.Tepat di halaman rumah ia bisa mengejar Rania.Ia pegang tangannya dan langsung memeluknya.


Rania terisak di dalam pelukan Dery.


Lama keduanya dalam posisi yang masih berpelukan.


"Rania...maafkan semua kata-kata ibuk.Kamu harus tenang.Kita coba yakinkan sekali lagi."Kata Dery memecah keheningan.


Perlahan Rania melepas pelukannya.


"Mas,aku rasa kita memang gak jodoh."Berkata dengan di iringi Isak tangis haru.


"Gak Rania,jangan bilang begitu.Sebenarnya ibuk baik kok."Dery masih membela ibunya.


Hal itu semakin yakin jika ia tak bisa bersama Dery.


"Gak mas,lebih baik mas Dery lupain aku.Menikahlah dengan pilihan ibu jika mas Dery ingin ibu bahagia.Terimakasih untuk semuanya,dan maaf jika aku banyak salah sama mas Dery selama ini."


"Gak sayang jangan ngomong begitu."Dery menggelengkan kepalanya.


Rania melepas tangan Dery dan berlari pergi.


Dery ingin segera mengejarnya.


Namun dari dalam rumah terdengar suara teriakan.


"Dery,ibuk pingsang.Cepat sini."Teriak Desy.


Dery bingung.Satu sisi tak ingin melepas Rania pergi.Tapi satu sisi ia tak tega dengan ibunya.


Ibunya punya penyakit darah tinggi dan asam lambung kronis.Hal itu yang membuatnya sering pingsan.Untuk itu Dery tak tega meninggalkannya.


Secepatnya Dery masuk ke dalam rumah dan melihat keadaan ibu.

__ADS_1


"Dery,kita lanjut nanti lagi,sekarang kita bawa ibu secepatnya kerumah sakit."Ucap pak Herman sambil mengangkat tubuh istrinya.


Dery dengan sigap turut membantu dan ikut mengantar ibu ke rumah sakit.


__ADS_2