Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Penjelasan Rania


__ADS_3

"Bisa,tapi tunggu sebentar ya,Rania sedang mandi."Pak Arya menjelaskan.


"Baik pak."Jawab Intan.


Saat Arya hendak pergi Intan memberanikan diri untuk bertanya.


"Tapi pak,kenapa Rania di sini?"Seolah Intan tidak takut akan tatapan tajam Arya.


Yang ia butuh adalah penjelasan dari semua kebingungannya.


"Maksud kamu?"


Dan benar saja.Arya menatap tajam Intan seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Ma-maaf pak.Mak-sud saya sejak kapan Rania tinggal di sini?"Intan tak berani melihat Arya.


Ia bicara sambil menunduk dan meremas ujung bajunya.


"Dia tinggal di sini sudah hampir dua bulan yang lalu,sejak dia resmi jadi istri saya."Bicara dengan nada datar namun tegas dan tajam.


Intan benar-benar syok mendengar ucapan pak Arya.


Jika saja Arya bukanlah bos di tempatnya bekerja mungkin sudah di timpuk dengan vas bunga yang berdiri cantik di tengah meja ruang tamu tersebut.


Karna baginya ucapan Arya itu sesuatu yang mustahil.


Atau mungkin hanya ada dalam sebuah mimpi.


Intan ingat beberapa bulan yang lalu pak Arya akan segera melangsungkan pernikahan dengan wanita cantik yang berprofesi sebagai model.


Meski ia tak tau jelas siapa nama wanita itu,tapi ia pernah beberapa kali melihatnya datang ke kantor.


Melihat keterkejutan dan kebingungan yang sedang Intan hadapi,Arya pergi meninggalkannya dengan berbagai pertanyaan yang sepertinya masih ingin ia tanyakan.


Intan kembali duduk untuk menenangkan pikirannya dari berbagai pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Rania datang juga.


"Intan."Rania kaget.


Ia masih berdiri di batas antara ruang tamu dan ruang keluarga.


Melihat Intan yang juga terkejut Rania berjalan cepat mendekat ke tempat Intan duduk.


Intan pun menyambut kedatangan Rania dan berdiri dari duduknya.


"Rania."


"Intan."


Keduanya bicara bersamaan.


Dan keduanya sama-sama terkejut dengan berbagai pertanyaan masing-masing.


"Rania,jelaskan semuanya."Ucapan Intan mewakili seluruh rasa penasarannya.


"Bagaimana kamu bisa di sini Intan?"Bukannya menjawab tapi Rania justru melontarkan pertanyaan.


"Karna aku merasakan ada sesuatu yang kamu sembunyikan,untuk itu aku ingin mencari tau sendiri."


"Intan,maafkan aku.A-aku...Aku bingung mau jelasin dari mana."


"Benarkah kamu menikah dengan pak Arya?"Pertanyaan menohok dari Intan mampu membuat air mata Rania jatuh tanpa aba-aba.

__ADS_1


"Aku...aku bisa jelasin.Kita ngobrol di taman."Agar mereka bisa leluasa untuk bicara,Rania menarik Intan dan di ajak ke taman di samping rumah.


Setelah mereka sampai di taman,Intan duduk.


Sedang Rania masih berdiri dengan tangannya yang bergetar.


Lama mereka diam hingga akhirnya Intan kembali mendesak Rania untuk menjawab pertanyaannya tadi.


"Jelaskan Rania.Aku siap mendengarnya."


"Apa benar kamu menikah dengan pak Arya,dan hampir dua bulan yang lalu?"Intan kembali mengulang pertanyaannya.


"Aku hanya jadi pengganti pengantin wanita nya pak Arya yang saat itu tidak bisa datang."Rania berdiri dan memandang bunga mawar yang berada di taman dengan tatapan kosong.


"Maksud kamu apa Rania?"Seolah Intan tak percaya dengan ucapan Rania baru saja.


"Iya.Saat hari pernikahan pak Arya,calonnya yang bernama Sesil tidak bisa datang,entah apa alasannya akupun tak tau pasti."


"Lalu?"


"Dan aku diminta nenek untuk menjadi pengantin pengganti."Begitulah yang Rania tau.


"Jadi hubungan kamu dengan pak Arya sekarang?"


"Ya...hanya sebatas pengantin pengganti."


"Tapi pernikahan kalian sah bukan?kalian suami istri."


"Aku tidak berharap lebih Intan."


"Kenapa?"


"Karna pak cinta pak Arya hanya untuk mbak Sesil.Dan jika suatu saat nanti dia datang sudah pasti pak Arya akan kembali padanya."


"Lihatlah dirimu Ran,kamu selalu memberiku semangat untuk memperjuangkan sesuatu yang sah jadi milikku.Tapi kamu?"


"Ta-tapi kita beda Tan..."


"Apanya yang beda Rania,kita sama-sama memiliki seseorang yang hatinya bukan untuk kita."Intan tak bisa melanjutkan ucapannya.


Dia berdiri dan memeluk Rania dengan erat.


Dalam keadaan berpelukan mereka berdua menangis bersama.


Setelah puas menangis mereka kembali tertawa.


"Hahaha...kita sama-sama menyedihkan tau Ran,kita bisa menyembunyikan kesedihan kita dengan senyum palsu pada orang lain,tapi kita tak bisa membohongi hati kita sendiri.


Rania hanya mampu membalas dengan senyum getir.


"Tapi dari ucapan pak Arya tadi kelihatannya dia mengakui kamu lho."


"Maksudnya?"


"Iya,dia bilang dengan tegas kalo kamu istrinya."


"Iya,istri percobaan selama enam bulan."Jawaban Rania dalam hati.


"Terus apa rencana kamu kedepannya?"


"Ya jalani aja lah Tan."


"Lalu bagaimana dengan orang tua kamu,Bapak pasti marah kalau tau ternyata kamu sudah menikah.Apalagi hanya sebagai,"Intan tak tega melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Bapak ibu tau kok.Bahkan adek-adek juga tau.Mereka semua datang kesini waktu akad nikah."


Intan bengong,seolah tak percaya.


"Hah...yang benar kamu,jadi..."


"Dua keluarga sudah setuju,dan bagi mereka ini adalah pernikahan yang sah dan mereka berharap lebih dari pernikahan ini.


"Maksudnya berharap lebih?"


"Nenek,papa,dan mama ingin segera punya cucu."Bicara dengan nada lemas di akhir kalimat.


Intan menutup mulutnya tak percaya.


"Intan,nasib kita beda.Orang tua dan nenek pak Arya semua sayang sama kamu.Sedangkan aku,hanya bapak yang perduli sama aku.Jika aku saja bisa bertahan dan memperjuangkan rumah tanggaku,kenapa kamu tidak?"


"Tapi..."


"Sssuttt...aku tak mau mendengar alasan apapun dari kamu."Intan menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


"Kamu harus janji sama aku,kalo kamu akan terus berjuang mempertahankan sesuatu yang sudah sah jadi milik kita!"Kembali Intan menegaskan.


"Tapi bagaimana jika Sesil datang..."


"Dia hanya seorang mantan,sedangkan kamu istri sahnya.Jadi buat pak Arya jatuh cinta sama kamu sebelum wanita itu kembali."


"Lalu aku harus bagaimana kalo hati pak Arya hanya untuknya...?"


"Ya di perjuangkan."


"Tapi tak semudah itu Tan..."Rania masih tak percaya jika ia akan mampu kedepannya.


"Yang penting kita berusaha!"


"Hhhuuuh..."Rania menarik nafas panjang.


"Jadi waktu ke acara pernikahan teman kita itu kalian sudah berstatus suami istri?"Intan mengingat kejadian waktu itu.


Rania mengangguk.


"Pantas saja waktu itu kamu gak mau nangkap bucket bunga nya.Dan...tunggu dulu."Ucapan Intan terhenti,ia kembali mengingat perdebatan antara pak Arya dan Dery.


"Rania,pak Arya sebenarnya suka sama kamu.Ingat gak waktu itu,dia selalu perang dingin dengan Dery yang masih berusaha mendekati kamu."


Rania ikutan mengingatnya kembali.


"Ah,biasa aja kok."


"Iya,beneran.Selama ini pak Arya gimana sama kamu?"


"Hah,gimana apanya maksudnya?"Rania bingung.


"Pak Arya kasar sama kamu?"


"Gak!"


"Pernah bicara soal mantan sama kamu?"


"Enggak."


"Nah...bener tuh.Berarti sebenarnya pak Arya baik.Jadi kamu harus berjuang.Janji?"


"Huuhhff...entahlah Tan..."Rania masih sangat ragu.

__ADS_1


__ADS_2