
Rania sengaja pamit pulang karna tak ingin melihat perdebatan itu semakin tak bisa dikendalikan.
Saat perjalanan pulang Arya hanya diam saja.Tak ada sepatah katapun ia ucapkan.
Rasanya masih ingin memaki Dery yang terlalu ingin tau urusan rumah tangganya.
Ia benci melihat Dery yang seolah tak ingin melepaskan Rania.Padahal sudah jelas-jelas mereka punya kehidupan masing-masing.
Walaupun ada benarnya juga dari ucapan Dery tentang awal pernikahan mereka,tapi bukankah sekarang mereka sudah mulai saling mencintai?
"Saling mencintai,ya,pasti Nia juga mencintaiku bukan?Bukan hanya aku saja yang mencintainya.Tapi dia juga mencintaiku!"Arya mencoba memaksakan diri untuk yakin akan hal itu.Meski sejatinya ia sendiri masih bertanya-tanya tentang perasaan Rania yang sesungguhnya pada dirinya.
Arya sendiri masih takut jika Rania masih belum bisa melupakan Dery seperti halnya Dery yang masih terlihat jelas tak ingin melepaskannya.
Memikirkan hal itu membuat Arya semakin diliputi rasa takut,takut akan kehilangan Rania jika ternyata suatu saat ia lebih memilih untuk kembali pada Dery.
Sesampainya di rumah Arya masih terus terdiam memikirkan segala kemungkinan yang belum terjadi.
"Mas,capek ya.Aku bikinkan teh mau?"Melihat wajah Arya yang terus saja menunduk.
Tak ada jawaban yang dia ucapkan,hanya sebuah anggukan malas yang dia tunjukkan.
"Ya udah,Nia bikin teh dulu ya,mas Arya duduk aja dulu."Setelah berpamitan Rania segera turun ke dapur.
Saat sampai di dapur ternyata para art sedang menyiapkan makan malam.
"Mbak Rania butuh sesuatu?"Tanya mbok Jum melihat Rania yang menuju area dapur.
"Iya mbok,mau bikin teh buat mas Arya."Jawabnya sambil berlalu.
"Mau mbok bikinin mbak?"Mbok Jum ikut berjalan di belakang Rania.Mengikutinya yang hendak membuat teh.
"Ah,gak perlu mbok...Rania bikin sendiri saja."Tolak Rania secara halus.
"Baiklah mbak,kalau begitu mbok mau bantuin nyiapin makan malam ya mbak..."Mbok Jum mulai pergi menjauh dari Rania.
"Iya mbok..."Rania pun segera mengambil gelas lalu membuat teh seperti biasanya.
Secangkir teh sudah selesai ia buat,akhirnya ia pun memutuskan untuk secepatnya kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Mas,ini teh nya,diminum dulu gih biar enakan."Rania menyodorkan teh yang baru saja dibuatnya.
"Makasih."Meraih cangkir itu lalu segera meneguk perlahan teh yang masih cukup panas tersebut.
__ADS_1
Setelah dirasa Arya sudah mulai lebih tenang Rania memberanikan duduk tepat di samping Arya.
"Mas,emmm...maaf ya mas."
"Untuk?"Arya menoleh melihat Rania yang menunduk sambil meremas ujung bajunya.
"Karna keinginanku buat jenguk Intan malah membuat mas Arya berdebat dengan mas Dery."
"Apa,kamu panggil dia mas?"Arya tak terima jika Rania memanggil Dery sama seperti dia memanggil Arya.Dengan sebutan mas.
"Bukan begitu mas,kata itu kan memang sebutan buat lelaki yang lebih tua dari kita"Rania menyampaikan alasannya.
"Mulai saat ini jangan panggil dia mas lagi!"Ucap Arya tegas tak terbantahkan.
"Atau...jangan panggil aku mas lagi."Imbuhnya setelah berpikir sejenak.
"Maksud mas Arya.Ok ok...aku gak akan panggil dia mas lagi.Mas Arya udah gak marah kan?"Daripada berdebat lebih baik Rania mengalah.
"Bukan.Maksudku mulai sekarang jangan panggil aku mas lagi.Aku gak mau disamakan dengan lelaki pengecut itu."
"Lalu maksud mas Arya?"Rania tak paham akan keinginan Arya.
"Iya,panggil aku dengan sebutan lain.Yang penting jangan mas."
"Terserah kamu."Mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
"Bang atau kak gitu maksudnya?"
Seketika Arya melotot tajam.Ia tak menyangka jika Rania sepolos itu.Padahal dilihat dari nilai di sekolahnya dahulu Rania termasuk anak yang cerdas.
Tapi kenapa soal kenyataan hidup aja dia lugu sekali.
"Emang aku abang tukang bakso atau juga kakak kamu gitu?"Arya melengos tak ingin melihat Rania.Ia merasa begitu kecewa dengan respon Rania.
"Bukannya mas Arya gak mau dipanggil mas?"Sebenarnya bukan Rania tak mengerti maksud Arya,namun ia sengaja ingin mengerjai suaminya itu.
"Ya tapi gak gitu juga kali.''Arya semakin geram pada Rania.
Belum juga Rania menjawabnya mbok Jum sudah datang dan mengagetkan kedua pengantin baru itu.
"Mas,mbak...di tunggu bapak dan yang lainnya di meja makan."Mbok Jum bicara di balik pintu yang tak tertutup rapat.
"Iya mbok...kita akan segera ke bawah."Sedikit berteriak Rania menjawab dari dalam kamar.
__ADS_1
"Tuuhh...mbok Jum juga panggilnya mas kok."Rania tersenyum melihat Arya yang masih manyun.
"Justru itu,makanya kamu jangan panggil mas.Panggil sayang gitu.Atau hubby juga boleh."Protes Arya.
Sambil tertawa Rania berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Arya.
"Udah yuk mas,kita makan dulu.Kasihan yang lainnya pada nungguin kita loh."
"Gak,panggil yang mesra dulu!"Tetap duduk dan melipat kedua tangannya di dada.
"Huhhh...Iya mas Arya ku sayang...kita makan dulu ya...Istrimu ini sudah lapar."Kembali Rania menarik tangan Arya.
Senyum Arya terkembang mendengar ucapan lembut Rania.
Entah kenapa dia tidak bisa berlama-lama marah pada sang istri.
"Sayang,aku gemes banget liat bayi nya Intan tadi.Boleh ya malam nanti kita bikin sendiri."Ucap Arya manja ikut berdiri dengan tangannya yang di pegang Rania.
Terkejut dengan ucapan Arya yang menurutnya terlalu fulgar itu dengan segera Rania melepas pegangan tangannya pada Arya.
Arya yang belum sepenuhnya berdiri jadi terjatuh karna ulah Rania yang tiba-tiba melepaskan tarikan tangannya.
"Sayang...aku jatuh..."Merengek mencari perhatian Rania yang mulai berjalan hendak keluar kamar.
Rania menoleh kembali pada Arya dan di lihatnya Arya yang terduduk di lantai sengaja tak segera berdiri.
Mau tak mau Rania kembali berjalan ke arah Arya dan menarik tangannya lagi.
"Ayo mas...kita sudah di tunggu."Tak ingin menunda waktu lagi Rania mendorong lembut tubuh Arya di ajak keluar dari kamar.
Mereka berjalan beriringan menuju lantai bawah.Setibanya di ruang makan semua sudah berkumpul menunggu Arya dan Rania.
"Maaf ya ma,pa,nek.Kita agak lama."Ucap Rania tak enak hati melihat semua yang sudah menunggunya.
"Iya,gakpapa.Sekarang kita mulai makannya ya."Ajak papa Jaya.
Mama Anita mulai mengambilkan makan untuk papa Jaya,begitu juga Rania,ia pun mulai mengambilkan Arya makan lalu tak lupa juga mengambilkan makan untuk sang nenek yang sudah sangat menyayanginya itu.
Semua makan tanpa banyak bicara.
Menikmati dan mensyukuri apapun makanan yang tersedia di meja makan.Makanan yang sudah di sediakan oleh koki di rumah keluarga Adiyasa tersebut.
Mereka biasa makan apapun yang di masak para koki.Jika tak ada acara penting atau sedang menginginkan sesuatu biasanya semua yang memilih menu adalah koki yang bekerja di situ.
__ADS_1
Namun begitu,koki yang terpercaya itu selalu menghidangkan makanan yang sehat dan yang bergizi untuk setiap majikannya.Tak boleh sembarangan dalam memilih menu makanan.