Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Dirawat keluarga Adiyasa


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian Rania mulai sadar.


Saat membuka mata ia melihat sekeliling ruangan.


"Aku dimana ya?"Tanya nya dalam hati.


"Rania...kamu sudah sadar nak...?"Nenek memegang tangan Rania.


Lalu meletakkan tangannya di dahi Rania.


"Nenek...."Raut wajahnya bertanya-tanya.


"Iya,ini nenek.Kamu di rumah nenek."Nenek tau kebingungan yang di rasa Rania.


"Kenapa Rania bisa disini Nek?"Tanyanya dengan nada lemah.


"Tadi kamu pingsan.Udah gak usah mikirin apa-apa dulu.Badan kamu masih panas.Minum obat dulu ya."Nenek segera berdiri untuk mengambil obat.


Mama Anita yang baru saja mengantar dokter Andi,kaget melihat Rania sudah sadar.


"Sudah sadar Rania...?"Mama Anita langsung mengambil obat yang ada di tangan nenek.


"Biar saya saja Nek...nenek duduk saja."


"Sebelum minum obat,makan dulu ya meski sedikit.Nih tadi di bikinkan bubur sama mbok Jum."Mama Anita hendak menyuapi Rania.


"Saya bisa sendiri buk...maaf sudah merepotkan semua."Rania mengambil mangkuk yang di bawa mama Anita.


"Ya sudah...pelan-pelan saja..."Menyerahkan mangkuk yang berisi bubur ayam.


Rania mencoba memakan bubur tersebut.

__ADS_1


Meski tak ada selera makan tapi tetap ia paksakan,demi menghargai nenek.


Selesai makan sedikit,Rania lanjut minum obat yang sudah di sediakan mama Anita.


"Terimakasih ya nek,Bu...maaf Rania merepotkan."Sambil hendak membuka selimut.


Rania melihat pakaian yang ia kenakan.


Ia baru sadar jika pakaiannya sudah ganti.


Ia pegang baju dan celananya.


Nenek langsung menjawab rasa penasaran Rania.


"Tadi pakaian kamu basah semua...terus di ganti sama mama Anita."Nenek menoleh pada mama Anita.


"Makasih ya Bu...Rania benar-benar minta maaf."Tertunduk malu.


"Iya,dari tadi minta maaf dan terimakasih terus...gak papa kok..."Mengusap Rambut Rania.


"Rania mau pulang Nek..."


"Kenapa pulang,kamu masih sakit lho.Kalau nanti pingsan lagi gimana?"khawatir nenek.


"Iya Rania...nih...badan kamu aja masih panas."Mama Anita menempelkan tangannya di dahi Rania.Melihat kondisi suhu tubuhnya.


"Gak papa Bu...Rania sudah agak baikan kok."Bohongnya.


Saat selimut berhasil ia singkap,ternyata badannya menggigil kembali.


Mama Anita yang melihat itu kembali menyelimuti Rania.

__ADS_1


"Udah...nurut aja,sekarang sudah petang.


Lebih baik kamu nginap disini saja,biarkan tubuhmu baikan dulu.Jangan dipaksa."Ucap mama Anita.


"Ta-tapi Bu..."Rania merasa tak enak pada keluarga Adiyasa.


"Gak boleh bantah.Lagian besok minggu,kamu libur kerja.Jadi tidur di sini saja."Kata nenek.


"Tapi Rania sudah terlalu banyak merepotkan..."Rania masih terus menggigil.


"Gak ada yang merasa di repotkan,tuh...liat aja,masih kedinginan kan."Mama Anita kembali merapikan selimut yang di pakai Rania supaya bisa membungkus seluruh tubuhnya dengan benar.


"Kenapa...apa kamu takut kalo nanti cucu nenek masuk kamar ini?Tenang saja,kalo perlu nenek akan ikut tidur disini nemenin kamu."Nenek menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Ia melihat kasur yang ia tempati.Begitu empuk dan besar.


Berlipat-lipat lebih besar dari kasur biasa yang ada di kost.


Jika di tambah nenek maupun Bu Anita pun pasti masih terasa longgar.


"Bukan begitu Nek...tidak mungkin pak Arya seperti itu..."Ucap Rania lirih.


Ia kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.Jika Dery saja tak benar-benar mencintainya.Sangat tidak mungkin jika pak Arya akan Sudi dengannya.


Ia hanyalah gadis miskin yang hanya di kasihani.Bukan di beri cinta tulus.


Rania menahan sekuat mungkin untuk tidak kembali menangis.Ia tidak ingin keluarga Adiyasa juga ikut mengasihaninya.


Mengingat semuanya membuat kepala Rania semakin pusing.


Ia memejamkan matanya.

__ADS_1


Efek dari obat yang baru saja di minum membuatnya merasa ngantuk berat.


Tak lama setelah itu ia sudah kembali tertidur.


__ADS_2