Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Devan sakit


__ADS_3

Dery masuk ke dalam kamarnya dan sayup-sayup mendengar ibu memberi pesan pada Intan."Jika nanti Devan menangis lagi jangan takut buat bangunin ibu ya."Ucap ibu dengan nada pelan supaya tidak membangunkan Devan lagi.


"Iya Bu...semoga saja panasnya segera turun dan Devan bisa tidur nyenyak lagi seperti biasanya."


"Iya...ya sudah,ibu turun dulu ya."Ibu pun pamit untuk tidur kembali.


"Iya Bu...makasih ya sudah bantuin Intan."


"Iya,Devan kan juga cucu ibu."


"Hehehe...iya Bu..."Intan tersenyum senang mendengar ucapan ibu mertuanya.


Dery masuk ke kamar tanpa sepatah katapun.


Ia langsung menuju kamar mandi.


Intan yang terlanjur malas bicara pun hanya diam dan segera tidur di samping Devan.


Tak lama setelahnya Intan melihat Dery keluar dari kamar mandi.Ia mengira Intan sudah tidur,untuk itu ia mencoba mendekat pad Devan.


Dirabanya kening dan juga leher Devan,masih terasa panas.Namun melihat Devan sudah tidur akhirnya ia pun memutuskan untuk segera tidur juga karna sudah sangat capek.


Kira-kira tidur baru satu jam tapi Devan sudah menangis lagi.Suara tangisannya semakin keras saat Intan tak segera bangun.


Dery pun mendengar tangis Devan juga ikut terbangun.


Dery ingin bangun dan melihat Devan,tapi rupanya Intan sudah bangun duluan.Akhirnya Dery mengurungkan niatnya.


Ia pun kembali tidur.


Intan segera menggendong Devan saat suara tangisnya tak juga berhenti.


Rupanya panas Devan belum juga reda.


Suhu tubuhnya belum juga turun.


Intan panik saat Devan tak mau minum asi.


Di gendong dan di bawa jalan di sekitar kamar juga tak membuatnya diam.


Intan bingung harus bagaimana.Ia mencoba membangunkan Dery.Namun Dery sama sekali tak merespon.Mungkin terlalu capek sehingga ia tak mendengar suara tangisan Devan yang begitu keras.

__ADS_1


"Mas,bangun.Devan badannya makin panas mas,aku takut."Intan mengguncang bahu Dery.Meski sebenarnya Dery mendengar tapi ia pura-pura tidur pulas.


"Mas...bantuin aku mas."Kembali Intan mencoba membangunkan Dery.


"Apa sih kamu.Kamu kan ibunya.Masak kamu gak bisa tenangin anak kamu sendiri?"Melihat Intan sebentar lalu berganti posisi dan melanjutkan tidurnya.


"Tapi Devan makin panas mas...aku takut dia dehidrasi,dia gak mau minum.Kita bawa ke rumah sakit saja mas."


"Malam-malam begini ke rumah sakit,gak bisa nunggu pagi dulu apa?"Jawab Dery tanpa menoleh.


"Tapi Devan gak mau diam mas.Dia panas banget."Intan benar-benar khawatir dengan Devan.


Karna Dery tak bangun juga akhirnya Intan membawa Devan turun.Berharap Devan berhenti menangis jika di ajak jalan keluar kamar.


Tapi sampai di bawah pun Devan tak juga berhenti menangis.


Intan bingung harus bagaimana.Tak mungkin jika Intan memberinya sirup lagi,karna baru sekitar dua jam yang lalu Devan minum obat.


Intan tak berani memberi obat lagi dengan jarak waktu yang masih belum lama.Biasanya dokter menyarankan minum sirup panas setidaknya selang empat jam jika panasnya belum juga turun.


Lagi-lagi suara tangisan Devan membangunkan kakek dan neneknya.


Mereka mendekat lagi pada Devan yang menangis di gendongan ibunya.


"Iya Bu...ini Devan masih panas banget.Malah gak mau minum asi bu...Intan bingung mesti gimana,Intan sengaja bawa turun berharap Devan bisa lebih tenang."Intan meneteskan air mata karna begitu khawatir dengan keadaan Devan.


"Sini biar ibu gendong."Bu Herman mengambil Devan dari gendongan Intan.


"Sayang...tenang ya nak...nenek gendong,Devan bobok ya..."


Dengan sabar Bu Herman mengusap-usap punggung Devan.Tapi tak berhenti juga tangisnya.


"Intan,kenapa makin panas ya si Devan.Gak mau diem juga,ibu takut kalau dia dehidrasi."Keluh Bu Herman.


"Itu juga yang Intan takutkan Bu.Intan mesti gimana Bu...?"Intan tak kuasa menahan tangisnya.Ia tak tega melihat Devan yang terus saja menangis.


"Bangunkan Dery,kita siap-siap ke rumah sakit."Kali ini pak Herman yang bicara.


"Tadi Intan sudah berpikiran begitu pak.Tapi pas Intan bangunin mas Dery katanya suruh tunggu pagi dulu."


"Devan sudah menangis lebih dari satu jam,kita tidak bisa menunda lagi.Sebelum terlambat Intan.Kamu bangunin Dery dan berkemas seperlunya dulu,biar bapak panasi mobil dulu."

__ADS_1


"Iya Intan,cepetan.Bilang sama Dery kalau kita sudah siap di mobil.Suruh dia cepetan.Devan biar ibu gendong."Imbuh Bu Herman.


"Iya Bu."


Intan segera berlari ke lantai atas.


Ia membuka pintu lalu segera mendekat ke Dery.


"Mas,bangun.Kita ke rumah sakit sekarang.Devan makin panas."


"Aku bilang tunggu sampai pagi.Toh dia sudah tenang bukan?"Ucapnya dengan mata yang masih tertutup.


"Devan masih belum berhenti menangis mas,dia di gendong ibu.Bapak sama ibu sudah menunggu kita di mobil."


"Kalian terlalu berlebihan,namanya juga panas,jadi ya biasa aja kalau dia rewel."


Mendengar ucapan itu Intan kembali meneteskan air matanya.Ia sungguh tak menyangka jika akan mendapat kata-kata menyakitkan itu dari mulut Dery.


"Kalau mas Dery tak mau ikut terserah.Kembali saja tidur.Tapi jangan harap kamu bisa melihat Devan lagi."Intan segera berlari turun setelah mengambil beberapa pakaian ganti untuk Devan.


Dery yang sebenarnya tidak tidur itu membalik tubuhnya lalu bangun.Mencoba mencerna ucapan yang baru saja Intan katakan.


Namun dia tak mau memusingkan hal itu.Karna dia benar-benar capek dan nanti harus bangun pagi-pagi sekali karna harus ke kampus lebih pagi maka dia memutuskan untuk kembali tidur.Toh sudah di temani bapak sama ibu.Begitulah pikir Dery.


"Intan,Dery mana?"Tanya bapak karna hanya melihat Intan saja yang masuk mobil dengan membawa satu tas yang pasti berisi perlengkapan Devan.


"Kita berangkat sekarang saja pak,mas Dery mungkin terlalu capek.Dia masih ingin kembali tidur."


"Bagaimana sih Dery,anaknya sakit seperti ini dia masih bisa tidur.Biar bapak yang bangunkan."Bapak hendak turun dari mobil namun segera di cegah oleh Ibu.


"Kita ke rumah sakit sekarang saja pak.Tidak usah pikirkan Dery,yang penting sekarang adalah Devan."Ibu memegang tangan bapak.


"Baiklah."Akhirnya pak Herman melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Di jalan suara tangis Devan sedikit reda.Bukan karna sudah lebih baik,tapi sepertinya Devan sudah tak punya tenaga.


Ia terlihat begitu lemas.


Intan menangis sejadi-jadinya ketika melihat Devan yang mulai kejang-kejang.


Bu Herman pun yang tadinya berusaha menenangkan Intan jadi ikut menangis.

__ADS_1


"Pak...cepetan pak...bagaimana Devan pak..."Bu Herman mengguncang bahu suaminya yang sedang sibuk menyetir mobil.


"Iya buk.Bapak akan mempercepat jalannya.Kalian tenang ya.Jangan lupa doakan Devan supaya baik-baik saja."Pak Herman berusaha menenangkan ibu dan nenek yang sedang menangisi keadaan Devan.


__ADS_2