
Setelah mengantar Intan kembali ke tempat kost,Rania pun beranjak pergi.
Namun Intan segera mencegahnya.
"Rania."Mengambil tangan Rania lalu di genggamnya erat.
"Maafkan aku."Tertunduk lemah.
"Maafkan aku yang jadi orang ketiga dalam hubungan kamu dan Dery.Maafkan aku yang sudah ceroboh.A-aku...."Air mata nya kembali tumpah setelah tadi ia berusaha tegar di hadapan keluarga Dery.
"Semua ini salahku.Andai saja saat itu aku tidak tidur di kamar kamu,pasti kejadian menjijikkan itu tak akan pernah terjadi."Menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Rania menarik nafas panjang lalu di hembuskan pelan-pelan.
Mencoba meredam rasa yang bergemuruh dalam dadanya.
"Kamu gak salah.Semua itu emang sudah jalan nya.Gak ada yang perlu disesali."
"Yang terpenting sekarang adalah,kamu harus jaga baik-baik janin yang ada di rahim kamu.
Kamu harus janji akan berjuang demi dia.Dia juga berhak lahir,berhak bahagia bersama orang tuanya."
"Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu.Karna aku,kamu jadi korban dari kesalahpahaman."
Intan kembali menangis haru.Ia tak menyangka Rania sebaik dan setulus itu padanya.
Seharusnya Rania marah padanya.
Seharusnya juga Rania tak perlu memikirkan sampai pada janin nya.
"Tapi Ran...kamu berhak bahagia.Kamu berhak marah sama aku..."Intan mengusap lelehan air matanya.
"Aku akan bahagia bila melihat sahabatku bahagia.Untuk itu kamu harus janji sama aku,kamu akan bahagia bersama Dery."
"Tapi Dery cinta nya sama kamu Ran...bukan sama aku."
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.Kamu harus berjuang untuk itu.Demi kamu dan anak kamu nantinya."
"Tapi...apa aku bisa?"
"Pasti bisa."
Intan memeluk Rania dengan erat.
Mengungkapkan rasa yang tak bisa ia ucapkan.
Setelahnya Rania pun pamit pulang ke tempat kost.
Sesampainya di kost ia segera masuk kamar.
Mengambil semua barang-barang yang berhubungan dengan Dery.
Baik itu hadiah dari Dery maupun barang yang dia beli sendiri saat bersama Dery,semua nya di kumpulkan dalam kardus bekas.
Melihat barang itu satu persatu.
Air mata nya mulai luruh tak bisa lagi ditahan.
Mulai saat ini,ia harus benar-benar melupakan Dery.
Mengubur dalam-dalam kenangannya bersama Dery.
Ternyata jodoh tak memihak padanya.
__ADS_1
Dan secepatnya ia ingin pulang.
Mengatakan yang sebenarnya soal hubungannya dengan Dery yang sudah benar-benar berakhir.
Supaya tak ada lagi harapan demi harapan yang di tunggu oleh orang tuanya.
"Benar kata orang,sekuat apapun kita menggenggam,jika tak jodoh,ia akan lepas dengan sendirinya."Monolog dalam hati Rania.
"Selamat tinggal mas Dery,trimakasih untuk semua yang sudah kita lewati bersama.Aku akan belajar mengikhlaskanmu mulai sekarang."Mengusap air mata nya lalu mengangkat kardus itu dan di bawa ke tong sampah.
🌼🌼🌼
Sedangkan Arya,malam ini adalah malam bahagia dalam hidupnya.
Keluarganya datang ke rumah Sesil.
Di sambut hangat oleh keluarga sang kekasih.
Setelah acara lamaran secara pribadi dilakukan,mereka mulai mencari hari yang baik untuk melangsungkan pernikahannya nanti.
Dan di putuskan dalam waktu lima bulan lagi mereka akan menikah.
Arya ingin protes,karna baginya itu terlalu lama.
Namun itu sudah jadi keputusan keluarga Sesil.
Mereka menunggu waktu yang luang untuk acara besar itu.Selain menunggu waktu liburnya Sesil,juga menunggu kepulangan kakak Sesil yang sedang mulai merintis usaha di luar negri.
Untuk itu Arya tak bisa menolaknya.
Ia akan bersabar hingga lima bulan lagi.
🌼🌼🌼
Sementara itu dengan Dery.
Ia menyesali kebodohannya.
"Kenapa aku bisa-bisanya terhasut omongan mereka."
"Andai saja waktu itu aku tidak bertindak bodoh."
"Andai saja aku bisa sedikit lebih sabar."
"Rania...aku gak bisa tanpa kamu."
"Aku gak bisa hidup berumah tangga dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali."
Dery menjambak rambut nya frustasi.
Karna kesalahannya ia harus menanggung akibat seumur hidupnya.
Tiba-tiba Bu Herman masuk ke kamar Dery yang memang tidak di kunci.
"Dery,kamu baik-baik saja kan sayang?"
"Ibuk masih gak percaya dengan apa yang tadi mereka katakan."
"Ibuk tau betul dengan anak ibuk,kamu gak melakukan itu kan Dery.Ayo bilang sama ibuk."
Bu Herman masih tak terima dengan kenyataan pahit yang harus terjadi pada anaknya.
Ia ingin Dery menikah hanya dengan wanita pilihannya.
__ADS_1
Yang sederajat dan seimbang dengan keluarganya.
Sekuat tenaga ia berusaha untuk memisahkan Dery dengan Rania,belum membuahkan hasil,justru harus menelan pil pahit dengan kenyataan yang mengagetkan semuanya.
Dery masih terdiam saja.Seolah enggan untuk menjawab ucapan sang ibu.
Tatapannya kosong penuh rasa kecewa.
Sang ibu memeluk anak bujangnya.
Dery menoleh sekilas lalu kembali melamun.
"Kenapa ibu tak merestui aku dengan Rania?"Dery bertanya tanpa melihat sang ibu.
"Di-dia bukan kriteria ibuk.Dia gak cocok sama kamu."
"Lalu seperti apa yang cocok menurut ibu?"
"Ya seperti Tarisa.Dia sederajat dengan kita,cantik,baik,dari keluarga yang baik-baik.Dia cocok sama kamu."Bu Herman berkata dengan menggebu-gebu.
Dery menatap tajam sang ibu.
"Tapi apa yang terjadi buk?Karna keegoisan ibuk,aku jadi batal menikah dengan Rania,apalagi Tarisa!"
Deg!
Ucapan Dery merupakan sebuah bom ultimatum untuk sang Ibu.
Begitu mengagetkan dan mematikan.
Ibu tak ingin anaknya menikah dengan Rania,apalagi Intan.
Namun semuanya berubah.
Namun masih tak bisa merubah keegoisan sang Ibu.
"Semua ini salah Ibuk.Ibuk yang terlalu terobsesi dengan uang,harkat,martabat.Dan dampak dari semua itu,harus Dery tanggung seumur hidup."Dery menggelengkan kepalanya.
"Dery,dengar ibuk.Kamu tidak perlu menanggung seumur hidup.Cukup kamu nikahi dia sementara waktu saja.Sampai anak itu lahir,kamu bisa menceraikannya."Ide jahat sang ibu.
Dery masih tak percaya dengan kelakuan ibunya.
Kenapa ibu bisa berpikir sepicik itu.
Tak lama kemudian muncul lah Bapak.
Bapak duduk di sebelah Dery,lalu menepuk pundak Dery beberapa kali.
Sedari tadi Bapak sudah mendengarkan percakapan sang istri dengan anak lelaki nya.
Ia sungguh kecewa dengan sikap Bu Herman.
Tak sepantasnya ia meracuni pikiran anaknya yang sedang kalut.
"Dery...Bapak tahu kamu anak yang baik,anak yang sopan,dan anak yang bertanggung jawab.
Sekalipun itu terjadi tanpa kamu sengaja,tapi ada janin yang tumbuh dalam rahimnya.Dan itu adalah darah dagingmu."Jeda sesaat.
"Mungkin dengan cara inilah Allah memberikan jodoh untuk kamu.Terimalah mereka apa adanya.Bapak harap kamu bisa berpikir lebih dewasa supaya tidak menyesal di kemudian hari."
"Dan untuk Ibu,berhentilah memaksakan kehendak ibu untuk anak kita.
Karna yang terbaik menurut ibu,belum tentu itu yang baik untuk Dery."
__ADS_1
Mereka bertiga saling diam.Tak ada lagi suara.
Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.