
Setibanya di tempat kost,Intan segera masuk kamar dan mengunci pintu.
Di atas tempat tidur ia menangis sejadi-jadinya.
Menangis bukan karna luka di jari tangannya,melainkan luka di hati yang sedari tadi ia tahan.
Ia luapkan segala rasa di hatinya pada buku diary miliknya.
Ia tak bisa menyalahkan Rania ataupun Dery dalam hal ini.
Semua ini karna salahnya sendiri.
Ia menyimpan rasa seorang diri.
Dan ia justru memupuk rasa itu semakin dalam.
Tanpa mencari tau lebih dulu tentang perasaan Dery.
Setelah ini Intan tak tau,bisakah ia melihat Rania.
Pasti butuh waktu yang cukup lama untuk ia bisa bersikap biasa saja dengan Rania.
Sebelum jam pulang kerja Intan segera bergegas pulang kerumahnya.
Ia minta ijin kerja untuk istirahat di rumah meski hanya sehari.
Lebih tepatnya menghindari bertemu dengan Rania untuk beberapa hari kedepan.
🌼🌼🌼
Sepulang kerja Rania segera menuju ke kamar Intan.
Ia mengetuk pintu berkali kali namun tak ada jawaban sama sekali.
Rania kembali ke kamarnya lalu mengambil hp miliknya.
Ia mencoba menghubungi nomor Intan.
"Nyambung tapi gak di angkat."
Rania berpikir mungkin Intan sedang sibuk.
📱Rania:"kamu dimana Tan?"
📱Intan:"Aku pulang Ran."
📱Rania:"Angkat telpon ku."
__ADS_1
📱Intan:"Disini susah sinyal."
📱Rania:"Beneran tadi jari kamu kena jarum?"
📱Intan:"Iya,tapi gapapa kok."
📱Rania:"Kalo gapapa kenapa pulang...?"
📱Intan:"Di suruh istirahat dulu."
📱Rania:"Terus besok?"
📱Intan:"Ijin dulu sehari."
Tanpa menunggu Rania kembali menghubungi nomer Intan.
Terpaksa Intan mengangkatnya.
"Halo Intan,beneran kamu gak kenapa-kenapa?"
"Iya Ran,aku gakpapa.Maaf ya Ran,baterainya habis.Udah dulu ya."
Intan langsung mematikan hp nya.
Ia masih belum sanggup untuk bicara sama Rania.
Sedang Rania heran.Tadi katanya susah sinyal.
Dan dari nada bicara Intan terdengar sedih,gugup,dan terburu-buru.
Rania semakin khawatir dengan keadaan Intan.
"Apa lukanya parah ya?"Rania mondar mandir di kamar.
Sesaat kemudian Dery datang.
"Tok tok tok...Rania."Panggilnya.
"Iya mas,bentar."Rania segera membuka pintu kamar.
"Ada apa mas?"Rania melihat Dery sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Dah makan belum,kita keluar yuk,cari makan."Dery tersenyum.
"Belum sih..."
"Ya udah yuk."Ajak Dery.
__ADS_1
"Bentar...pakek jaket dulu.Dingin."
"Ya udah,aku tunggu di luar.Jangan lama-lama ya..."
"Iya..."Rania kembali masuk kamar dan mengambil jaket,dompet,dan tak lupa bawa hp.
Sampai di luar Dery segera mendekati Rania.
"Udah,mau makan di mana?"
"Terserah mas Dery aja deh."
"Cie cie....Rania....ternyata sama mas Dery ya...?"Goda teman satu kost Rania.
"Iya,gak nyangka,ternyata Rania.Kapan nih jadiannya?"Tanya teman yang lain.
"Pantesan mas Dery sekarang sering ke sini."Yang lain pun ikut menggoda sepasang kekasih itu.
Sedang yang di goda cuma bisa senyum-senyum malu sambil menunduk.
Hanya Dery yang terlihat begitu PD nya.
Dia tersenyum bahagia sambil mengangguk ramah.
Dia juga merangkul pundak Rania.
Seolah mengatakan bahwa "Iya" Rania adalah miliknya.
Akhirnya mereka makan di tempat biasa.
Yaitu warung tenda ayam bakar.
Mereka makan berdua.
Namun Dery melihat Rania seperti tak berselera makan.
"Kamu kenapa sih sayang,kok gak selera gitu makannya?"Dery memperhatikan piring Rania yang masih banyak isinya.Sedang piring Dery sudah bersih.Tersisa beberapa lalapan yang tidak ia suka.
Rania masih diam saja.Ia bingung harus cerita dari mana.
Haruskah ia menceritakan hal itu pada Dery.
Namun ia juga bingung dengan sikap Intan yang tiba-tiba berubah.
Ia khawatir Intan merasa kecewa padanya karna merasa tidak di anggap sebagai teman.
Rania sedih,seharusnya ia mengatakan secepatnya tentang hal itu pada Intan.
__ADS_1
Supaya tidak terjadi kesalahpahaman seperti saat ini.
Tapi apa boleh buat,semua sudah terlanjur.