
Arsakha menjawab panggilan telepon dari Adam, ia meletakkan ponselnya di dekat telinga sebelah kanan.
"Halo Adam, ada apa kau menghubungiku?" tanya Sakha pada Adam disambungan telepon.
Adan pun menjawab. "Tidak ada, aku hanya ingin tahu kabarmu dan juga keluargamu. Bagaimana dengan kalian di sana? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Adam.
"Iya kami baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
"Aku di sini baik, dan juga bisnis cafe yang kubuka setelah 2 tahun belakangan ini juga berjalan dengan lancar. Aku akan ke indonesia tiga bulan lagi, karena Friska akan membuka usaha di sana" ucap Adam di sambungan telepon.
Sakha hanya tertawa kecil. "Hahaha, aku tahu ada apa maksudmu pergi ke Jepang dan kembali lagi. Itu karena Friska kan? kau menyukainya kan?" tanya Arsakha penuh keyakinan.
Adam tidak menjawab, ia hanya diam dan bingung untuk menjawab apa.
"Ia, kenapa kau tahu?" Spontan Adam menjawab perkataan dari Arskaha.
Arsakha hanya terkekeh geli, ketika melihat tingkah sahabatnya itu. "Aku sudah tahu sikapmu Dam, kau jangan membohongi ku apalagi aku tahu. Kalau kau ke sana hanya untuk mengejar cintamukan?"
Ucapan Arsakha dibarengi gelak tawa, mereka membahas banyak hal mulai dari bisnis, dari percintaan, dan dari masa lalu. Arsakha dan Adam tertawa bersama, rasa melepas rindu yang mereka pendam setelah tiga tahun berpisah.
"Sakha, apa kau tahu aku di sini sedang berusaha melupakan Devanya" ucap Adam, Sakha merasakan apa yang sahabatnya rasakan.
Arsakha hanya menghembuskan nafasnya dengan barat. "Kenapa kau tidak bisa melupakannya? Jangan Dm, dia sudah tiada. Akan berat baginya jika kau belum mengikhlaskan orang yang sudah tiada." ucap Sakha.
Adam hanya terdiam, mengingat masa lalunya yang begitu kelam. Mengingat saat-saat Devanya meninggal dunia dan meninggalkan Adam.
"Kau tahu Arsakha, kami dulu pernah membuat janji untuk bersama-sama hingga ajal menjemput kami, namun siapa sangka. Devanya lah yang sudah mendahului aku, dan aku harus melupakan kenangan kita dan janji kita dulu" ucap Adam yang bersimbah air mata.
"Sudah Adam, kita mulai lagi lembaran baru dan hal baru. Aku pun juga sama begitu, tapi bedanya akulah sendiri yang bodoh karena kesalahanku sendiri. Kau masih bisa untuk merubah takdirmu lebih menjadi lebih baik bersama Friska. Kau mencintainya kan? Aku mencintainya kejar saja dia." Arsakha menyemangati Adam, agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Arsakha kembali menghela nafasnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu" tanya ucap Sakha pada Adam.
__ADS_1
"Mengatakan? Ada apa?"
"Aku ingin kau yang memegang perusahaan HAMZ COMPANY di indonesia, aku tidak percaya jika Meidina yang memegangnya, mengingat dia memiliki seorang putra dan juga tanggung jawab kepada pembacanya"
"Aku tidak bermaksud untuk menyinggung Meidina, kau sendiri tahu kan belajar bisnis itu tidaklah mudah. Apalagi untuk seorang wanita yang baru terjun di dunia bisnis, bukan hanya setahun atau 2 tahun"
"Aku pun yang masih cemen ini, harus banyak-banyak lebih lagi." ucap Arsakha di dalam sambungan telepon.
Sakha mengatakan yang sejujurnya, Adam tertawa begitu terbahak-bahak dan kerasnya. Menlngingat selama ini, sahabatnya adalah seorang raja bisnis yang memiliki bisnis mulai dari properti, makanan, skincare dan juga alat-alat yang lainnya.
"Hahaha, kau pikir aku bodoh Sakha. Kau cemen? Apa kau tidak ingat, atau kau tidak tahu julukan apa yang telah para pegawaimu berikan padamu?"
"Raja bisnis Sakha, raja bisnis! Apa kau masih buta, sehingga tidak bisa melihat apa yang mereka katakan?"
Arsakha menyipitkan matanya. "Melihat? Seharusnya kau mengataiku tuli, bukan buta, Dam" Adam hanya terkekeh geli, mendengar tingkah sahabatnya yang tak akan pernah ada berubahnya.
"Iya, iya. Kau tuli, kau tuli." Adam berhasil membuat Arsakha kesal.
Saat itu, Adam terdiam ketika mendengar kolega bisnis. "Apa yang kau maksud adalah Pak Marvin?" tanya Adam.
"Iya, kenapa memangnya?" Adam menghela nafasnya dengan berat. Aku hanya mengatakan padamu, berhati-hatilah dengan dengan Pak Marvin dia itu licik Sakha. Aku tidak mau pperusahamu diambil alih olehnya" Ujar Adam yang mengingatkan pada Sakha.
"Tentu saja, Dam. Kau tak usah khawatir, bedebah penjilat seperti Pak Marvin sudah banyak aku temui. Aku akan menemuinya di sebuah resto Jepang, sampai jumpa lagi nanti. Dah."
Dan sambungan telepon itupun terputus, mereka melanjutkan kegiatan dan aktivitas yang mereka masing-masing. Waktu terus berjalan, Arskaha datang menemui Pak Marvin di salah satu resto jepang dengan dibantu Cahyo sang supir.
Mendorongnya masuk ke dalam restoran, Arsakha begitu tampan elegan dan menawan sebuah mata tertuju kepadanya. Siapa yang tidak tahu seorang Arsakha, seorang pebisnis yang sudah kaya raya dan tajir melingkar tujuh turunan. Banyak wanita yang berbondong-bondong ingin menjadi istrinya, meskipun dengan keadaannya yang semakin hari semakin memburuk karena Kelumpuhan kakinya.
Arsakha hanya menghela nafas, tabah dan akan menerima takdirnya yang sudah tuhan berikan kepadanya, jika memang ini yang terbaik. Arsakha akan merelakan Meidina, dan jika ia diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya yang di masa lalu karena telah menyakiti Meidina.
Marvin sudah menunggu Sakha sedari tadi, sambil memegang ponselnya dan matanya melirik Arsakha yang baru datang. Arsakha tersenyum, dan begitupun Pak Marvin mereka berjabab tangan layaknya pengusaha pada biasanya.
__ADS_1
.........
Seseorang mengetuk pintu dari luar, nampak seorang wanita telah membawa berkas penting di tangannya. Ia berjalan masuk dengan berlenggak-lenggok, dan memakai pakaian yang cukup seksi. Ia masuk ke dalam ruangan Presdir, yang merupakan atasannya.
Tok... Tok... Tok
Ia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan. "Pak, ini berkas-berkas yang anda minta, saya harap anda menyukai tugas yang sudah saya kerjakan." ucap sang wanita itu sambil tersenyum.
Pria itu hanya mengambil berkas yang ada di mejanya. "Baik, kau bisa pergi. Aku akan periksa berkas ini jika lebih dulu, jika pekerjaanmu buruk terpaksa kau harus mengulanginya kembali" ucp sang pria tersebut.
Dengan dinginnya, iya tak menatap wanita yang tengah menggodanya tersebut.
"Apa-apaan Pak Musa ini, dia sama sekali tidak melirikku walaupun sekejap saja. Dasar sialan! "Ucap batin wanita itu, yang sedang memakai-maki Musa di dalam batinnya.
"Apa kau sedang memakai-makiku di dalam batinmu?" Tanya Musa yang seolah-olah tau isi batin dari si wanita.
Ia yang merasa terpojok, hanya menelan salivanya dalam-dalam dan membulatkan matanya. Ketika Musa tahu apa yang dia katakan, ia langsung mencari alasan.
"Ti-tidak Pak, Bapak pasti sudah salah sangka" ucap sang wanita itu.
"Aku akan kembali ke ruanganku, panggil saja aku akan selalu ada di ruanganku pak." Sang wanita pergi, ia meninggalkan Musa seorang diri di ruangannya.
Musa hanya terdiam, dan tak memperdulikan sekertarisnya yang selalu menggodanya tersebut. Baginya, Meidina adalah wanita satu-satunya yang ia cintai setelah ibunya.
****
Halo-halo-halo...
Terima kasih sudah membaca novel ini, dan menjadi readers setia dari awal sampai akhir ❤
love you all, tanpa terkecuali ❤❤❤
__ADS_1