Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
KOPI ATAU SUSU


__ADS_3

Meidina terbangun dari tidurnya, ia melirik ke atas melihat jam dinding.


Ternyata sudah menunjukan pukul delapan malam, dengan segera ia bangun dan duduk di sisi ranjang sambil memegang keningnya.


"Astagfirullah, bagaimana bisa aku kebablasan seperti ini" gumamnya.


Tanpa pikir panjang, ia langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Meidina sangat merasa tidak nyaman di sekitaran area sensitifnya.


"Apa mungkin aku sedang datang bulan" gumamnya. Tanpa pikir panjang, Meidina langsung mengeceknya.


Dan benar saja, apa yang meidina pikirkan. Ia segera membersihkan badannya, setelah sudah selesai semua, ia keluar dari ruang ganti dan menatap kamar mewah itu.


Dirinya seperti merasakan kehilangan.


Dimana tuan sakha. Batin Meidina.


Ia keluar dari kamar, dan segera mencari keberadaan suaminya.


Mungkin di ruang kerjanya. Meidina sudah berada di depan ruang kerja Arsakha.


Tok


Tok


Tok


Meidina masuk mengetuk pintu, tidak butuh waktu lama dari itu, Sakha pun menjawab.


"Masuk"


Tanpa basa-basi, Meidina pun masuk ke dalam ruang kerja Arsakha.


Ceklek


Pintu terbuka, Arsakha tengah sibuk dengan setumpuk kertas dihadapannya, Meidina tidak lupa mengucapkan salam.


"Assalamual'aikum" ucapnya.


"Hmm" balas Sakha tanpa memperdulikan Meidina.


Ia sekarang hanya terfokus pada monitornya, Meidina mulai kesal kenapa Arsakha tidak menjawab salamnya, padahalkan itu wajib.


Astagfirullah, jika ada orang yang memberi salam itu harus dijawab Waalaikumsalam, bukan hmm. Punya suami gini amat ya allah.


Meidina ingin sekali ia menceramahi suaminya. Tapi niatnya ia urungkan, Sakha sudah pasti akan marah jika diberitahu. Secarakan dia memang memiliki sifat keras kepala.


"Ada apa kau kemari?" tanya Sakha, yang kini matanya menatap sang istri kecilnya.


Aduh bagaimana ini, jika aku mengatakan aku mencarinya. Pasti dia akan menertawaiku. Batin Meidina.


"Hey aneh!" tegas Sakha.


Meidina terkejut dari pikirannya, ia langsung menatap lurus ke arah Arsakha.


"Iya tuan" ucapnya dengan suara pelan.


"Aneh? aneh palamu aneh" cibir Meidina dalam hatinya.


"Tuan, apa tuan menginginkan sesuatu?" tanya Meidina.


"Tidak ada" jawab arsakha yang kembali terfokus pada berkas-berkasnya.


"Tidak ingin kopi?" tawar Meidina.

__ADS_1


"Tidak"


"Kalau teh, mau?"


"Aku tidak suka minum teh"


Tidak ingin menyerah, Meidina terus menerus menawari Arsakha sesuatu. Dengan konyolnya, Arsakha juga malah selalu menjawab pertanyaan dari Meidina, bukannya mengusir Meidina.


"Bagaimana dengan susu?" ucap Meidina, yang sudah seperti ingin menyerah.


"Hmm, boleh. Buatkan satu untukku"


Karena sudah lama juga, Arsakha tidak minum susu, itu karena Arsakha selalu meminum kopi ketimbang susu.


"Baik, akan saya buatkan" ucap Meidina hendak pergi dari ruangan kerja Arsakha.


Ia menghentikan langkahnya, otak polosnya kebingungan,susu apa yang sakha inginkan? dingin atau hangat? rasa coklat atau vanilla. Begitulah pikirnya.


"Hmm tuan, tuan ingin susu apa?" tanya Meidina pada Arsakha yang sangat sibuk.


"Susumu saja" jawab Arsakha tanpa sadar.


Gleg


Meidina menelan salivanya, bagaimana bisa seorang arsakha yang terkenal arogan ini berubah seketika menjadi lelaki mesum.


"Dasar mesum!" tegas Meidina, ia langsung meninggalkan Arsakha yang nampak kebingungan.


Ada apa dengan anak kecil itu. Gumam Sakha dalam hatinya, tanpa sadar ia telah mengucapkan hal yang sangat memalukan.


Hingga beberapa detik kemudian, ia baru tersadar akan ucapannya.


"Dasar bodoh" ucapnya sambil menampar pelan bibirnya dengan telapak tangannya.


"Bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu" ocehnya.


Meidina hendak ingin memasuki dapur, langkahnya terhenti ketika ia menangkap sosok seorang lelaki yang tengah mencari sesuatu didapur.


"Siapa disana!" ucap tegas Meidina, membuat sang pria tersebut pun kaget.


"Nyonya muda" pria itu memutarkan badannya.


"Hendra" ucap Meidina sedikit kaget.


"Sebenarnya, saya bukan Hendra nyonya, saya adiknya. Nama saya Hendri" sautnya sambil menundukkan kepalanya.


"Lalu, sedang apa kau disini?" tanya Meidina.


"Saya" seakan bingung akan menjawab apa, hendri hanya menggantungkan kalimatnya.


"Kau lapar?" tanya Meidina.


"Tidak nyonya, sebenarnya saya kesini sedang mencari cincin tunangan saya yang hilang" jelas Hendri.


"Kenapa tidak bilang dari tadi" saut Meidina, ia membantu Hendri untuk mencari cincin tunangannya.


Sedangkan diruang kerja Arsakha, ia sudah hampir menyelesaikan perkerjaannya. Lantas ia berpikir sejenak, Meidina tak kunjung datang.


Dimana anak kecil itu ,apa dia memang sedang memeras. Tidak-tidak, singkirkan pikiran kotormu Sakha. Gumam Arsakha dalam hatinya.


Meidina dan Hendri tengah mencari kesana-kesini, dan akhirnya Meidina menemukan cincin milik Hendri.


"Ketemu" ia langsung berdiri, dan memberikannya ke Hendri.

__ADS_1


"Ini, cincin pertunanganmu" ucap Meidina sambil memberikan cincin itu ke Hendri, Hendri pun segera mengambilnya.


"Terima kasih banyak nyonya muda" ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Sama-sama" Hendri berpamitan pada Meidina.


Ia harus segera berjaga di luar bersama Hendra. Jika tidak, Hendra akan memarahi Hendri dan menjewer telinga adiknya.


Kini tinggal ada Meidina seorang diri, ia membuatkan susu untuk Arsakha. Hanya ada susu murni di dalam lemari es, setelah selesai ia segera membawanya ke Sakha.


Meidina mengetuk pintu, dan sakha pun menjawabnya. Tidak lupa, Meidina selalu mengucapkan salam meskipun Arsakha tidak pernah membalasnya.


Meidina berjalan mendekati Sakha, dan Sakha tengah berpikir tentang yang dibawa Meidina ditangannya.


"Tuan, ini susu yang anda inginkan" ucap Meidina.


Ia menaruh susu itu dimeja kerja Sakha. Arsakha tampak bingung, apa itu susu asli dari tubuh Meidina.


"Kenapa kau membuatkan ku susu?" tanya Arsakha.


"Bukannya, anda sendiri yang memintanya" jawab bingung Meidina.


"Aku sudah tidak berselera, singkirkan itu dan buatkan kopi!" perintah Arsakha.


"Tapi tuan" ucap Meidina menggantung.


"Kau tidak mau? kau memang istri durhaka pada suami Meidina. Suami mu meminta kopi, jadi segera buatkanlah" saut Arsakha memasang wajah masam.


Tidak ada pilihan lagi, ia mengambil kembali susu yang berada di atas meja kerja Arsakha.


"Baik, baik. Akan saya buatkan sesuai permintaan tuan mulia" ucapnya sambil menatap geram ke arah Arsakha.


Meidina meninggalkan Arsakha, dan kembali lagi untuk memberikan kopi yang sakha inginkan.


"Ini kopi yang anda inginkan" ucap Meidina.


"Hmm"


Tidak ada kata lain kah, selain kata itu apa. Cibir Meidina dalam hatinya.


Ia manaruh kopi itu diatas meja Arsakha, dan izin untuk kembali ke kamar, sampainya di dalam kamar. Meidina membaringkan tubuhnya ke atas ranjang yang super duper empuk itu.


Drt... Drt... Drt..


Ponsel yang Meidina letakkan di atas nakas berdering, dengan segera ia pun mengambilnya dan membuka sebuah pesan yang Adinda kirimkan.


Meidina tersenyum ketika membaca pesan Whatsapp dari sahabatnya itu.


📩 : Adinda.


Lihatlah Mei, aku sedang mempercantik diriku dengan make up.



Adinda mengirim poto nya, Meidina terkekeh geli melihat make up adinda yang sedikit menor itu.


Dengan segera, Meidina membalas pesan Whatsapp dari Adinda.


📤 : Meidina


Tetap semangat merias wajahmu yang sudah cantik dinda 😆


Meidina mengirim pesan, mereka berdua saling bertukar pesan Whatsapp. Tanpa Meidina sadari, seseorang tengah memperhatikannya dan langsung mengambil ponsel miliknya.

__ADS_1


__ADS_2