Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
THANK YOU NAORA


__ADS_3

"Kau sudah mandi kah?" tanya Nico.


"Sudah, pakaianku masih ada di apartemenku. Jadi aku memakai pakaianmu dulu, tidak apa-apa kan?" tanya balik Naora.


"Tidak apa sayang, aku akan memesankan pakaian baru untuk kau kenakan" ucap Nico, ia mengambil ponsel nya di atas nakas. Dan memesankan beberapa stel pakaian untuk Naora kenakan nanti nya.


Nico turun dari ranjang tidurnya, ia memulai ritual mandinya dan juga Naora yang sudah berganti pakaian, sesuai pesanan Nico. Mereka sudah saling siap, dan akan pergi ke Rumah Sakit, untuk memeriksa kandungan Naora.


Nico sangat senang, kini dirinya akan menjadi seorang ayah. Tentunya, kabar yang begitu membahagiakan ini harus ia sampaikan pada sahabat-sahabatnya.


Arsakha sangat senang, begitu juga dengan Adam. Mereka mengucapkan selamat pada Nico dan Naora, dan meminta Nico untuk segera menikahi Naora.


"Kita sampai" ucap girang Nico, ia menarik Naora masuk ke dalam Rumah Sakit. Dan melakukan pemeriksaan.


Nico dengan setia menunggu Naora, USG ini membuat hatinya berdebar-debar. Dan betapa senangnya ia, jika Naora tengah hamil anak kembar laki-laki. Kebahagiaan beruntun yang saat ini tengah ia rasakan, berkali-kali ia mencium Naora, dan berkali-kali juga ia memeluknya.


"Thank you Naora, you the best my girl and my wife" ucap Nico yang sedari tadi memeluk Naora.


Hari berganti begitu cepat, Nico dan Naora pergi dari Belanda dan segera pulang ke Italia. Kedatangan nya di sambut hangat oleh Papi Edson, dan beberapa anak buah lain nya.


Papi Edson menghampiri Nico,l yang sudah berada di dalam Mansion.


BRUGH


Papi Edson meninju perut Nico, Nico merintis kesakitan dan hanya memegangi perutnya. Naora hanya terkekeh, meskipun ada rasa kasihan pada Nico.


"Dasar anak sialan, aku tidak mendidikmu untuk menghamili wanita!" tegas Papi Edson.


"Tapi" ucap Nico, yang belum selesai bicara namun sudah dipotong oleh Papi Edson.


"Tidak ada tapi-tapian, secepatnya Papi akan menikahi mu dengan Naora!" ucap tegas Papi Edson, ia pergi meninggal kan Nico dan Naora.


Aku memang akan mengatakan hal itu. Batin Nico.


"Nico, kau tidak apa-apa kah?" tanya Naora.


"Aku tdak apa-apa sayang" ucap Nico, menahan sakitnya.


"Kalau begitu, aku pergi ke kamarku dulu" ucap Naora, meninggalkan Nico seorang diri.


Cih, mereka sama saja. Umpat Nico dalam hatinya.


.........


Di Jepang, Adam tengah termenung. Seseorang mengagetkan nya, ia adalah Ayah Hamzah.


"Adam kau kenapa?" tanya Ayah Hamzah.


"Aku merindukan adikku ayah, kenapa ayah melarangku untuk tidak mencari nya" ucap Adam penuh dengan nada kesedihan.


"Biarkan adikmu menjalani hidup yang baru, dengan membuka lembaran baru Dam. Ayah yakin, suatu hari nanti ia akan kembali" jelas Ayah Hamzah.


Adam hanya membuang nafasnya dengan berat. Ia menutup kedua mata dan menyandarkan diri nya di sebuah kursi kebanggaan.


Adam menjalankan perusahaan nya kembali, sedangkan Ayah Hamzah fokus mengurus klan yakuza nya yang sebentar lagi akan bubar. Meskipun Ayah Hamzah adalah leader yakuza, Adam tidak mempedulikan nya.

__ADS_1


.........


Musa sudah bersiap diri, untuk menjemput Meidina di sekolahnya. Ia harus sabar menunggu hingga Meidina lulus dari studi nya, agar dapat bisa meminang Meidina. Meskipun abi dan umi nya melarang Musa untuk mendekati Meidina, karena terlihat jelas Meidina tidak memiliki perasaan sedikit pun terhadap Musa.


Musa memegangi perutnya yang sedikit mulas. "Apa ini terjadi, karena aku memakan sambal di pagi hari tadi" gumam nya.


Meidina masuk ke dalam mobil Musa, ia mengucapkan salam dan Musa pun membalasnya. "Apa kau ingin makan malam bersama?" tanya Musa pada Meidina.


"Tidak kak, terima kasih" tolak Meidina.


"Tidak apa" ucap Musa yang tersenyum.


Semakin kesini, perut nya semakin sakit. Ia sudah tak tahan lagi. Dan terjadilah, hal yang seharusnya terjadi.


Suara gas angin Musa keluar, ia tidak tahan akan bau kentut nya sendiri. Mobil berhenti secara mendadak, tentu saja membuat Meidina kaget.


"Ada apa kak?" tanya Meidina dengan kebingungan.


"Maaf Meidina, aku kentut tadi" ucap Musa yang tertuduk malu.


"Tidak apa-apa kak" ucap santai Meidina.


Dia tidak mencium nya? padahal bau nya seperti telur busuk tadi. Batin Musa.


Ia menjalankan mobilnya kembali, sampai di rumah Meidina, Meidina pun turun dari mobil Musa. "Terima kasih kak, apa mau mampir dulu?" ujar Meidina.


"Tidak terima kasih, aku harus kembali ke kantor" ucap Musa sambil tersenyum.


"Hmm, baiklah. Hati-hati di jalan" ucap Meidina.


Sejujur nya, Musa sangat malu, "Meidina pasti mencium bau nya, hanya saja ia menutupi nya. Arghhhhh, dasar bodoh kau Musa" gumam Musa, sambil memukul stir mobil nya.


Meidina masuk ke dalam rumah nya, rumah yang tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil. Setidaknya, ada tempat untuk diri nya berteduh.



.........


Di Kantor perusahaan Musa, ia memanggil Daffa untuk berhadapan dengan nya. Memastikan, apa hidung nya masih berfungsi atau tidak.


CEKLEK


Pintu terbuka, Daffa masuk ke dalam ruangan Musa. Ia menatap heran atasan nya tersebut, dan kesal karena Musa selalu membuat nya jengkel.


"Presdir memanggil saya?" tanya Daffa.


"Hmm, kemarilah" ucap Musa, Daffa pun menuruti nya, ia mendekati Musa.


Suara gas Musa berbunyi lagi, Daffa kaget dan ia mencoba menahan tawa nya.


"Apa kau mencium bau nya?" tanya Musa membuat heran Daffa.


"Iya presdir" jawab pelan Daffa.


Sejujur nya, Daffa ingin mengatakan bahwa bau gas Musa sangat lah bau. Ia mencium nya saja sudah sangat mual, seorang Presdir tampan ini buang angin gas di depan asisten nya. SANGAT MEMALUKAN!

__ADS_1


"Bagaimana bau nya? katakan lah dengan jujur" ucap Musa.


"Sejujur nya, bau nya sangat bau presdir" ucap polos Daffa, ia menjepit hidung nya dengan ibu jari dan jari telunjuk nya.


"Tapi, kenapa Meidina biasa saja mencium nya" heran Musa.


"Mungkin, nona Meidina punya penyakit tentang indra menciuman nya" saut asal Dafa.


BRAK


Musa menggertak meja.


"Berani sekali kau mengatakan calon istriku penyakitan!" tegas Musa.


"Mohon ampun, dan maaf Presdir" ucap Daffa membungkuk kan kepalanya.


"Sudah, pergilah" tegas Musa.


"Baik Presdir " ucap Daffa, ia membungkuk kan badan nya. Dan pergi meninggalkan Musa.


Lihatlah orang itu, dia menjadi gila karena cinta sekarang. Celoteh Daffa dalam hatinya.


Ponsel Musa berdering, ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya.


Arsakha?. Gumam nya dalam hatiMusa.


Musa menjawab telepon dari Arsakha, ia mengucapkan salam dan Arsakha pun membalas nya.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Sakha di dalam telepon.


"Alhamdulillah, kabar ku baik. Bagaimana dengan mu? " tanya balik Sakha.


"Alhamdulillah baik juga" jawab Sakha.


"Sahabatku akan menikah bulan ini, apa kau ingin ikut?" tanya Sakha


"Insya allah, akan ku usaha kan untuk datang" jawab Musa.


"Sakha, apa kau sudah menemukan mantan istrimu?" tanya Musa.


"Hmm belum, bagaimana dengan mu. Apa kau sudah menemukan gadis yang kau cari? " tanya balik Sakha.


"Sudah, kau tahu tidak. Aku sangat bahagia, ketika menemukannya" ucap Musa sambil tersenyum.


"Benarkan? aku turut bahagia mendengarnya" ucap Sakha.


"Lusa nanti, aku akan melakukan perjalanan bisnis ke negaramu. Bisa kah nanti, kau menyempat kan waktu untuk bertemu dengan ku? " tanya Sakha.


"Tentu saja, dengan senang hati" ucap antusias Musa.


"Terima kasih sultan" ucap Sakha dibarengi tawa.


"Hahaha, aku tidak sekaya sang raja bisnis sepertimu Sakha" balas Musa.


Mereka saling tertawa bersama, entah bagaimana jadinya jika mereka berdua saling tahu. Bahwa mereka adalah saingan dalam cinta, merebut kan hati Meidina.

__ADS_1


Musa menutup telepon nya, dan mereka kembali terfokus pada pekerjaan nya. Menjadi seorang Presdir, bukan lah pekerjaan yang mudah. Apalagi, masalah tentang cinta.


__ADS_2