Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
MAAF UNTUK SORAYA


__ADS_3

Soraya menghempaskan tangan Sakha, ia menutup wajahnya dengan bantal dan Sakha segera mengambil kembali bantal tersebut.


"Soraya, katakanlah ada apa?"


Soraya bangkit dari ranjang, ia akan turun dan pergi namun Sakha menariknya sampai-sampai Soraya terjatuh kedekepan dadanya.


"Kenapa Hemmm?"


Soraya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, "Tidak apa-apa"


"Katakanlah? Kenapa kau menangis? bukankah kau mencintaiku?" lirih Sakha.


Soraya melepaskan dekapan dari Sakha, ia menangis dan mengatur pelan nafasnya yang tak beraturan.


"Mencintaimu? aku tidak peduli padamu sama seperti kau tidak peduli padaku!" tegas Soraya, Arsakha menghela nafasnya dengan panjang.


"Kau kenapa? tidak biasanya kau seperti ini?" tanya Sakha penuh kebingungan.


"Aku... Aku kriminal kan Sakha?"


Pertanyaan dari Soraya membuat Sakha menyiciptkan kedua matanya, karena Soraya mendadak mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah kriminal.


"Katakan Sakha! Aku kriminal di koran itu kan! kenapa kamu tidak memberitahuku! Aku ini seorang pembunuh kan! Aku membunuh istrinya Pratik..."


Pecah sudah isak tangis Soraya tak terbendung lagi, ia menarik kembali Soraya ke dekapan dadanya.


"Kata siapa hey? kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? kamu bukan kriminal Soraya, jadi jangan katakan itu lagi ya..." lirih Sakha.


"Kau jahat Sakha, kau jahat!. Kau menyembunyikannya dariku selama ini. Pantas saja kau membawaku pergi, apa kau tahu aku sangat terluka ketika mendengar ini semua!"


Arsakha nampak terkejut, karena ia tak pernah menyangka jika Soraya akan tahu tentang masalah yang tengah menimpanya.


"Soraya tahu? tapi aku sudah menutup rapat-rapat berita ini darinya. Kenapa dia bisa tahu seperti ini! ini tidak bisa di biarkan!" batin Arsakha.


"Aku ingin pulang, aku tidak mau kabur. Followers sosial mediaku akan terus mencari-cariku dan mengatakan jika aku kabur dari masalah ini" ucap Soraya.

__ADS_1


Jujur saja, Arsakha kesulitan untuk memahami keadaan ini namun ia harus segera menyelesaikannya secepat mungkin.


"Baiklah, kita akan kembali lusa" jelas Sakha.


"AKU MAUNYA SEKARANG ARSAKHA!" tegas Soraya.


"Tidak, kau tidak boleh kamana-mana!"


"Kenapa kau mengurungku? apa aku ini adalah buronan?" tanya Soraya pada Sakha.


Sakha menghela nafasnya dalam-dalam, ia memeluk sejenak Soraya dengan penuh kelembutan mengusap punggungnya itu.


"Sakha, apa kau percaya bahwa itu aku?" Sakha hanya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.


"Iya aku percaya, kamu tidak akan melakukan hal seperti itu Sora"


"Tapi, kenapa kamu pergi melarikan diri? Jika kamu tidak bersalah jangan takut mengambil keputusan." ujar Sakha, ia melepaskan pelukan Arsakha.


"Aku butuh tempat pelarian, walaupun hanya sebentar saja aku ingin pergi Sakha. Tapi aku heran, kenapa berita itu sudah lama dan sekarang malah naik daun lagi" ucap Soraya dengan penuh kebingungan.


Soraya terdiam, mengingat Pratik adalah mantan pacarnya yang masih ia harapan sampai saat ini.


"Sakha kau percaya kan, aku tidak melakukan hal kejam seperti itu..." lirih Soraya dengan nada yang memelas.


Sakha mengecup pelan kening istrinya itu, "Iya aku percaya. Dan kau juga jangan melakukan hal yang keji seperti itu ya" ucap Sakha.


Soraya menggangguk pelan.


"Iya Sakha, aku tahu itu. Lalu bagaimana dengan semua ini? Aku tidak mau berdiam diri dan terus bersembunyi seperti ini"


"Kau bersabarlah, Pratik dan istrinya akan melakukan konversi pers untuk skandalmu ini. Aku dan juga Nico akan melakukan tindakan dengan mencari penyebab ini semua, kau cukup diam dan jangan pernah coba untuk kabur laginya, Soraaa."


Sakha meyakinkan kepada Soraya bahwa semua akan baik-baik saja. sore pun hanya menganggu kumpulan, Iya mau tidak mau harus menuruti apa kata suaminya itu.


...***...

__ADS_1


Di sebuah Cafe seorang pria bernama David menunggu seorang wanita yang bernama Jingga, yang nampak serius menatap berkas tersebut sambil tersenyum penuh kepuasan.


"Akhirnya Setelah sekian lama dendamku terbalaskan juga Soraya." gumam David diiringi gerak tangan yang begitu menyeramkan.


"Seharusnya sedari dulu aku melakukan rencana ini, agar kau dendamku terbalaskan dengan cepat" sambungnya.


Jingga datang, ia berjalan dengan anggun sambil menggunakan kaca mata hitamnya. Tak heran, jingga begitu sangat mirip dengan Soraya.


"Hai Davit, apa kau sudah lama menungguku?" tanya Jingga.


"Hemm, duduklah jingga. Dan rayakan kemenangan kita kali ini" ujar Davit.


"Aku sudah menuruti apa kemauanmu, sekarang aku tuntut kau menuruti apa kemauanku!" jelas Jingga.


David tersenyum, " Kau senang saja, kau mau apa? karir atau harta yang melimpah?" David yang seolah-olah mengejek Jingga namun ia menawarkan harta pada hingga yang takkan terhitung nilai besarnya.


"Aku tidak ingin apa-apa, Aku hanya ingin pergi jauh dari dunia ini. setelah balas dendamku Pada Soraya selesai, Aku ingin menggantikan hidup Soraya untuk selamanya. Juga, aku ingin Soraya lenyap David! Dengan begitu kita masih bisa berkomunikasi, tanpa melibatkan siapapun yang akan tahu hubungan kita." ucap Jingga serius.


David tersenyum ketika mendapatkan ide cemerlang dari Jingga, sepertinya ia melupakan suatu hal yang akan membuatnya begitu kewalahan nanti ketika mencoba menghabisi Soraya


" Aku bisa saja, tapi sepertinya untuk menghabisi Soraya bukanlah suatu hal yang mudah. Terlebih lagi Arsaka yang menyimpan Bodyguard dan mengetatkan keamanan di apartemen itu, sangatlah sulit bagiku menaruh koran berita tentang Soraya saja aku butuh perjuangan yang sangat ekstra, dan itu hampir saja membuatku terbunuh. Kau tahu Jingga, aku sampai rela naik ke atas balkon hanya untuk menaruh koran lama itu." ucap David yang mengeluarkan keluh kesahnya.


"Aku tidak peduli David! Aku ingin kau menghabisi Soraya atau aku pergi itu saja, jika kau tidak bisa menghabisinya aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali dan menjadi buronan para anak buah Arsaka." timpal Jingga.


"Baiklah, aku akan mencoba membuat rencana untuk menghabisi Soraya. Kau tidak usah perlu khawatir Jingga, kau aman ketika bersamaku."


Senyum Seringai David pancarkan, sedangkan Jingga nampak begitu senang ketika David akan mulai rencana untuk menghabisi Soraya.


" Maaf Soraya, hal ini aku akan benar-benar menggantikan posisimu! " gumam jingga pada batinnya.


Waktu terus berlalu, malam semakin larut perbincangan di antara dua insan itu yang tadinya begitu serius dan sekarang mulai begitu membuka obrolan bercanda riang titik Jingga Yang penasaran akan dendam David, ia mencoba memberanikan untuk bertanya.


" David, Kenapa kau memiliki dendam pada Soraya?" tanya Jingga dengan serius pada David.


"Aku tidak memiliki dendam padanya, aku hanya memiliki dendam pada Arsaka. Karnanya, semua investor ku pergi meninggalkanku dan beralih ke perusahaannya. Kau tahu jingga, saat itu aku sudah sangat stress dan ingin bunuh diri saja"

__ADS_1


"Sampai aku sempat memohon agar Sakha tidak mengambil semua investorku, namun dia pandai bicara dengan mengatakan bahwa semua investor itu pergi meninggalkanku tanpa kemauannya Mereka pergi karena aku kurang becus mengelola perusahaan. sehingga mereka pun ragu-ragu untuk menanamkan modal di perusahaanku" jelas David yang telah tenggelam dalam emosi.


__ADS_2