
..."Ketika senyummu membuatku candu, eh astagfirullah. Bini orang"...
...- Arsakha -...
.........
Apa artinya pernikahan, jika tanpa kebahagiaan yang menyelimuti di dalam nya? ibaratkan sayur asam tapi hambar rssanya. Begitulah gambaran kecilnya.
Seperti hubungan Arsakha dan Soraya yang telah menggantung bak gantungan baju, sebuah pernikahan yang di selenggarakan dengan dadakan serta penuh pengorbanan.
Dimana antara nyawa, harga diri dan cinta ia korbankan, di bandingkan harus memilih ego nya yang tak akan pernah habis-habis.
Berbanding terbalik dengan pernikahan Musa, yang awalnya ia paksa Meidina untuk menikah dengannya, pada akhirnya Meidina mengungkapkan perasaan nya juga.
Takdir tidak ada yang tahu, tidak selama nya cerita berjalan mulus. dan tidak selamanya kisah asamara akan berakhir dengan sang tokoh utama pria.
Rasa kebimbangan dan lelah selalu menghantui dirinya yang sudah semakin dewasa. Arsakha Virendra termenung di balkon kamarnya.
Menatap bintang-bintang di angkasa, begitu banyak dan indah nya bertebaran di langit yang indah.
"Andaikan aku bisa memutar waktu, aku ingin memutar waktu ketika Nurul masih menjadi istriku" gumamnya.
Angin menghembus dengan kencang, suara pepohonan yang di terpa angin mulai terdengaran.
"Aku butuh selimut bernyawa" lirihnya, sambil masuk ke dalam dan menutup balkon nya.
Hujan pasti akan turun, begitulah pikirnya.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukan pintu terdengar, ia meliriknya dan memerintahkan sang pengetuk agar masuk ke dalam.
"Masuk"
Ceklek
Orang itu menarik hendle pintu, dan menutupnya kembali. Berjalan mendekati Arsakha, sang Presdir yang gagah.
"Sakha!" sautnya.
"Papa? ada apa papa kemari?" tanya Sakha.
"Kita Perlu bicara" ucap Papa Rendra, ia duduk di ranjang king big size Arsakha.
__ADS_1
"Kemana istrimu?" tanya Papa Rendra.
"Ntahlah, di makan buaya mungkin" jawab Sakha ngasal.
"Sakha, ini sudah sangat serius. Kau harus mencarinya, dan memberikan kami cucu"
Ucapan Papa Rendra berhasil membuat Sakha keheranan, ia melirik sang ayah dan melototi-nya.
"Cucu?, papa buta! aku lumpuh. Bagaimana aku bisa memproduksi pabrik kecebongku, jika berdiri saja aku tak mampu" ucap Sakha dengan nada ketegasan.
"Terserah, bagaimana pun juga kau harus punya pewaris"
Arsakha memutar bola matanya, percuma berdebat dengan pria paruh baya di depannya. Karna sifat keras kepala adalah keturunan dari Papa Rendra.
"Aku tidak bisa papa, kelumpuhan ku permanen" lirih Arsakha mengiba pada ayah kandungan nya.
"Gampang, kau tinggal ganti saja pakai kaki yang baru. Beres kan?" celoteh nya.
Dia pikir ganti kaki sama seperti ganti ban kali ya? rasa malas dan kesal kembali menyerangnya, ingin rasanya Sakha bunuh diri. Namun ia harus tahan, karena dosanya sudah menumpuk sebesar gunung.
Mana mau ia menambah nya lagi, sudah lah. Rasanya percuma saja.
"Papa, jika kau ingin. Kenapa tidak memproduksi nya sendiri saja bersama mama?" ucap Arsakha so polos.
"Kau ingin ku hajar Sakha? mama mu sudah tua" ketus Papa Rendra.
"Sudahlah, berurusan dengan mu hanya membuat kepala papa pusing dan sakit"
Pria paruh baya itu keluar dengan kesal dari kamar Sakha, ia membanting pintu kamar Arsakha dengan kasar.
Sakha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang ayah durhaka tersebut.
"Ck, bahkan dia tak menanyai kabar ku bagaimana. Malah meminta cucu, minta saja ke atas langit" ucap Arsakha bedecak kesal.
Drt... Drt...
Ponsel nya berbunyi dengan segera ia mengambil nya yang tepat berada di depan nya. Senyumnya kembali terukir, ternyata Meidina meneleponnya.
"Aku bahagia jika hanya mendapat notice dari Meidina saja, tapi. Dia sudah menikah dengan temanku" ucap sendu Sakha sambil melamun.
Ia melirik ponsel nya yang bergetar tanpa sadar, sedari tadi Meidina tengah memanggil.
Dan, deg...
__ADS_1
Sakha tersadar dan segera mengangkat teleponnya dengan gagah, tidak ada raut kesedihan sejauh ini.
"Ya halo" ucap Arsakha dalam sambungan telepon tersebut.
"Halo assalamualaikum, bagaimana kabarmu sampai saat ini?" suara itu begitu famliar di benak Sakha, ia mencoba mengingat nya dengan jelas.
"Waalaikumsalam, alhamdulillah baik. Bagaimana dengan kabar mu juga musa?"
"Syukur lah, sama aku pun baik" ucap Musa di sambungan telepon.
"Lusa aku berangkat ke Indonesia, bisa kah nanti kau meluangkan waktumu. Ada suatu yang inginku obrolankan berdua" ucapnya serius.
Rasa aneh muncul di pundak Arsakha, mengapa musa mengajaknya pergi. Bukankah mereka sedang bermusuhan.
"Hmm baiklah, akan aku usahakan" saut Arsakha.
"Baik terima kasih banyak" ucap Musa.
Ada rasa penyesalan mengapa ia menjawab telepon dari Meidina jika yang telepon adalah Musa.
Mereka berdua berghibah bersama, sambil merasakan angin sepoi-sepoi yang dingin.
Rasanya sedikit lucu, ketika mendengar dua laki-laki mengosip. Hari semakin larut, Arsakha meminta menyudahi sleep call nya dengan musa.
Ia ingat besok akan di laksanakan pemilihan karyawan-karyawan baru di perusahaan nya.
"Sudah, jaga dirimu. Dan, jaga istrimu. Hati-hati kemalingan" saut Arsakha di dalam telepon.
"Ya, itu tidak akan terjadi" balas santai Musa
"Cih, jika aku jadi pebinor sungguhan. Habis kau Musa" batin Arsakha mencaci Musa.
.......
.......
Dah ya besok lagi othor update habis pulang sekolah, sekarang ngantuk mau tidur 🙇🏻♀
just for you information : cerita babang Adam gak othor tambahin, karena nantinya bakalan panjang banget. Yang ada malah berbelit-belit, seperti masalah hidup hea.
Othor jarang update kemungkinan karena dua faktor, Sibuk dan Revisi.
...Terima kasih...
__ADS_1
...atas pengertian nya selama ini!...
...🐥...