Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
KEMBALINYA DEVANYA


__ADS_3

Adam segera membawa Anya pergi ke rumah sakit, ia menatap sendu sang pujaan hatinya.


"Mengapa bisa jadi seperti ini" gumam Adam.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Adam kalang kabut ketika melihat Devanya yang sudah tergurai lemas.


"Bertahanlah Anya, kau pasti akan selamat" ucap Adam.


Sekitar 25 menitan Adam akhirnya berhasil membawa Anya ke rumah sakit. Ia membawa Anya ke UGD, dan menunggu Anya di periksa namun masih dalam pengawas Adam.


"Ini tidak beres" gumam Adam, ia mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya dan menelepon seseorang.


'Nico' Adam menelepon Nico.


Sambungan telepon itu terhubung, Nico mengangkatnya dan mereka berdua beebicara di sambungan telepon.


.........


Arsakha nampak kebingungan dengan apa yang Ayah Hamzah katakan, "Jadi, Devanya tidak meninggal Yah? Dia diculik dan disiksa oleh musuh bisnis keluarganya?" tanya Sakha yang tersentak kaget ketika mendengar kabar tersebut.


Ayah Hamzah mengangguj dengan pelan, ia mengambil sebuah benda pipih itu dan memberikannya pada Sakha.


"Ponsel? untuk apa ayah? " tanya Sakha yang kebingungan.


"Kau akan tahu nanti, setelah kau mendengarnya."


Ayah Hamzah menyetel audio yang di kirimkan oleh seseorang, dan orang tersebut adalah Anya. Ia meminta tolong pada Ayah Hamzah, mengingat Ayah Hamzah adalah mertua dari adiknya.


"Pak, tolong aku... aku sedang berada di jepang, seseorang telah menculik dan mensiksaku selama tiga tahun lamanya di bali. Aku kabur setelah aku menyelinap masuk ke dalam koper penumpang, namun siapa sangka aku berakhir di jepang... tolong aku, tolong katakan pada Musa untuk segera menjemputku... Aku sangat ketakutan. "


Bagai bak disambar petir Arsakha melongo tak percaya. "Dia, Dia DEVANYA?" tanya Arsakha, dan ayah Hamzah pun mengangguk pelan.


"Kita harus bicara pada Nico, Sakha. Untuk masalah ini, hanyalah dia yang bisa mengatasinya" ujar Ayah Hamzah.

__ADS_1


Arsakha pun mengangguk kan kepalanya, "Iya ayah, dia pasti pasti sedang mencari juga" ucap Arsakha.


"Kau yakin bisa?" tanya Ayah Hamzah, Sakha mengangguk pelan.


"Iya ayah, bagaimana pun juga. Masalah ini harus segera diselesaikan, ini sudah lama dan bahkan sudah sampai Bertahun-tahun. Aku kasihan melihat Adam, selama ini dia selalu melupakan Devanya."


Ayah Hamzah merasa iba pada putranya, bagaimana jika sang putra menemui Anya sang mantan pujaan hatinya. Apa yang akan Adam lakukan jika mendengar pernyataan ini.


Sayangnya, Adam telah mengetahuinya sebelum ia di beritahu.


.........


Tokyo, Jepang


Seseorang berhasil menyelinap masuk ke dalam bangkal rawat VIP Devanya, pria berawakan tinggi dan juga kekar itu membuat Devanya kesulitan bernafas lantaran melepaskan alat bantu nafas Devanya.


Setelah mengobrol dengan Nico, Adam masuk ke dalam bangkal Devanya untuk melihat perkembangan Devanya. Namun saat ia masuk, ia dikejutkan dengan devanya yang sudah kehabisan nafas. Adam spontan kaget melihatnya yang hampir saja tewas kehabisan oksigen.


Adam berteriak sehingga suaranya itu terdengar dari luar, Adam yang kebingungan nampak tengah serius memasang kembali. Ia juga tidak lupa untuk memanggil dokter dan suster, dengan langkah yang tergesa-gesa. Adam berada di depan pintu ruangan sang dokter lalu mendobrak pintu dokter.


"Ada apa Tuan, Bisakah anda sedikit sopan saja di sini." Tegur sang dokter Adam tidak mau ambil pusing, ia langsung menarik kerah baju sang dokter dan menyeretnya ke bangkalanya Devanya.


" Dia sepertinya kesulitan bernafas, coba kau periksa alat bantunya. Apakah baik-baik saja" ucap Adam.


Sang dokter memeriksa dan juga sang suster yang membantunya. "Sepertinya ini sengaja dilepas. Apa Anda yang lepasnya tuan?" Tanya sang dokter pada Adam, yang ia mengira Adamlah pelakunya.


Adam menyorotkan matanya dengan tatapan tajam, melihat sang tokoh dan suster yang begitu seperti meninterogasi nya.


"Jangan bodoh kalian ya! Aku yang membawanya kemari dan aku juga prianya. Mana mungkin aku membiarkan wanitaku mati. Yang benar saja, cepat periksa dia! Jika dia mati akan ku hajar kau sampai tersisa nama saja."


Tegas Adam dengan nada penuh ketegasan di setiap kalimatnya, sambil menatap tajam kedua matanya. Sepertinya memang bukan Adam pelakunya.


"Lalu siapa?" tanya sang dokter kembali memasang alat bantu nafas Devanya dengan seperti semula, dan benar dibantu dengan sang dokter.

__ADS_1


Adam nampak frustasi melihat Devanya yang terkujur dingin dan kurus itu, "Dokter. Apakah kau tahu penyebabnya dia begini?" tanya Adam pada sang dokter.


Sang dokter hanya mengurutkan keningnya. "Kenapa? tanya saya tuan? Seharusnya saya yang bertanya kepada Anda kenapa banyak luka lebam pada tubuh beliau" Tanya balik sang dokter


Adam mengangkat kedua bahunya, "Mana saya tahu, saya juga berjumpa tadi siang bersamanya di jalan" ucap spontan Adam.


"Bukankah, anda prianya ya tuan? Kenapa kau bilang dia bertemu di jalan tadi siang?"


"Itu memang, benar aku adalah prianya tapi pria di masa lalunya tepatnya pada 3 tahun yang lalu dan saat ini aku bertemunya kembali dengan keadaan yang berbeda." Sang dokter pun mengangguk paham.


"Oh jadi dia ini mantanmu" Adam membuka kedua matanya dan mencengkram kembali kerah baju kemeja sang dokter.


"Aku prianya, bukan mantannya, dengar! Kau cepat urus dia, dan kau tidak ada hak untuk menanyaiku soal itu, hanya aku yang berhak!" tegas Adam sang suster pun menghentikan aksi Adam yang akan siap menghantamkan tinjunya dipipi si dokter.


"Sudah tuan, sudah. Di sini rumah sakit jangan mencari kegaduhan di sini! Pergilah keluar dan kami akan mengurus wanitamu hingga sembuh." Adam kembali menurunkan kedua tangannya dan menunjuk pada sang dokter pria.


"Awas saja jika kau juga menyakiti wanitaku! akan kupastikan Kau hanya tersisa nama saja!" Ucap Adam keluar dan menunggu di luar.


Ia mengirim pesan pada Sakha, bahwa Devanya telah ditemukan. setelah Devanya siuman nanti ia memiliki 1000 pertanyaan yang harus ditanya jawab oleh Devanya.


Adam memijit pelan pelipis matanya, ia merasakan nyeri yang begitu hebat di otaknya yang terlintas.


"Aku pusing, karena memikirkan kenapa kembalinya Devanya. Bukankah dia sudah tiada, lalu bagaimana dia bisa di sini. Diculik? Bagaimana bisa, bukannya dia tidak memiliki musuh sama sekali walaupun di kampus dan juga Frizka adalah teman baik. Mengapa sekarang dia sangat seperti ini, aku harus mencari tahunya dan membalaskan dendamnya"


"Musa cepatlah kembali, kakakmu sudah kembali. Kau juga harus kembali dan menyelesaikan masalahmu dengan adikku. Jika saja kau bukan suami dari adikku, pasti aku akan tetap menunggu Devanya sampai sejauh ini, tuhan menakdirkan kita sebagai ipar. Dan juga sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu, dengan menikahi Anya."


Ucap Adam pada batinnya, ia sejenak berpikir untuk menyelesaikan jalan masalah ini. Tentunya Ia membutuhkan orang-orang yang paling ahli di dalam bidangnya, siapa lagi jika bukan Nico si mafia.


***


Author : "Karepmu welah mas adam"


SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA YANG KE 1443 H. Pada kurban ngga nih?, kaya author dong kurban.

__ADS_1


*Kurban Perasaan*


__ADS_2