Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
KEDATANGAN ADELIA


__ADS_3

Meidina membukakan pintu, diikuti Arsakha di belakang.


CEKLEK


Pintu terbuka, Bi Min tengah berdiri tegak sambil tersenyum ke arah Meidina dan Arsakha.


"Bibi kira, tuan muda dan nona muda belum bangun. Sarapan sudah bibi siapakan di lantai bawah tuan dan nona muda" ucap Bi Min, ia terasa sangat canggung karena Arsakha menatapinya dengan sorot mata yang tajam.


"Bibi permisi dulu tuan muda, dan nona muda"


Bi Min membungkukkan kepalanya, dan pergi sesegera mungkin. Meidina hanya membalas Bi Min dengan senyuman, Arsakha hanya diam tidak bergeming menatap kepergian Bi Min.


"Antar aku ke bawah" perintah Arsakha pada Meidina, ia hanya menuruti nya saja.


"Baiklah" Pasrah Meidina.


Meidina membantu Arsakha untuk menuruni anak tangga, meskipun Di Mansion Arsakha tidak seperti di mansion keluarga Virendra, yang memiliki lift khusus untuk Sakha pribadi.


Namun itu semua tidak membuat Meidina menyesali, atau tidak betah untuk tinggal Di Mansion milik Arsakha.


Sebagai seorang istri, Meidina harus menuruti apa yang suaminya perintahkan, dan segala larangannya juga. Terkadang Arsakha juga dengan sengaja membuat Meidina kewalahan, hingga ia harus sakit-sakitan untuk menjaga Arsakha.


Mereka kini sudah dilantai bawah, Bi Min sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua majikan nya.


"Tuan dan nona. Silakan duduk, sarapan sudah siap" ucap Bi Min


"Baik bi, terima kasih" ucap Meidina sambil tersenyum.


"Sama-sama nona" saut Bi Min.


Mereka berdua menyantap sarapan nya masing-masing, hingga Adam sudah tiba di gerbang depan menunggu mereka berdua. Terasa sangat canggung sekarang, entah itu Arsakha atau Meidina.


Adam dan Meidina membantu Sakha masuk ke dalam mobil, di perjalanan mereka terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas di depan sana, tidak ada pilihan lagi selain menunggu. Beruntung ini masih pagi, sehingga tidak akan membuat Meidina terlambat kesekolahnya.


Tok


Tok


Tok


Seseorang mengetuk kaca mobil, membuat ketiga nya melirik. Adam membuka kaca pintu mobil, anak lelaki itu bersebelahan dengan tempat duduk Arsakha, Tetapi Arsakha tidak mempedulikan nya.


"Permisi, kami berjualan tisu. Mungkin tuan mau membelinya" ucap anak lelaki itu.


"Tidak" jawab ketus Sakha.


Anak lelaki itu akan segera pergi, Meidina dengan segera memberhentikannya.


"Tunggu, aku ingin membelinya" Ucap Meidina, anak lelaki itu pun tidak jadi pergi.


"Berapa harga satu tisu nya?" tanya Meidina.


"Hanya sepuluh ribu saja kak" jawab anak lelaki itu.


"Aku ingin membeli satu, berikan satu padaku" perintah Meidina.


Anak lelaki itu pun memberikan nya pada Meidina, satu box tissu besar berharga sepuluh ribu itu sangat kecil bagi Arsakha, tetapi tidak untuk anak lelaki tersebut.

__ADS_1


Ada yang membeli nya saja, sudah suatu keberuntungan baginya. Dengan murah hati, Meidina memberikan nya uang seratus ribu miliknya kepada anak lelaki tersebut.


"Kak, aku tidak memiliki kembaliannya" saut anak lelaki itu.


"Tidak apa-apa, kau boleh memiliki kembaliannya" ujar Meidina sambil tersenyum.


"Terima kasih kak"


Tanpa sepatah kata apapun, Meidina hanya membalas dengan senyuman. Mobil mulai berjalan kembali, mereka meninggalkan anak lelaki tersebut, terlihat jelas senyuman di bibir Adam ketika melihat kemurahaan hati Meidina.


Sesudah mengantar Meidina ke sekolahnya, Adam mengantar Arsakha ke perusahaannya.


"Adam" saut Arsakha.


"Iya tuan"


"Apa kau menyukai Meidina?" tanya Arsakha.


Adam terkejut, mengapa sahabatnya mengatakan hal seperti itu. Mungkin Arsakha sedang cemburu, itulah yang Adam pikirkan.


"Tidak Sakha, bagaimana bisa aku menyukai istri sahabatku sendiri. Aku hanya merindukan Nurul" jawab Adam menahan sedihnya.


"Aku tahu Dam, sampai saat ini Nurul tidak bisa kita temukan. Aku juga merindukannya" saut Arsakha memelas.


"Sudahlah Sakha, kita berdoa saja. Semoga adikku sekarang baik-baik saja" ujar Adam.


"Hmm"


Mereka sampai Di Perusahaan, Adam membantu Arsakha keluar dari mobil dan mulai masuk ke dalam perusahaan nya.


Para karyawan membungkukkan badan nya, mereka semua menghormati Arsakha. Sang raja bisnis, pebisnis yang masih sangat muda sudah memiliki julukan raja. Adam mendorong kursi roda Arsakha sampai di depan ruangan CEO.


"Sakha, kita harus berbicara"


Tidak ada angin, dan tidak ada hujan. Apalagi badai, Adelia tiba-tiba datang ke perusahaan Sakha, membuat Sakha dan Adam terkejut di buatnya.


"Adam tinggalkan aku"


"Tapi"


"Tidak apa-apa Dam" ujar Sakha meyakinkan Adam.


Adam pergi meninggalkan Arsakha, dan juga Adelia di dalam.


"Ada apa kau datang kemari?" tanya Sakha pada Adelia.


"Sakha, sampai kapan kita seperti ini?" tanya balik Adelia.


"Sabarlah sayang, tidak mudah untuk meyakinkan semuanya" saut Sakha.


"Apa Nico juga?"


Arsakha mengerutkan alisnya, ia menatap heran Adelia.


"Kenapa memang?" tanya Arsakha penasaran.


DEG

__ADS_1


Detak jantung Adelia berdetak kencang, ada satu rahasia yang Adelia sembunyikan dari Arsakha tentang dirinya dan Nico.


"Kau sendiri kan tahu, sahabat-sahabatmu sangat mengekangmu untuk dekat denganku. Apalagi Nico, dia sangat tidak ingin aku berada di sampingmu" ucap Adelia memelas.


Arsakha menarik tangan Adelia seperti dulu lagi, detak jantung Sakha tak karuan selalu berdetak dengan kencang. Adelia mengambil ancang-ancang untuk mengambil kesempatan.


Ia mencium bibir Arsakha, dan Arsakha pun membalasnya.


Meskipun Arsakha pernah merasakan bibir Adelia beberapa kali. tetap saja, tidak semanis bibir Meidina yang kini membuat Sakha candu menginginkan nya lagi dan lagi.


Sakha harus menampar dirinya sendiri, ketika hatinya mengatakan ia sudah jatuh cinta pada Meidina. Ia harus menutup hatinya rapat-rapat hanya untuk Adelia.


Cukup lama mereka bertukar ludah, tidak ada yang mengganggu mereka. Hingga tangan Adelia mulai nakal, ia hendak ingin memasuki tangan nya ke dalam celana Arsakha. Arsakha yang masih sadar memberhentikan aksi heroik dari Adelia.


"Apa ada Sakha, kau tidak mau?" tanya Adelia.


"Tidak Lia, ini salah" jawab Sakha.


Adelia tidak berbicara, ia segera turun dari pangkuan Arsakha dan lebih memilih duduk di sofa.


Arsakha bingung apa yang harus ia lakukan. "Jangan marah Lia" saut Sakha, Adelia masih diam membisu.


"Baiklah, akan aku transfer 100 juta untukmu berbelanja. Setelah itu, kau jangan marah lagi padaku ya" ujar Sakha.


Adelia tersenyum dan menghampiri Arsakha.


"Baik, terima kasih banyak sayang"


Cup


Adelia mengecup singkat bibir Arsakha, ia berpamitan dengan Arsakha lalu meninggalkan Sakha. Arsakha dengan segera mengirim kan sejumblah uang ke rekening Adelia.


Di italia, Nico sedang berseorang diri menikmati sebatang rokok di tangannya. Ayahnya tak kunjung ingin memberi tahu. Itulah hal, yang membuatnya semakin frustrasi.



"Tuan" saut Mikey.


"Ya"


"Ayah tuan, dan lelaki itu datang ingin mengunjungi tuan"


Nico segera berdiri, dan membuang rokoknya.


"Dimana mereka Mike?" tanya Nico.


"Di ruang tamu tuan" jawab Mikey.


Segera mungkin Nico pergi, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk dengan seorang lelaki yang seusia ayahnya.


"Sepertinya mereka teman baik" gumam Nico.


Ia melihat ayahnya tengah bercanda gurau, bagai kan sahabat lama yang baru bertemu setelah sekian lama.


"Ayah" saut Nico.


Ayah Nico melirik, dan lelaki itu pun juga meliriknya dengan tersenyum. Nico terheran-heran, siapa sebenarnya lelaki yang ada disamping ayahnya itu.

__ADS_1


.........


Jangan lupa like,komen,vote dan rate đź–¤


__ADS_2