
Bandara, Soekarno-Hatta
Lepas tiga hari, Adam dan Devanya di sambut kepulangannya ke Indonesia. Sakha, Nico dan juga Musa menyambut kepulangan sahabatnya itu.
"Adam" sahut Devanya.
"Apa dunia ini sudah aman dari penjahat?" tanya Devanya
Adam yang duduk di samping Devanya hanya tersenyum, sambil melirik wanita itu dengan seksama.
"Devanya, di dunia ini tidak selamanya kau akan bertemu dengan orang jahat. Dan begitu pun juga, kau tidak akan selamanya bertemu dengan orang jahat. Maka dari itu, terus berhati-hatilah."
Ucapan Adam ada benarnya juga, kita tidak bisa terlalu percaya pada seseorang meskipun orang tersebut adalah keluarga kita sendiri.
Abi Jefri dan Umi Kulsum yang berada di belakang hanya bisa mendengarkan saja. Mereka bebas dari kurungan Tuan Marvin saja sudah sangat bahagia, apalagi ketika mengetahui Devanya yang masih selamat.
"Devanya." sahut Adam, melihat Devanya yang terdiam.
"Hmm, kenapa?" tanya Devanya
Devanya pun melirik Adam, ia menatap wanita itu dengan lekat. "Tidak, aku hanya merindukan Musa... Apa dia sudah tahu, jika aku sudah ditemukan?" tanya Soraya pada Adam.
"Dia sudah tahu, kau bersabarlah... Ia akan sangat bahagia ketika melihat kalian semua." ucap Adam.
Pesawat masih berada di atas awan, mereka memilih untuk beristirahat. Sampai akhirnya, mereka sudah sampai di bandara dan sudah mendarat di indonesia.
Mereka di sambut dengan hangat oleh para sahabatnya. Adam dan Devanya berjalan dengan pelan, begitupun dengan Abi Jefri dan Umi Kulsum yang mengikutinya dari belakang. Mereka semua yang melihat keberadaan Devanya, Abi Jefri dan Umi Kulsum yang masih hidup itu.
__ADS_1
Membuat mereka semua terkejut, namun merasakan rasa yang begitu haru melihat mereka semua ternyata baik-baik saja.
"Devanya, Abi Jefri dan Umi Kulsum. Lihatlah itu, mereka sudah menunggu kita semua. " sahut Adam.
Niko dan Arshaka Melambaikan kedua tangannya, mengisyaratkan pada Adam membawa mereka ada di situ. Tangis yang begitu haru pun pecah, Musa mmencoba sebisa mungkin menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ketika melihat keluarganya yang kembali utuh.
Dan begitu juga dengan Meidina, yang merasa bahagia ketika Musa melihat keluarganya kembali lagi. Arsakha merangkul bahu Soraya, ia menatap lekat istrinya itu dan melihatnya dengan seksama.
Mengingat, Soraya adalah Soraya adalah putri dari Abi Jefri.
"Sora... " Sahut Sakha pada Soraya
Soraya pun melirik Arsakha, ia memperlihatkan sebuah senyuman kecut pada Sakha. Sakha pun mengerti akan derita yang istrinya itu tanggung. Begitu pun juga dengan Abi Jefri, ia melihat Soraya yang terdiam melihat Abi Jefri.
Rasanya sangat menyesal, namun sudah tak bisa lagi untuk merenunginya karena waktu telah mengajarkan kita bahwa. Tidak selamanya kita bisa berubah dari masa lalu, karena waktu untuk berubah sudah habis.
Soraya tidaklah salah, yang salah adalah Jefri dan juga Ibu Soraya yang telah menghianati Umi kultum. Bagaimanapun juga, Soraya hanya menginginkan disayangi oleh kedua orang tua yang utuh itu.
Umi kulsum pun merangkul Soraya, yang kala itu tengah termenung di saat Musa dan juga Meidina, hendak akan mendekati dan akan mencium telapak tangannya. Umi Kulsum segera membawa Abi Jefri mendekati Soraya, mereka semua terkejut dan juga dengan Mama Devi yang melihat hal tersebut.
Ia pun hanya tersenyum, melihat Umi Kulsum yang begitu tabah juga tulus menerima semua takdir yang telah Tuhan rencanakan ini.
"Dia putrimu kam, anggaplah dia seperti anak kandungmu sendiri, Jefri." Ucap Umi Kulsum mengatakan itu untuk Jefri.
Dan juga ia melihat Soraya, Umi meminta izin untuk merangkul Soraya. Arsakha pun mengerti dengan isyarat yang Umi Kulsum katakan yang ingin merangkul Soraya, dan Umi memberikannya pada Abi Jefri.
"Ini adalah putrimu, dan ini adalah ayah kandung. Anggaplah kita seperti keluarga sendiri ya sayang..."
__ADS_1
Ia pun tak kuasa menahan tangisnya l, tangisnya pecah dan memeluk Umi Kulsum. "Menangislah sayang, menangislah..."
"Umi tahu, kamu sudah lelah dengan cerita dunia ini. Begitupun juga dengan Umi, namun kita harus bisa kuat menjalani ini bersama-sama ya sayang. .." Ucapannya membuat ya semakin termotivasi, Abi Jefri memeluk kedua wanita itu dan mencium pucuk kepala Soraya.
Ia pun menangis, melihat kedua wanita itu menjadi korban perasaan karena keserakahannya. Devanya dan juga Musa yang melihat hal tersebut, menghampiri Abi dan Uminya.
Lalu memeluk mereka dengan erat, keluarga mereka yang renggang kembali bersatu. Soraya tak bisa menghentikan air mata yang jatuh itu, Devanya dan Musa yang melihat itu pun meneteskan air matanya. Semuanya pecah, begitupun juga Arsakha yang melihat istrinya itu.
Kebahagiaan keluarga mereka yang pernah hilang, akhirnya bisa kembali dengan datangnya Soraya. Menambah kebahagiaan mereka juga tentunya. Waktu terus berjalan, Adam membawa Devanya pulang ke Mansion Abi Jefri yang berada di Indonesia.
Begitu juga dengan Musa, yang membawa kedua orang tuanya itu. Medina yang melihat Musa yang tengah menyetir itu hanya bisa menatapnya.
"Kenapa skenario tuhan serumit ini, kenapa harus terjadi pada kita semua" ucap Meidina.
Musa mencium punggung tangan kanan istrinya itu. "Entahlah, kita hanya bisa mengikuti alurnya saja. Bagaimanapun juga, tuhan pasti mengirimkan masalah ini agar kita menjadi lebih bisa baik lagi, tidak gampang percaya pada seseorang dan juga menghukum kesalahan dengan rasa penyesalan"
"Jangan berburuk sangka kepada tuhan, kita harus selalu bersyukur karenanya kita bisa dapat berpikir untuk keluar dari masalah ini." Medina pun mengangguk, Ia yang melihat Moeza tertidur di kursi belakang hanya tersenyum pelan melihatnya.
"Kau lihat dia, dia sama persis seperti dirimu ketika tertidur." Musa pun melirik ke belakang, dan mendapati Moeza yang tertidur dengan begitu pulas sambil membuka sedikit mulutnya.
Ia seketika terkekeh geli melihatnya, ternyata benar dengan kata pepatah. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.
Moeza secara tidak langsung telah mewarisi gaya tidur milik Musa, mereka hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya tersebut, tak terasa waktu terus berputar mereka semua telah sampai di Mansion Abi Jefri.
Abi Jefri berterima kasih pada mereka semua yang telah membantunya sampai saat ini. Begitu juga dengan Adam, Niko dan juga Arsaka mengucapkan selamat atas kembalinya Abi Jefri dan juga Umi Kulsum, dan Devanya juga tentunya.
Mereka semua berharap, semoga di masa depan kejadian seperti ini tidak lagi terjadi lagi. Mereka berharap semoga semuanya baik-baik saja, dan juga Soraya yang nampak kesedihan itu.
__ADS_1
Devanya merangkul Soraya dan berkata padanya, bahwa mereka akan menerima Soraya dengan sepenuh hatinya.