
...Tidak ada kata terlambat, untuk berubah...
...menjadi yang lebih baik lagi...
...-Leonadam Abraham-...
.........
Mereka berdua tersentak kaget, ketika mendengar apa yang di ucapkan Pratik.
"Dasar bajingan kau!" pekik Nico.
"Tuan juga sama, sebelum menikah dengan Nona Naora suka tidur bersama wanita lain" ucap Pratik yang membela diri.
"KAU!"
Nico maju ke depan untuk siap akan menghajar Pratik, namun Adam menahan nya.
Sedangkan Arsakha nampak tidak mempedulikan keadaan nya, atau pun tentang kevirginan Soraya.
"Berhentilah bertengkar, aku muak melihat wajah receh kalian bertiga" ucap Arsakha ia mendorong roda kursi rodanya dengan mandiri.
Meninggalkan ke tiga pria tersebut.
"Mau kemana kau Sakha?" tanya Adam
"Bukan urusan mu"
Arsakha meninggalkan mereka bertiga, ia bertemu dengan Abi Jefriel di lorong.
"Nak" saut abi Jefri pada Sakha.
"Iya"
"Bagaimana operasinya? kapan mereka akan melakukan operasi nya?" tanya Sakha
"Sekitar 10 menitan lagi, tapi. Meidina harus di periksa juga demi keadaan, dan kesehatan janin di dalam kandungan nya"
"Biar Sakha yang mengantar Meidina menjalani pemeriksaan"
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Tidak om, kapan Meidina akan menjalankan pemeriksaan?" tanya Sakha serius.
"Sebentar lagi, kami sudah menyiapkan semua nya"
"Hm, baiklah"
Sakha mengangguk kan kepalanya, tak lama Meidina datang dengan baju gamis yang baru.
Tidak berlumuran darah seperti tadi, ia menghampiri Abi Jefri dan Arsakha.
"Abi, bagaimana? apakah operasi nya akan di lakukan?" tanya Meidina yang menghampiri dengan sedikit berlari.
"Nak, jaga langkah mu. Jangan sampai terjatuh" ucap abi menasihati Meidina.
"Maaf bi, dimana umi?" Meidina celingak-celinguk mencari keberadaan Umi Kulsum.
"Umi sedang membeli makanan untuk kita semua" jawab Abi Jefri,yang hanya di balas anggukan oleh Meidina.
"Meidina" ujar Sakha.
"Hm iya"
"Kau harus melakukan pemeriksaan kandungan, kau mau kan?" ucap Sakha.
"Iya, tapi jangan sekarang"
"Tidak apa-apa nak, Sakha akan mengantar mu. Apa kau mau bersama umi atau yang lainnya?" tanya abi pada Meidina.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bi, selama tidak merugikan waktu kak Sakha"
"Sama sekali tidak merugikan ku Meidina" saut Arsakha.
"Kau pergilah ke dokter kandungan bersama nak Arsakha, kami akan sambil menunggu di depan ruang operasi Musa"
"Baik abi"
Meidina mendorong kursi roda Arsakha, Sampailah datang ke ruangan dokter kandungan. Sambil membawa sebuah buku pendaftaran, yang abi jefri sempat berikan.
"Kak Sakha serius?" tanya Meidina
"Sudahlah, kau sudah mengatakan yang sekian kali nya" celoteh Sakha.
Mereka berdua masuk, dan dokter kandungan wanita itu pun meminta Meidina untuk berbaring di ranjang pasien.
Sakha menatap layar Usg yang tengah di depan mata nya.
"Bagaimana kandungan nya dokter?" tanya Sakha.
"Istri bapak baik-baik saja, dan juga bayi kalian sangat sehat" jawab dokter.
Deg.
"Jika dulu aku tidak menyia-nyia Meidina, mungkin dulu aku akan mengantar Meidina usg dan putra ku lahir ke dunia ini"
Seketika itu, Sakha teringat akan putranya, yang dulu sempat menghampiri dirinya saat koma.
"Maafkan aku Meidina, Nurulku. Aku sangat menyesalinya"
Monitor usg itu menunjukan dua janin yang tengah berada di dalam rahim Meidina.
"Selamat, kalian akan memiliki anak kembar. Kemungkinan besar anak laki-laki" ujar Dokter.
Sebuah senyuman muncul di bibir Arsakha.
.........
"Ada apa bu"
"Satu minggu lagi kau akan menikah, jadi bersiaplah"
"Tapi bu"
"Tidak ada tapi-tapian, kau harus menikah segera" ucap tegas sang ibu.
"Baiklah, tapi dara ingin tahu. Siapa pria yang akan Soraya nikah?" tanya soraya
"Dia adalah pria yang kau selamatkan"
"Pria yang aku selamatkan, apakah itu tuan Sakha"
"Sudah jangan banyak bertanya, siapkan dirimu. Kau harus pergi untuk memesan gaun pernikahan sekarang"
Dara menyeret lengan anak gadisnya, ia pergi ke butik dekat kota nya.
"Jika benar tuan Sakha akan menikah denganku. Apakah itu karena terpaksa" batin Soraya.
Dara menghubungi Arsakha, yang tengah menemani Meidina melakukan pemeriksaan.
"Ya?" ucap Arsakha di dalam panggilan.
"Aku pegang janji mu untuk menikahi putri ku, bersiaplah satu minggu lagi kau akan menikah" ucap jelas dara.
"Hm, baiklah. Aku akan menepati nya"
Tut.... Tut...
Telepon panggilan itu terputus, Dara melanjutkan menyetir mobil nya dan di samping nya ada Soraya yang sempat mendengar pembicaran mereka berdua.
__ADS_1
"Ibu, apakah tuan Sakha terpaksa menikah denganku?" tanya Soraya.
"Tidak Raya, justru dia sendiri yang mengatakan akan menikahi mu dan memberikan harta kekayaan nya padamu"
Soraya jelas tak percaya, ia lebih percaya pada dirinya sendiri. Bahwa pernikahan ini di dasar oleh paksaan, mereka pasti memaksa Sakha. Pikir Soraya.
Sedangkan Meidina, ia merasa bersalah atas apa yang sudah Arsakha korban kan.
"Kak Sakha" saut Meidina, lirih Sakha yang tengah mengurus pemeriksaan USG Meidina.
"Iya, ada kenapa?" tanya Sakha
"Kak Sakha yakin akan menikahi wanita itu?" tanya Meidina sekali lagi.
"Hm iya, aku mau tidak mau harus menikah dengan nya"
"Tapi kak"
"Jangan khawatir, asalkan kau bisa hidup bahagia dengan Musa. Aku pun juga bahagia"
Sakha sedikit memutihkan air mata nya, ia mengajak Meidina untuk pergi karena pemeriksaan sudah selesai.
Tepat di depan ruang operasi, semuanya sudah berkumpul di depan sana. Menunggu kabar dari sang dokter yang tengah meng- operasi Musa.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Sakha pada teman-teman nya.
"Semua berjalan normal, kita tinggal menunggu operasi berjalan sukses saja" saut Nico.
"Sayang, kau belum makan. Mari makan dulu, Umi sudah menyiapkan makanan untukmu" ucap Umi kulsum pada Meidina.
"Iya umi"
Meidina menurut, ia menghampiri Umi Kulsum. Sedangkan Arsakha mengajak kedua sobat astagfirullah nya pergi.
"Kemana?" tanya Nico
"Ikut saja, aku tidak akan meniduri mu intinya" celoteh Sakha.
"Cih, Najis"
Tak hanya Adam dan Nico, Pratik juga ikut bersama Arsakha and the gang Handsome But Dangerous.
Mereka ber empat duduk di sebuah taman Rumah Sakit, Adam dengan setia mendorong kursi roda milik Arsakha.
"Katakan, apa yang ingin kau katakan!" ucap Nico.
"Aku akan menikah satu minggu lagi" saut Arsakha.
"APA!" ucap mereka bertiga tak percaya.
"Kau yakin akan menikah dengan nya?" tanya Adam pada Sakha
"Aku yakin, selama mereka tidak mengganggu dan menyakiti Nurul ku. Aku rela melakukan apa saka, tidak peduli kedepannya akan seperti apa" ucap jelas Arsakha, sambil menutup kedua matanya.
"Sakha" lirih Adam.
"Aku tahu, penyesalan itu selalu datang. Dan biarkan aku menebus kesalahan ku, dengan membuat Meidina bahagia meskipun bukan di dalam pelukan ku" ucap Sakha.
...Titik tertinggi mencintai seseorang adalah, mengikhlaskan nya bahagia bersama orang lain...
...-Arsakha Virendra-...
Sedikit info, Author nulis nya sambil revisi bab-bab sebelum nya. Jadi kalau ada penggantian nama tokoh, dan latar. Mohon di maklumi, itu semua demi kemudahan readers thor biar gak terlalu beribet pas bacanya.
Untuk ending, kemungkinan akan di perpanjang, othor gak bisa sebutin sampe eps berapa nya. Intinya Musa selamat, dan anak-anak Meidina akan lahir ke dunia ini.
Hanya saja akan ada percikan bawang-bawangan, tentang kelahiran anak Meidina dan Musa.
Terimakasih sudah membaca novel ini, jangan lupa tinggalkan jejak ❤
__ADS_1