Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
TELEPON DARI TUAN MARVIN


__ADS_3

Saat soraya dan Meidina berada di dalam mobil, seorang pria baru datang menghampirinya. Mereka membukakan mobil hitam tersebut, dan membawa Medina dan juga Soraya naik ke mobil pria itu.


Soraya dan Meidina tidak bisa melawan, karena tubuhnya telah terikat dan mereka juga tidak bisa berteriak, karena mulut mereka telah di lakban.


Bagaimana pun, tidak ada yang bisa mereka lakukan hanya selain berdoa di dalam hatinya masing-masing. Soraya nampak menyesal perbuatannya, karena telah melanggar apa yang suaminya katakan.


Ia seharusnya membatalkan pertemuannya bertemu dengan Meidina. Jika saja ia tidak jadi berangkat, mungkin saja penculikan ini tidak akan pernah terjadi.


Seorang pria itu pun menelepon seseorang yang menelepon dengan begitu serius. Lalu tertawa dengan sangat kencang, pandangan Soraya berhasil teralihkan.


"Kenapa dengan orang itu?" batin Soraya.


Soraya menatap jelas siap laki-laki itu, ia sepertinya sangat mengenalinya. Namun di mana, Soraya berpikir keras mencari tahu siapa lelaki itu.


"Perawakan dia itu seperti Ayah Marvin"


Ia tahu betul itu siapa,  "Ayah" tanya saya pada dirinya sendiri.


"Kenapa ayah ada disini? dan kenapa dia menculikku dan juga Meidina?"


Terdapat 1000 tanda tanya di benak Soraya, mengingat selama ini ayahnya sangat baik padanya. Namun setelah Soraya memasuki usia remaja, sang ayah pergi meninggalkannya dan juga sang bunda.


Ia menjadi anak gadis yang kuat untuk menahan cobaannya. Dan sekarang, sang ayah kembali lagi dengan sifat yang sangat berbeda. Jauh di saat  Soraya yang masih kecil.


"Ayah, kenapa Ayah melakukan semua ini." Soraya masih bergumam dibatinnya.


Ia menatap tak percaya dengan apa yang telah ia ketahui selama ini tentang ayahnya.


Di lain tempat, Arsakha tengah kalang kabut atas penghianatan Tuhan Marvin, yang mengkhianati Arsakha dengan membawa sejumlah saham perusahaannya.


Yang terbilang cukup sangat besar, sehingga membuat Saka rugi begitu banyak beberapa trilyun hilang begitu saja.


"Sekarang kita mau kemana pak presedir? " tanya seorang  sekertaris wnaita pada Arsakha.


Arsakha menghela nafasnya, mecoba menenangkan pikirannya yang sudah acak-acakan.


"Kita pulang ke indonesia, batalkan semua agenda rapat dan juga tutup semua perusahaan di cabang. Karena ada pengkhianatan selama ini." ucap Sakha

__ADS_1


Sangat sekretaris pun hanya mengangguk, dan membungkukan kepalanya dengan hormat.


"Baik pak, akan saya siapkan kepulangan bapak malam ini." jawabnya.


Sang sekertaris itu pun pergi dan meninggalkan Arsakha, "Sialan kau Marvin!" pekik Arsakha.


Seketika itu pendengarannya pun teralihkan ketika ada telepon yang berbunyi. Sakha mengambil ponselnya, lalu mengangkat telepon tersebut dengan sangat marah.


"Ada apa kamu menghubungiku dasar lu sialan?! Cepat kembalikan semua saham yang kau curi itu. Jika tidak aku akan menjebloskanmu ke dalam penjaga!" tegas Sakha.


Marvin hanya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Sebelum kau mencoba menjebloskanku ke dalam penjara. Coba kau pikirkan, kau pilih saham perusahaanmu atau kedua wanita yang paling berharga bagimu?" tanya Marvin.


Mendengar perkatan Marvin yang membuat Arsakha pun tersentak kaget mendengarnya. "Kau! Apa yang telah kau lakukan!. Jangan  apa-apa kan keluargaku! Ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku!" ucap Arsakha penuh ketegasan disetiap kalimatnya.


"Kau memang benar, tapi kau telah dinikahi putriku" sambung  Marvin.


Arsakha diam sejenak, ia teringat kembali pada Soraya yang kala itu  pergi bersama Medina. "Kau menculik Soraya dan Madinaku?!" ucap Arsakha.


"Jika ia, memang kenapa? Apa kau keberatan denganku menantuku?." Ucap Marvin yang kala itu tanpa dosa, Sakha berpikir keras bagaimana caranya agar melepaskan mereka berdua.


"Aku tahu mereka tidak berurusan denganku, tapi kalian semualah yang memiliki salah denganku." Ucapan Tuan Marvin berhasil membuat Arsakha naik darah.


"JANGAN KAU APA-APA KAN MEREKA! JIKA KAU MENYAKITI MEREKA. MAKA AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN UNTUK MEMBAWAMU KE SEL MAFIA NICO!"


Arsakha sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, beruntungnya ia berada di apartemen yang kedap suara. Sehingga tidak ada satu orang pun yang dapat mendengar suaranya.


"Aku hanya ingin mendapatkan kembali perusahaanku dari Rendra, Apakah aku salah?" tanya Tuan Marvin.


"Kau salah, Virendra Company di diri oleh ayahku dan itu tidak ada sangkut pautnya denganmu!"


Tuan Marvin semakin tertawa dengan sangat kencang, mendengar perkataan bodoh dari Arsakha.


"Aku tidak akan menculik seseorang, jika orang tersebut tidak ada masalah dengan! Soraya bukan anakku. Dan juga, aku menculik Meidina untuk memancing Hamzah keluar.


Hamzah memiliki dendam kepadaku, dan kau tahu Sakha? kedua orang tua dari Musa Aldebaran telah aku sekap, dan juga Soraya tidak akan mengetahuinya. Jika Jefriel adalah  orang tua kandungnya.


Mereka telah menghianatiku, mereka adalah temanku sewaktu dulu. Namun dunia ini memang sempit, maka jangan berharap kau bisa lolos lagi! Apa kau masih ingat dengan Tuan Martin, Arsakha Virendra Alfarizqi? Dia adalah kakakku! 

__ADS_1


DAN KALIAN SEMUA, TELAH MEMBUNUHNYA DASAR KEPARAT!."


Bleg...


Arsakha terdiam ketika mendengar itu kalimat akhir, ia tak pernah percaya bahwa Tuan Marvin adalah adik dari Tuan Martin. Musuh Ayah Hamzah, yang dulu mereka kalahkan. Dan juga, ayah dari tunangannya. Yaitu adalah Adelia.


"Kenapa? Apa kau terkejut?" tanya Tuan Marvin sedikit mengejek.


"Apa maumu?!" tanya Arsakha penuh ketegasan.


"Temui aku di sebuah pelabuhan, aku akan mengrim alamatnya padamu, temui aku malam ini. Jika tidak, aku akan menenggelamkan Soraya dan juga Medina.


Oh, aku sampai lupa. Jefri dan juga Kulsum akan aku tenggelam kan. Karena Devanya telah berhasil kabur. Dan sekarang, semua keputusan berada di tanganmu. Kau pilih mana? kekayaan atau orang-orang terpenting bagimu?"


Pertanyaan Tuan Marvin begitu menjebak Arsakha. Arsakha bingung dengan apa jawabannya, ia memijat pelan pelipis matanya dan mencari jawaban yang tepat.


"Malam ini, jam 11 malam. Aku tunggu kau seorang diri, Tuan Muda Arsakha Virendra Alfarizqi!."


Marvin memutuskan sambungan telepon itu, Sakha hanya menghela nafasnya dengan berat. Sungguh, ia tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya.


Sakha membuka kembali ponselnya, ia mencari nama sekretaris kantor di sana. Sakha menghubunginya, selang beberapa menit panggilan telepon itu pun tersambung.


"Halo pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"BATALKAN PENERBANGAN SAYA MALAM INI!" ucap Arsakha dengan nada penuh ketegasaan.


"Tapi pak~" lirih sang sekretaris.


"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN! SEKARANG CEPAT LAKSANAKAN TUGASMU!"


"Baik pak presedir!."


Sang sekertaris pun tidak mampu berkata banyak, ia mengerti apa yang telah Arsakha perintahkan. Merupakan suatu hal yang bodoh jika menolak perintah dari Arskha. Ia hanya mampu menerima dan menghela nafasnya, sifat Sakha yang begitu kekanak-kanakan, dan juga masih terbilang seperti remaja labil, pikirnya.


...***...


Hai semua, untuk duoble up mungkin aku sedikit telat ya. Karena aku sedang ada turnamen olahraga, see you di bab berikutnyanya.

__ADS_1


__ADS_2