Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BAB 51. MASALAH NICO


__ADS_3

Nicho menaruh kembali ponsel nya ke atas nakas. Dan mulai menidurkan diri nya yang sudah sangat lelah.


Sedangkan di lain tempat, Jessica juga tersenyum penuh arti. Ia memandangi lama foto Nicho yang berada di depan nya.


"Aku akan segera membalaskan dendam sepupuku, lihat saja nanti. Presdir Nicho" ucap Jessica sambil tersenyum jahatnya.


Flashback On.


Waktu itu,tanpa sengaja Jessica melihat sepupunya berada di dalam club malam.


"Kenapa Adelia disini" gumam nya penuh penasaraan.


Jessica menghampiri Adelia, yang tengah menemani seorang lelaki tua di samping nya.


"Adelia" saut Jessica, Adelia pun menoleh.


Jessica datang, dan duduk di sebelah nya.


"Kenapa kau di sini? " tanya Jessica. Penuh penasaraan.


Adelia Melihat sekeliling nya, anak buah Nicho kebanyak yang berjaga di dalam sudah mabuk, dan lelaki tua di samping nya juga.


Adelia menceritakan semua nya dari awal, hingga ia bertemu dengan Nicho. Dan juga, penyebab atas semua derita yang Adelia tanggung seorang diri.


Jessica yang mendengar perkataan sepupu nya, sedikit kesal karena Adelia sudah menghancurkan rumah tangga bos nya.


Tapi ia juga kasihan terhadap Adelia, karena Nicho lah yang membuat sepupu nya menderita.


"Kau tenang saja, aku akan membalaskan dendam mu" ucap Jessica.


"Benar kah" ucap Adelia, dengan mata berbinar-binar.


Jessica mengangguk kan kepalanya, yang mengartikan jawaban iya.


Flashback Off.


Hari sudah berganti, cahaya matahari menyilaukan mata indah dan bulu mata lentik Nicho.


Seseorang membuka gorden kamar Nicho, wanita berbadan kecil itu menatap ke arah balkon. Ia mengambil asbak yang di dalam nya terdapat banyak batang rokok.


"Dia sangat suka merokok, tidak boleh aku biarkan ini berkelanjutan " gumam nya.


Nicho terbangun, ia mengucek kedua matanya. Ia menatap sinis wanita yang berada di depan nya, Nicho menduduki dirinya di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Kau sudah bangun, apa kau ingin minum?" tanya wanita itu pada Nicho.


"Tidak" ketus Nico.


"Sedang apa kau di sini, cepat keluar!" ucap Nicho, dengan suara sedikit tegas.


"Tidak mau" saut gadis itu.


Wanita itu berjalan ke arah Nicho, dan duduk di samping nya. Ia menunjukan asbak milik Nicho yang penuh dengan batang rokok, dan sisa-sisa rokoknya.


"Lihat ini, apa kau ingin mati muda?" ucap nya.


Tapi Nicho tidak mempedulikan ocehan seorang gadis. Nicho memilih kembali untuk tidur, dan menyelimuti diri nya hingga pucuk kepalanya.


"Pergilah Naora,aku ingin tidur. Sebaiknya kau jaga saja markas ku, agar tetap aman" saut Nicho.


Naora menarik selimut yang Nicho gunakan, meskipun ia sudah tahu jika Nico bertelanjang dada.


Hanya memakai celana boxer saja, tidak membuat Naora malu atau pun canggung. Baginya, melihat lekuk tubuh Nicho sudahlah hal biasa.


"Hey bangunlah, ini sudah siang. Kau ingin menjadi pemalas, kau juga perlu datang ke perusahaan Presdir Nicho" ucap Naora, yang masih bermain tarik-tarikan selimut dengan Nicho.


"Tidak mau, kau saja yang pergi. Aku izin sakit" jawaban konyol Nicho membuat Naora ingin tertawa. Seorang CEO perusahaan ternama meminta izin sakit, yang benar saja.


"Nico kau mendengarku tidak!"


Naora meletakan asbak rokok milik Nico,di atas nakas.


"Jika kau tak kunjung bangun, akan ku seret kaki mu keluar!" tegas Naora, dengan suara meninggi.


Nicho tersenyum sinis, sudah pasti Naora tidak akan mampu menyeret tubuh nya. Karena badan Naora kecil, tidak akan sebanding dengan tubuh badan Nico.


"Coba saja" tantang Nicho dengan menyilang kan tangan nya.


Merasa tertantang, Naora pun segera menarik ujung kaki Nicho.


Dengan sekuat tenaga ia menarik, namun tubuh Nicho tak kunjung bergerak atau pun berpindah sedikit pun.


"Kau sangat berat Nicho!" umpat Naora.


Brugh.


Naora terjatuh ke lantai, dengan segera ia meringis kesakitan.

__ADS_1


Melihat Naora terjatuh Nico dengan segera bangun, dan menghampiri nya.


"Kau tidak apa-apa kan?" ucap Nicho dengan panik, raut wajah nya seketika berubah menjadi khawatir.


Naora hanya menggeleng kan kepala nya,meskipun begitu tidak membuat Nico tertipu. Nico pasti tau, Naora kini tengah kesakitan karna nya. Ia menggendong Naora ala bridal style, dan menidurkan nya di ranjang big milik nya. "Kau istirahat lah dulu, aku akan segera pergi ke kantor" ucap Nico, ia meninggalkan Naora.


Nico melihat, air mata Naora menetes. Ia semakin merasa bersalah, Nico mengguyur badan nya dengan shower.


" Aku menganggap nya sebagi adik ku sendiri, bukan kekasih atau pun calon istriku. Aku hanya tertarik pada Jessica " batin Nico.


Setelah ritual di kamar mandi nya selesai, ia masuk ke dalam ruang ganti ganti. Sama hal nya seperti Musa, tetapi Musa malah semakin bersemangat karena hari ini. Meidina memintanya di temani ke toko buku, tentu saja kesempatan emas ini tidak Musa sia-sia kan.


Musa meminta agar Dafa lah, yang menghandle pekerjaan kantornya. "Mungkin sekalian kencan saja,hais tidak boleh Musa. Kau ingin abi memarahi mu" gumam Musa, menatap diri nya di cermin.


"Bagaimana jika aku mulai meminang nya saja, apa dia akan terima" ucapnya


Nico mendapatkan laporan dari Mikey, jika perusahaan mengalami penggelapan dana. Seseorang sudah membantu orang tersebut, dengan memasukan orang dalam. Di dalam perusahaan. Nico masih terlihat santai, ia tak panik seperti Mikey.


Sudah pasti,perusahaan Papi Edson akan bangkrut. Mikey sudah stres dibuatnya, sama hal nya seperti Dafa yang mengurus perusahaan Abi nya Musa.


Kedua asisten ini, dibuat stres oleh ulah Tuan mereka. Yang satu,akan pergi bersama wanita yang ia cintai, yang satu nya lagi. Mengkhawatirkan wanita,yang tengah berbaring di ranjang nya. Nico menghampiri Naora dan mengelus rambut panjang nya, ia meninggalkan Naora dan menyuruh nya untuk beristirahat saja.


Nico turun dari kamar nya, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Papi Edson melihat tingkah anak nya, seperti tidak biasa nya.


"Pi, jangan suruh-suruh Naora. Dia sedang sakit, awas saja jika dia di suruh beres-beres mansion ini. Akan ku pecat semua pelayan di sini! " ancam Nico papi nya, dan juga pada semua nya.


Papi Edson terkekeh kecil, ia memandangi putra nya dan tersenyum. "Sebenarnya kau menyukai Naora kan, hanya saja kau terlalu gengsi mengakui nya" ucap Papi Edson.


Deg


Hati kecil Nico mengatakan iya, tapi tidak untuk ego nya. Ia hanya menyukai Jessica, yang merupakan sekertaris perusahaan sahabat nya.


"Tidak" ketus Nico.


"Jangan berbohong, papi tau kau menyukai Naora" saut Papi Edson.


"Sudahlah,aku ingin pergi ke kantor" ucap Nico, ia pergi meninggalkan Papi Edson yang tengah menyengguk kopi nya. Papi Edson memandangi kepergiaan putra nya, ia sudah biasa akan sikap putra nya.


Musa sudah bersiap menjemput Meidina, ia datang mengendarai mobil mahal milik nya. Meskipun mendapat teguran,dari Abi . Tidak membuat Musa mengurung kan niat nya, ia sudah sampai di depan rumah Meidina. Musa membuka kan pintu mobil untuk Meidina, Meidina nampak membawa jinjingan besar. Itu merupakan buku-buku novel nya, Musa membantu Meidina masuk ke dalam mobil.


"Maaf sudah merepotkan" ucap Meidina


"Tidak apa-apa" ucap Musa dengan tersenyum.

__ADS_1


"Merepotkan? aku lebih suka memanggil nya kesempatan emas. Karena bisa berdua denganmu" batin Musa.


__ADS_2