
...“Bukan kita yang salah, namun waktulah yang salah saat mempertemukan kita”...
...–Arsakha Virendra...
.........
Mereka semua tertawa melihat Moeza yang begitu menurut pada Arsakha. Meidana dan mama devi datang menghampiri Moeza, namak jelas moeza yang begitu ketakutaan ketika melihat ibunya.
‘’Papa… Mama Jayat cama oja’’ lirih Moeza yang berlindung di dada bidang arsakha.
Arsakha lantas melirik meidina yang tengah mendengus kesal melihat putranya sendiri.
“Meidina, jangan terlalu memarahi Moe. Dia masih kecil, Mei’’ ujar ayah hamzah.
“Itu benar Meidina, mau bagaimana pun juga. Moeza adalah anak kecil yang belum bisa memikirkan baik atau buruk, ia hanya memikirkan apa yang ia sukkai saja” saut papa rendra.
Meidina mengangguk dan segera mengambil Moeza yang berada di atas paha arsakha. Namun, Moeza menggeleng-gelengkan kepalanya dan memeluk Arsakha dengan sangat erat.
“Moe mawu cama papa… mama jayat cama Moe, huhuhuuuuu’’ isak tangis Moeza pecah.
Arsakha segera mengelus pundak Moeza yang tengah menangis tengan tersedu-sedu, dan ayah hamzah mengisyaratkan kepada meidina untuk duduk. Meidina pun menurut, ia duduk di salah satu kursi dekat dengan mama devi.
Papah Rendra tersenyum melihat Arsakha yang duduk bersebelahan dengan Meidina. Di tambah, Meidina yang berdekatan dengan Arsakha. Mereka menginginkan hal yang sama, namun takdir tidak bisa mereka hindari bahwa Meidina tidak akan pernah bisa berjodoh dengan Arsakha.
Moeza El-Fatih, merupakan anak sulung dari pasangan Musa dan Meidina yang dimana keduanya adalah keturunan arab dan asia. Maka tak heran, wajah Moeza seperti Arsakha namun versi Arabia.
Kabarnya, dari berita media yang meliputi kelahiran Moeza. Musa menghilang, dan ia kembali lagi saat usia Moeza menginjak 3 bulan. Namun, Musa kembali menghilang baik musa dan juga kerabat serta keluarga.
Pergi meninggalkan jejak yang pasti, hanya sebatas surat yang selalu Musa kirimkan dan uang bulanan pada Meidina. Dan hampir saja, mereka berdua terancam bercerai di tahun lalu karena ketidak jelasaan Musa saat berumah tangga.
Namun Meidina membantahnya, ia akan tetap mempertahankan hubungannya sampai umur Moeza 5 tahun.
Jika Musa masih memberikan kabar yang tak jelas, maka dengan terpaksa Musa dan Meidina akan resmi bercerai secara agama dan hukum.
Hari telah berganti menjadi malam, Moeza Nampak murung di balkon sambil menatapi bintang-bintang. Hal yang ia lakukan sama halnya seperti arsakha lakukan ketika merindukan meidina, Meidina yang melihat putranya murung langsung mendekatinya dan memeluk sang putra.
“Sayang, Kau sedang apa?” tanya Meidina yang memeluk Moeza dengan sangat erat.
__ADS_1
Moeza yang saat itu tengah memakai baju tidur yang kotor karena ketumpahan susu miliknya, langsung dengan sekejap membuat Meidina tersenyum kecut.
“Bagus, kau menumpahkkan susumu lagi ya?” ucap meidina, Moeza hanya tersenyum sambil menyengir ke arah bundanya.
“Hehehehe, Oja tadi liyat Abi di bawah ummi” ucap moeza yang masih belajar berbicara.
“Abi?” gumam meidina penuh keheranan, lantas ia segera melihat ke bawah balkon namun harapannya nihil.
Tidak ada siapa-siapa, melainkan hanya Pratik sang penjaga yang kini menjaga mansion keluarga ayah hamzah.
“Tidak ada Moeeza, Moeza pasti cape. Ayo kita tidur, hari sudah mulai larut sayang” lirih Meidina, ia menggendong Moeza di pinggangnya.
Langkahnya terhenti ketika suara telepon miliknya berdering, sontak saja Moeza langsung turun dari pinggang Meidina dan langsung mengambil ponsel Meidina yang ada di atas nakas.
Moeza membuka pola ponsel milik Meidina, tepat di depan matanya sang panggilan dari Adam yang tertulisakan “My Brother Adam” Moeza langsung menggesernya kearah panggilan berwarna hijau.
Adam terkejur ketika Moeza lah yang mengangkat panggilan telepon tersebut, ia sedikit terkekeh geli.
“Moeza, dimana umi Mu?” tanya Adam pada Moeza, langsung saja Meidina memunculkan wajahnya di hadapan sang kakak.
Yang berhasil membuat Adam terkejut, melihat adiknya yang tengah menatapinya dengan tatapan yang begitu sinis.
“Om, Oja mawu peymen dayi jepung” ucap Moeza yang tengah berbicara sebisanya.
Adam hanya tersenyum. “Iya, nanti saat om pulang dari jepang aka nom belikan permen untuk Moeza. Keponakan om yang paling jadi kesayangan Om Adam” Ucap Adam, namun Meidina segera merampas paksa ponselnya dari sang putra.
“Apa, mau memberikan Moeza permen? Awas saja, pulang ke Indonesia nanti akan ku pastikan kakak hanya tersisa tulang saja’’ ucap tegas Meidina, yang membuat Adam bergidik ngeri.
“Hahaha, aku bercanda adikku sayang” sahut Adam, ia tertawa disambungan telepon.
Meidina diam tak bergeming, ia menatap Moeza yang tengah memegangi tangan kiri meidina.
“Ummi, Om Adam kapan puyang. Oja lindu Om Adam” ucap Moeza, Meidina hanya tersenyumm ke arahnya.
“Coba kau tanyakan langsung pada pamanmu”
Meidina memberikan telepon miliknya pada Moeza, dan dengan senang hati moezaa mengambilnya.
__ADS_1
“Om kapan puyang, Oja linduuuuuu” ucap moeza dengan suara yang kencang.
Sontak membuat Meidina dan Adam tertawa melihat tingkah konyol Moeza yang masih kecil.
.........
Di suatu gedung, wanita bernama Soraya tengah terkurung dan terikat. Ia mencoba melepaskan diri pada ikatan yang mengikat dieinya, seorang pria datang menghampirinya.
“Bagaimana dengan pestanya saudaraku, apa kau menikmatinya?”
“Setelah sekian lama aku menyarimu, ternyata di sini kau rupanya”
Pria itu tersenyum smriknya, hanya terihat badan yang tersorot gelap dengan lampu yang menyulitkan pandangan soraya tak bisa melihatnya.
“Tiga tahun, tiga tahun bukanlah waktu yang lama Sora. Kau pikir, aku mencarimu untuk membunuhmu? Cih, pemikiranmu sama saja dengan ibumu Wulandara”
“Dendam keluargamu, telah menewaskan seluruh anggota keluargaku. Kau menghabisi mereka tanpa sisa? Maka jangan segan aku akan balas tanpa ampun”
Soraya hanya tersenyum, ia melirik pria itu dengann tatapan tak suka.
“Jadi ini, dirimu yang sebenarnya. Wahai tuan alim” ucap Soraya.
“Aku tentu saja bisa menjaga batasku, aku akan membalas tanpa mengotori tanganku”
“Sebelum membawamu ke pihak yang berwenang, aku akan membawamu ke sebuah labirin kehidupan yang sesungguhnya”
Ucap sang pria, yang penuh nada penegasaan di setiap kalimatnya.
“DASAR BAJINGAN KAU, MUSA ALDEBARAN!” teriakan Soraya bergeming dan sangat kencang.
Namun sangat sayang, gedung itu adalah gedung kosng. Tidak ada satupun yang menghuninya, Musa hanya tersebyum ke arahnya.
“Sora, kembalilah pasa Sakha. Dia suami sah mu, kau masih memakan nafkah yang Sakha berikan padamu” ujar Musa, namun soraya hanya menatapinya dengan tatapan yang sangat tajam.
“Cih, kembali pada lelaki lumpuh itu. MIMPI!” tegas Soraya.
Musa hanya menggeleng-gelenkan kepalanya, “Soraya, kau masih terikat saudara denganku. Jangan membuatku naik pikam, aku juga manusia biasa yang memiliki hawa nafsu”
__ADS_1
“Bisa saja kan, aku menghabisimu malam ini juga” ucap Musa dengan nada tak suka.
Soraya bergidik ngeri. “Musa, dasar pria sialan!” ucap Soraya, yang menatap kepergiaan Musa yang jauh tanpa sebab.