
Soraya berlari menuruni anak tangga, dengan nafas yang menggebu-gebuk ia kembali ke dalam kamarnya, dan mengatur kembali nafasnya itu.
"Soraya, sepertinya kau akan mati sebentar lagi. Dia pasti sangat marah padamu, apa yang telah kau lakukan. Dasar bodoh! bodoh! bodoh. Berpikirlah Soraya, mungkin besok kau sudah tidak ada di dunia ini lagi."
Gerutu Soraya, yang mengutuk dirinya sendiri. Karena telah membuat Arsakha marah, pikirnya. Ia terjaga di sepanjang malam, dan dari tadi, ia sudah mengantuk. Namun sekarang ia harus menahan kantuknya itu.
Untuk berjaga-jaga, agar Arsakha tidak memarahinya tengah malam. Sampai waktu terus berlalu, dan jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Soraya akhirnya baru bisa tertidur, setelah semalaman terjaga dari tidurnya itu.
Arsakha yang melihat tingkah Soraya, hanya geleng-geleng kepalanya dengan pelan, ia meminta para pelayan untuk membawakan makanan ke dalam kamar Soraya.
"Sepertinya nona muda sakit tuan, ia tidak keluar dari kamar. Dan saat subuh, saya melihat nona keluar dari kamarnya. Kantung matanya hitam seperti panda, sepertinya ia tidak tidur." ucap Bi Min selaku pelayan di mansion Arsakha.
Arsakha pun mengangguk pelan. "Ya sudah, aku mau ke kantor dulu Bi. Tolong jaga Sora baik-baik di sini ya." ujar Arshaka pada pelayannya tersebut.
"Tentu saja Tuan. Saya akan menjaga nona dengan baik" ucap Bi Min.
"Jika ada apa-apa, tolong beritahu saya. Saya akan pulang dari kantor siang ini, dan akan berangkat lagi setelah jam 03.00 sore." Jelas Arsakha.
"Tumben sekali Tuan pulang. Apa Tuan ada yang perlu dibutuhkan di mansion ini?"
Arsaka pun menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. "Tidak, aku tidak apa-apa. Dan tidak ada juga yang dibutuhkan. Aku hanya ingin tidur siang." Ucap jelas Arsakha pada Bi Min.
"Ya sudah, kalau begitu saya mau lanjut bekerja dulu Tuan" ucap Bi Min
"Baiklah, jangan sampai lupa untuk memberi makan istriku ya" ucap Arsakha
__ADS_1
"Siap Tuan." Ucap Bi Min sambil mengacungkan kedua jempolnya itu.
Arsakha pergi bersama Tono ke perusahaan miliknya itu. Saat di perjalanan, ia dikejutkan dengan sebuah berita bahwa kembalinya Devanya. Dan juga Meidina yang telah kembali ke dalam circle penulisnya lagi.
Setelah bertahun-tahun lamanya, Meidina akhirnya kembali lagi untuk memutuskan menjadi seorang penulis lagi. Dan begitupun juga dengan Devanya, yang dikabarkan telah meninggal dunia dan membuat heboh. Juga menggemparkan banyak orang tentunya.
Mereka semua bergidiknya ngeri, karena berita Devanya yang saat itu bangkit dari alam kubur. Namun Devanya membantah, karena saat itu sedang berada di dalam sebuah masalah keluarga, yang harus dipecahkan selama bertahun-tahun.
Adam dan juga Devanya melakukan konversi pers, untuk menjelaskan bahwa hilangnya Devanya kenapa. Dan juga membahas hubungan mereka berdua yang akan semakin jelas kedepannya bagaimana itu.
Adam sangat bahagia, begitupun juga dengan Devanya. Mereka semua bahagia menyambut Devanya yang akan segera menikah kembali dengan Adam. dan Adam tidak mempersalahkan tentang Devanya yang telah menikah. Namun harus kandas, baginya memulai hubungan baru harus dengan sebuah kepercayaan.
Begitu juga dengan Musa yang mempercayai Meidina yang kala itu trauma pada cinta Arsaka. Sudah sampai di perusahaannya, namun saat sampai di lobi. Sakha mendapati sebuah surat undangan dari perusahaan sebelah yang baru dibangun itu.
Sang pemilik perusahaan tersebut, menginginkan Arsakha untuk datang ke peresmian perusahaan barunya itu. Ia mengundang Arsakha dengan mengirimkan surat undangan ke perusahaan Arsakha.
Saat sampai di dalam ruangannya, Sakha membaringkan tubuhnya yang kekar itu ke sofa ruangannya. Namun seseorang mengetuk pintu ruangannya, Arsakha nampak malas untuk menyahuti ketukan dari luar tersebut.
"Masuk." sahut Sakha yang di dalam ruangan.
Pintu terbuka, dan memperlihatkan kedua wanita cantik dengan berpakaian seksi. Arsakha hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa pusing akan pekerjaannya sebagai seorang Presedir.
Ia harus bersikap ramah tamah kepada investor dan kolega bisnisnya. Juga para tamu bisnisnya itu, tentu sudah biasa bagi seorang pemimpin untuk melayani tamunya tersebut. Sikap profesional yang Arsakha miliki itu, hanya akan bertahan saat ia berada di perusahaan saja.
Dan saat berada di luar rumah, lain hal yang kembali. Arsakha akan sangat dingin pada wanita, apalagi wanita itu berpakaian seksi wanita. Tipe yang paling sangat dibenci oleh Arsakha.
__ADS_1
"Selamat pagi pak presedir, ini adalah Vina. Kata beliau, Bapak dan Bu Vina telah memiliki janji hari ini." ucap sang sekretaris Arsaka.
Ia memperkenalkan Vina, dan Sakha bangun dari duduknya. Ia menatap pakaian Vina yang begitu terbuka di sebelah dada. Arsakha pun mengalihkan pandangannya, lalu ia berjalan menuju kursi kebanggaannya itu.
"Kau, kemarilah" ucap Arsaka
Sang sekretaris pun mempersilakan Nona Vina masuk ke dalam ruangan Arsakha. Ia meminta agarnya untuk bersikap biasa saja. Dan sekretaris Arsakha pun meninggalkan mereka berdua di ruangannya Arsakha.
Hanya ada Sakha dan juga Vina, mereka diam membisu. Arsakha yang nampak fokus membaca buku, dan juga Vina yang hanya mengorek-ngorek kuku jarinya yang panjang itu. Ia bingung harus bagaimana.
"Pak" sahut Vina, yang Mencoba membuka suaranya itu.
Namun tidak ada jawaban yang membuat Vina, ia berdecak kesal akan kedinginan Arsakha yang tingkat hqq itu.
"Katakan,.Kenapa kau kemari? Aku tidak ingat jika memiliki janji bersamamu." ucap Sakha dengan nada tak suka.
"Bapak kan sudah bilang, bapak akan datang ke perusahaan baruku. Dan juga bapak merencanakan semuanya dengan ayahku. Membuat janji untuk saling bertemu, karena sekarang aku yang menjadi pengurus di perusahaan sebelah itu. Tepat berada di samping perusahaan Pak Arsaka." jelasnya yang penuh gugup itu.
Arsakha tahu betul, siapa Vina itu. dia adalah anak dari salah satu investor bisnisnya, dan Sakha sudah tahu jika Vina akan menggantikan ayahnya yang sudah tua itu menjadi seorang presedir di perusahaannya sendiri.
"Jadi, kau anaknya Pak Gunawan ya?" ketus Arsakha.
Vina mengangguk pelan. "Betul pak, bapak peramal ya?"
Sakha berdecih, ia menatap intens Vina. "Jangan bodoh, perusahaan kita tetangga. Dan bersikaplah dengan baik, aku bisa saja menggusur perusahaanmu dalam hitungan jam saja" ancam Sakha.
__ADS_1
"Coba saja kalau bisa." Arsakha membelakkan kedua matanya, ia baru tahu ternyata Vina sangat berani untuk melawan kata Arsakha.
"Aku Aku sedang tidak ingin bermusuhan dengan siapapun. Sebaiknya kau pergi jika tidak ada urusan apa lagi." Tegas Arshaka, namun Vina malah mencoba mendekati dirinya pada Arsakha.