
Pukul 04:41
Adzan berkumandang, Meidina terbangun dari tidurnya, dan bergegas membersihkan dirinya lalu berwudhu.
Ia menunaikan ibadahnya, menumpahkan rasa sedihnya kepada yang maha kuasa.
Pukul 06:20
Meidina sudah rapih, dan bersiap akan berangkat sekolah.
"Kek, nek. Meidina berangkat dulu, Assalamualaikum" ucap Meidina, sambil mencium punggung tangan kakek dan nenek nya.
"Waalaikumsalam, Mei"
Diperjalanan, Meidina menghentikan langkanya ketika mobil putih itu mengklakson nya.
Tin.... Tin....
"Meidina, ayo berangkat bersama!" ajak Dinda, ia sedikit berteriak.
"Terima kasih Dinda" Meidina tersenyum.
Meidina menaiki mobil Dinda, dan duduk disamping Dinda yang berada di kursi belakang.
"Kau menangis Meidina?, mata kau juga sembab" ucap Dinda.
"Iya Dinda" ucap jujur Meidina.
"Kenapa Mei?, coba ceritakan semuanya" ucao Adinda.
"Nanti saja, jika sudah disekolahan"
Meidina menyandarkan kepalanya, dan mencoba memejamkan matanya. Ia sudah pasrah akan takdirnya kali ini.
.........
Mansion Virendra
Adam keluar dari kamarnya, ingin hati menghampiri Sakha. Namun ia segera mengubur niatnya itu dalam-dalam, ia bukanlah siapa-siapa di mansion ini, selain asisten pribadi Sakha.
Adam lebih memilih menunggu tuan nya keluar, Sakha keluar dengan rapi tidak lupa ia menggunakan kursi roda otomatisnya.
"Selamat pagi tuan muda, hari ini ada jadwal rapat dengan direktur" ucap Adam sambil membungkuk kan badannya.
Apa dia tidak marah padaku. Batin Sakha bertanya-tanya.
"Hmm, tolong siapkan semuanya Dam" ucap Sakha.
"Baik tuan muda" balas Adam
Sakha pergi dan di ikuti oleh Adam di belakangnya, mereka menggunakan lift khusus untuk Sakha.
Sampai dilantai bawah, Sakha dan Adam menghampiri meja makan untuk sarapan. Bi Surti menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, setelah sarapan mereka berdua bergegas ke kantor.
Tak lupa Adam membantu Sakha naik ke dalam mobilnya.
Diperjalanan
Drt....Drt....Drt
Ponsel baru milik sakha berdering, Sakha menatap panggilan itu lalu menjawab nya.
"Ya"
"............."
__ADS_1
"Ya"
"............."
"Kau yang menyebalkan!"
"..............."
"Diamlah Susi! "
"................."
"Aku tidak perduli....Tut...Tut..."
Adam hanya menatap tuannya dibelakang lewat kaca, ia juga tahu siapa yang menelepon sakha.
"Setelah selesai rapat, kita pergi ke bandara alam ghaib internasional Dam" ucap Sakha.
"Baik tuan"
Virendra Group
Sakha masuk kedalam ruang rapat nya, dibuntuti oleh Adam dari belakang.
Rapat akan segera di mulai, Adam sibuk menyiapkan apa saja yang perlu di siapkan.
.........
Disekolah
Meidina dan Adinda duduk di bangku taman, karena saat turun dari mobil, bel sekolah sudah berbunyi mereka berdua lari ke kelas.
Saat jam istirahat, Meidina memutuskan untuk bercerita setelah makan siang.
Huftt, meidina menghembuskan nafasnya dengan dalam, ia menatap Adinda.
"Tolong jangan bilang siapa-siapa, sesudah aku bercerita" pinta Meidina.
"Tenanglah Mei, aku sahabatmu. Rahasiamu akan aman sampai aku mati" ucap Adinda, meyakinkan.
"Jika kau mati?" tanya heran Meidina.
"Jika aku mati, aku akan bergosip dengan malaikat tentangmu nanti hahahaha" ucap Dinda dibarengi tertawa.
CLETAK
Meidina menyentil jidat Adinda
"Auw,sakit woy" saut Adinda.
"Serius nih"
"Iya, iya"
"Aku dijodohkan Din, dan aku akan menikah minggu depan"
Adinda menganga, ia tak percaya apa yang di ucapkan meidina barusan
"Jangan manga terus, nanti ada lalat masuk" ucap Meidina, sambil menutup mulut Adinda dengan tangan nya.
"Yang serius kamu Mei?" tanya Dinda, yang tak percaya.
"Dua rius" jawab enteng Meidina.
__ADS_1
"Tapi nenekku bilang, meskipun aku sudah menikah, aku masih boleh bersekolah" sambungnya.
"Tapi aku saranin, jangan buncit dulu Mei. Kamu masih SMA, pasti temen-temen ngga tahu kalau kamu sudah menikah. Yang ada mereka mengira kamu hamil diluar nikah" Saran adinda.
"Aku, belum kepikiran kesitu Din" pasrah Mei.
Adinda mengelus punggung meidina, kini Adinda lah yang harus menghibur Meidina saat sedih.
"Percayalah Mei, mungkin ini takdir terbaik yang tuhan berikan untuk mu"
"Kamu benar Din, terima kasih ya"
"Nanti jangan lupa undang aku"
"Hmm, iya"
Dari belakang pohon, seorang pria meneteskan air matanya. Ia mendengar pembicaraan Meidina dan Adinda.
"Meidina akan menikah?" gumamnya.
"Benar kata abi, jangan terlalu berharap kepada seseorang yang tidak ditakdirkan untuk kita"
Husein berjalan meninggalkan mereka berdua, tentunya tanpa sepengetahuan Meidina dan Adinda.
Rasa sakit didada Husein menjadi-jadi, disatu sisi ia tak rela Meidina di miliki orang lain, disatu sisi dia bukan siapa-siapanya Meidina.
Hanya sekedar pengagum yang selalu menyebut nama Meidina disepertiga malam
Ya robb, berikan jalan yang terbaik untuk hambamu ini. batin nya.
.........
Dimansion Virendra
"Hahaha, kau juga begitu Satya"
"Iya tuan"
"Saya juga,baiklah karena kita mengatakan hal yang sama, kita siapkan untuk acara pernikahannya"
Ucapan Papah Rendra membuat mereka yang berada dimansion merinding, termaksud Setya dan Siti.
Devi yang melihat tingkah laku Rendra hanya geleng-geleng kepala begitu juga dengan Johan.
"Nanti malam ada tamu penting dimansion, pelayan siapkan semuanya" ucap Rendra.
"Baik tuan" ucap para pelayan.
"Siapa sayang?" tanya Devi.
"Susi" jawab Rendra.
Devi bertambah bingung dengan apa yang di ucapkan suaminya
.
.
.
.
Susi?
__ADS_1
Mungkin yang dimaksud papah rendra iniđź¤