Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
DUOBLE DATE, BEREMPAT?


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang Adam bilang tadi siang di kantor. Malam harinya mereka pun bertemu kembali di restoran bintang lima Korea. Arsakha berjalan dengan pelan, memasuki area restoran tersebut.


Dengan bersama Soraya yang dibungkus oleh kain mewah, dan juga sangat elegan yang telah Arsakha beli dari desainer ternama. Pakaian yang sangat mahal tentunya, itu sangat biasa untuk Arsakha untuk membeli bahan bermerk.


"Hai." sapa Arsakha pada semuanya, mereka pun melihat Arsakha dan juga Soraya yang datang terlambat itu.


"Baru sampai kalian?" cibir Musa.


Medina pun menyikut perut Musa, Moeza yang melihat ayahnya tersebut hanya tertawa bersama Arsenino yang mengetahuinya.


"Maaf aku sudah terlambat, tadi di jalan macet parah" ucap Sakha meluruskan semuanya.


Adapun mengangguk pelan, "Aku mengerti, duduklah Sakha."


Kedatangan Arsakha dan juga soraya di sambut hangat oleh mereka semua. Namun tidak dengan Moeza, dan juga Arsenino yang tengah-tengah bermain layaknya seperti anak kecil biasanya.


"Wah Naora, kau semakin cantik saja y ucap Arsaka pada Naura.


Naura pun menoleh ke Arsakha, dan menatap Arsakha lalu tersenyum. Namun tatapan yang begitu saja.


"Istriku memang cantik, jaga matamu atau akan ku congkel kedua matamu itu!" Ketus Nico.


"Lihatlah, dia sedang cemburu" sahut Devanya memanas-manasi.


"Lagi pula, aku heran kenapa Naora mau dengan Nico yang tua bangka itu." tambah Adam.


Nico pun berdengus kesal. "Cih, kalian berdua ini! Tidak bisakah kalian menghargaiku yang sudah datang ini?." umpat Nico.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak, menertawai Nico yang dibuat kesal oleh mereka semua. Makan malam pun berlangsung dengan baik, mereka memesan makanan khas tradisional dari negara ginseng tersebut. Namun Soraya sedikit tidak menyukai makanan berasal dari Korea tersebut, karena ia lebih masuk dengan makanan khas Indonesia.


"Apa kau ingin aku membelikan makanan yang lain?" tanya Sakha kepada Soraya.

__ADS_1


Soraya pun mengangguk pelan, Iya aku mau" sahut Soraya.


"Kau mau apa?" tanya kembali Sakha kepada istrinya tersebut.


"Aku ingin gado-gado, dan soto ayam." jawab Soraya.


Mereka pun melirik Soraya yang meminta hal aneh tersebut. "Sora, malam-malam begini mana ada yang berjualan gado-gado?" ucap Devanya.


"Itu benar Sora, yang lain saja. Mungkin kau tidak suka dengan makanan ini. Apa kau mau memesan makanan yang lain?" tanya kembali Devanya.


"Tidak usah Kak, sebaiknya aku makan makanan yang ada saja. Aku tidak apa-apa sungguh." Seru Soraya yang tersenyum.


Devanya pun merasa kasihan pada adik tirinya itu. "Kau ingin apa?" tanya kembali Arsakha, Soraya pun kembali berpikir sejenak.


"Aku ingin condong, dan juga Kimchi jika ada" ucap Soraya.


Sakha pun mengerti, ia memanggil waitress untuk mengorder pesanan dari Soraya. Mereka nampak asik dengan berbincang-bincang, sambil menikmati makan malamnya ala-ala drakor Korea itu.


Itu adalah ide dari Devanya. Adam pun hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh wanitanya itu.


"Moeza pun juga ingin, Abi..." lirih Moeza yang menarik-narik lengan kemeja Musa.


"Iya nanti kita beli ya..." sahut Naura pada kedua anak lelaki tersebut.


Arsenino berhasil mencuri perhatian semua orang karena ketampanannya itu. "Lihat dia, dia sangat tampan sekali seperti Barbie lelaki." ucap para pengunjung restoran, yang melihat Arsenino.


Mata yang belo, alis yang tebal dan hidung yang mancung menyempurnakan fisik wajahnya itu. Namun hal minus yang Arsenino punyai adalah, ia gampang bosan pada benda atau hal yang ia miliki.


Hal tersebut pun mengingatkan Naora akan perilaku Nico, yang memang gampang bosan terutama kepada wanita. Nico memang suka berganti-ganti wanita, karena ia gampang bosan.


Meidina yang melihat Naora yang tengah melamun itu, langsung menyikut siku lengannya Naura. "Ada apa?" tanya Meidina pada Naura pun melilit Meidina.

__ADS_1


Dan ia pun menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. "Tidak, tidak ada" sahut Naora.


"Tidak usah khawatir, aku yakin Nino akan menjadi seorang pria yang setia." ucap Meidina.


Naura pun hanya mengangguk pelan, dan melihat sang suami yang tengah makan dengan begitu lahap bersama ketiga sahabatnya tersebut. Para wanita berkumpul, dengan membincang-bincangi sesuatu.


Devanya akan kembali pada pekerjaannya dulu, yaitu sebagai dokter. Dan juga sama dengan Meidina, ia akan menjadi seorang penulis kembali. Setelah sekian lama ia libur dari dunia literasi. Naora dan juga Soraya yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum. Mereka semua sudah memiliki bakatnya masing-masing, dan juga jalan karirnya masing-masing.


"Aku ikut senang dengan apa yang kalian capai, dan juga dengan apa yang sedang kalian kerjakan itu. Aku juga berharap, kita semua masih bisa bersama seperti ini sampai tua nanti. Menjadi seorang bestie yang setia." ucap Naora


"Dan semoga, Soraya juga masih bisa bersama kita sampai tua nanti" tambah Devanya.


Mengingat Soraya adalah seorang mantan model, itu bisa saja membuatnya kesibukan karena kebanyakan job. Secara kan, dia adalah seorang istri dari Presdir nomor satu di dunia.


"Aku sudah berhenti dari pekerjaanku, semenjak aku kembali ke negara ini, aku memilih untuk keluar dari industri hiburan." ucap Soraya yang membuat mereka terkejut semua.


"Kenapa kau keluar?" tanya Naora pada Soraya


"Tidak ada, aku hanya ingin memperbaiki hubunganku terlebih dahulu. Lagi pun, jika Arsakha menginginkan berpisah denganku. Aku akan dengan berlapang dada menerima keputusannya itu." ucapan Soraya berhasil membuat Medina tersentuh.


Mengingat saat di kapal pesiar, Arsaka mendingini Sorata terus-terusan.


"Sora..." lirih Medina memanggil Soraya.


"Sebaiknya kau juga mengejar karirmu. Aku, Naora, Kak Devanya, dan juga kau. Pasti kita bisa menjadi wanita yang mandiri, belanja dengan hasil sendiri. Kita tahu, suami kita kaya raya. Namun apa kita akan selalu mengandalkan hasil jerih payah dari suami kita? Kita juga harus bisa membuktikan pada mereka bahwa kita adalah seorang wanita yang hebat dan juga kuat dengan merintih karir sambil mengurus rumah tangga." ucap Meidina


Naura pun bertepuk tangan, ia kagum dengan apa yang Medina katakan itu.


"Kau benar Meidina, kita harus buktikan pada pria. Bahwa wanita pun juga bisa sama seperti pria. Mari kita buktikan bahwa wanita tidak hanya bisa di dapur, dan juga mengurus anak saja. Kita harus buktikan pada dunia bahwa wanita itu bisa segalanya!" sahut Naora.


Devanya pun menggangguk pelan, lalu ia mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam tas hitamnya tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya aku belum memiliki nomor kalian semua, ada baiknya kita saling bertukar nomor ponsel kembali. Karena nomor ponselku yang lama sudah hilang entah ke mana, mungkin ditelan bumi." sahut Devanya.


Ia memberikan ponselnya ke arah Soraya l, Soraya pun mengerti ia mengambil ponsel miliknya lalu mengetik nomor pribadinya di ponsel apel digigit milik Devanya.


__ADS_2