Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
DISKUSI 3 SEKAWAN


__ADS_3

Arsaka telah merawat Soraya di sebuah kapal pesiar, sambil menunggu kepulangan mereka ke daratan. Arsakha mengelus pelan pucuk kepala Soraya, ia menetap Soraya yang tengah terbaring sambil terpasang alat infusan tersebut.


Arsaka menatap sendu sang istri, Musa dan Meidina datang ke dalam ruangan Arsaka dan juga Soraya. Saka yang melihat kedua si Jolie itu pun langsung melirik mereka berdua.


"Sakha" sahut Musa


Arsaka pun meliriknya dan tersenyum. "Kalian sudah datang? apa kalian sudah makan?" tanya Arsaka kepada mereka berdua.


Medina pun mengangguk dengan pelam, ia menatap sendu Soraya yang tengah terbaring itu.


"Apa Soraya masih belum sadarkan diri, Kak Sakha?" tanya Meidina


Arsaka pun hanya mengangguk pelan. Dia menatap kembali sang istrinya tersebut, Arsakha pun berjalan dengan pelan menuju luar. diikuti oleh Musa dan juga Meidina yang melihat Arshaka.


Saka terduduk dengan seribu lamunannya. "kau kenapa?" tanya Musa pada Sakha yang kalau itu sangat membuat mereka bingung Setengah mati.


"Apa aku salah Musa, memiliki perasaan kepada Soraya?" ucap Sakha, musa hanya akan meledeknya jika hanya mengatakan isi hatinya.


"tentu tidak, Soraya kan istrimu? Kau Berhak untuk mencintainya Saka." ucap Musa meyakinkan Arsakha.


dan Arsaka pun menatap langit-langit di luar ruangannya itu, biarlah Medina yang menjaga Soraya kali ini dan ada Sakha akan berbicara pada Musa sebagai pria jantan.


"Pada malam ini, bisa kah kita berbicara di luar?" ucap Sakha pada Musa


Musa mengangguk, dan mereka berdua akan segera pergi mencari tempat yang aman dan tenang. namun Papa Rendra dan juga Ayah Hamzah menghalangi mereka berdua, sambil bersikap dengan tangan yang terlipat di dadanya.


Dengan tersilang tentunya, "mau ke mana kalian?!" tegas Papa Rendra tentunya juga.

__ADS_1


Arsaka mendongkak ke arah Papannya tersebut, ia menetap penuh ketakutan melihat sang ayah yang siap akan menghajarnya kali ini. Usaha Musa menahan gelak tawanya ketika melihat baku hantam antara ayah dan anak akan segera terjadi.


"Kau memiliki hutang penjelasanku padaku, Tuan muda Arsakha putra Rendra!."


Ketika ayah Rendra pada arshaka, ayah Hamzah pun hanya tersenyum melihat tingkah Papa Rendra yang begitu over protektif, dan juga sangat membenci Kepalsuan itu.


"Sudahlah Rendra, biarkan mereka berbicara sebentar saja. Dan kau juga, Musa! Kau juga memiliki hutang pembicaraan kepadaku!."


Musa pun hanya menelan salivanya dalam dalam, Ia lupa jika sang mertua sudah sangat dendam padanya. Mereka berdua antara Arsaka dan juga Musa saling melirik kebersamaan dan lalu menelan salivanya masing-masing entah bagaimana mereka akan menjelaskan semua ini, begitu juga dengan Sakha ia bisa menjelaskan tentang kesembuhan dari lumpuh.


" Aku harus pergi, ayah dan papa. Biarkan kami lewat!" tanpa basa-basi, Sakha langsung pergi tancap kaki seribu meninggalkan Papa Rendra dan juga Ayah Hamzah.


Musa juga mengikuti langkah Arsakha yang kabur itu, "Sakha... Tunggu aku, aku takut pada mertuaku." ucap Musa, dengan suara pelannya berada di sebuah kapal pesiar yang telah Niko persiapkan.


Untuk membantu penyelamatan Soraya yang telah dicuri, Nico napak tengah sibuk dengan ponselnya. Itu harus Sakha dan juga Musa menghampirinya, ia langsung mengerutkan alisnya begitu mulai songong kepadanya.


" Apa kau! pergi sana" usir Niko


"Niko sedang merindukan Naura? Arsaka itu sama saja bodoh! Ketus Musa, kau mengataiku bodoh! kau ingin kuhajar Musa!?"


Musa pun menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, lalu dengan spontan tangannya ikut. Melambaikan bahwa ia tidak mau dibandingkan aku ingin dihajar denganmu,


"Aku lebih baik dihajar oleh Meidina sampai aku babak belur Sakha, Sakha sahut Musa dan menampilkan senyum kudanya itu. Niko kembali terputus pada ponselnya dan perilakunya itu.


Dilihat oleh arshaka dan juga Musa yang kebingungan akan sikap yang menandakan seperti orang sibuk itu.


" Kau kenapa?" tanya Arsakha

__ADS_1


Niko pun memberikan ponselnya pada sakha, ia akan menunjukkan kepada mereka tentang situasi ini sedang tidak baik-baik saja.


"lihat ini" ucap Nicho memberikan ponselnya, Arsakha pun mengambil ponsel iru itu dan mengambil informasi yang Niko berikan itu.


"Apa ini apa!" tegas Arsakha, ternyata berita penting itu adalah tentang Adam yang akan segera pulang ke Indonesia membawa Devanya, mereka sudah mengetahui Di mana letak Abi dan juga Umi di mana dan Adam pun..


Dengan seorang diri, ia menyelamatkan kedua orang tua Devanya. "Musa lihat ini! akan memberikan ponsel milik Nico ke Musa. Musa pun mengambilnya dan membaca dengan detail kata demi kata, yang berada di layar tersebut."


Musa buka kedua matanya menatapnya tak percaya bahwa katanya dan juga kedua orang tuanya ternyata selamat. Tangis haru menyertainya, Saka pun mengelus punggung.


Teringat itu mereka bertiga sudah seperti saudara yang sangat lengkap."Kurasa kita bukan saudara, jika kita tidak saling menguatkan satu sama lain. Dan merasakan susah senangnya bersama-sama." ujar Niko


Arsakha mengangguk dengan pelam, "Tak usah sungkan, kita kali ini akan menjadi saudara kita berempat" ucap Sakha yang tersenyum itu juga.


Nico pun Menangis terharu mendengar perkataan Arsaka, ia teringat dengan keluarganya yang berada di Italia sang ayah yang tengah sibuk dengan pengobatan yang ia sedang menjalani itu dan juga ini kau merindukan ibunya yang telah lama meninggal.


"Aku ada sesuatu yang ingin ku katakan" ucap Sakha yang memulai topik pembicaraan mereka. kembali dari awal , lagi.


"Aku ada sesuatu yang rencana, bagaimana jika kalian membantuku untuk menyukseskan rencanaku ini ucapan?" tanya Saka namun Niko pun hanya terdiam sambil menatap sinis Arsaka.


" Sebelum kau memulai rencanamu itu, coba kau jelaskan dulu tentang kelumpuhanmu itu! Aku sudah bilang, aku tak akan percaya dengan perkataau itu Saka. Kalau berpura-pura lumpuh atau bagaimana! Aku yakin suaranya tidak seperti Adelia ya meskipun sifat mereka sedikit mirip.".cibir Nico yang tanpa sadar untuk Arshaka.


Arsaka pun terdiam sambil menatap kakinya yang telah menapak di atas tanah.


" Aku tidak tahu, semenjak aku menjalani operasi tahun lalu, aku belum berani untuk lepas dari kursi roda aku, kau tahu sendiri kan. Jadi aku tidak bisa terus-terusan seperti itu, selalu aku akan ku cari cara untuk kamu sembuh meskipun itu harus mengorbankan beberapa ratus juta uangku aku tidak peduli anda selalu." Ucap arsakha.


"Aku percaya denganmu Sakha, kau pasti punya alasan untuk menyembunyikan operasimu itu kan." ucap Musa.

__ADS_1


Arsakha mengangguk pelan, lalu menghela nafasnya dengan panjang sambil menatap bintang-bintang yang bertebaran di angkasa.


"Aku hanya ingin menjadi seorang introvert saja." ucapnya, namun bukannya mendapat solusi. Ia hanya mendapat sebuah cibiran dari kedua sahabatnya itu.


__ADS_2