
Soraya terdiam, Iya mmenangkap Arsakha yang tengah dibantu oleh Meidina yang mendorong kursi rodanya itu. Soraya semakin berpikir, jika Arsakha telah sangat membencinya.
"Aku sudah membuatnya benci kepadaku, jika aku memang tidak diharapkan di duniaini... Lalu kenapa tuhan mengirim ku ke dunia ini, dunia yang begitu kejam aku lalui dan juga sangat menyakiti. Aku hanya bisa berdoa, suatu saat nanti Arsakha bisa bahagia dengan pasangan yang ia cintainya. Dan sudah pasti, itu bukan aku." batin Soraya.
Terlihat sebuah kapal pesiar berwarna hitam mendekati kapal pesiar milik Tuan Marvin, itu adalah Papa Rendra dan juga Ayah Hamzah yang mendekati mereka dengan melambaikan kedua tangan mereka.
Masing-masing menyahutin nama Arshaka dan juga Meidina.
" Arshaka" Papa Rendra
" Medina. " Ayah Hamzah
Tidak ada yang menyauti nama Soraya, Soraya pun makin berpikir bahwa memang dunia ini memang tidak ada yang mengharapkannya.
"Sudahlah Soraya, jangan terlalu memaksakan dirimu agar disukai oleh orang lain. Lebih baik kau mencintai dirimu sendiri mulai dari sekarang. Kuatkan hatimu dan juga tegarkan jiwamu." batin Soraya
Mereka bertiga hendak akan menunggu kapal pesiar milik Niko itu mendekati kapal pesiar Tuan Marvin. Namun saat sudah mulai dekat, anak buah Tuan Marvin Menghadang mereka. Arsakha yang posisinya itu kakinya lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap pada keajaiban yang datang kepadanya.
Para anak buah Tuan Marvin menarik kembali Meidina. Arsakha yang melihat hal tersebut langsung refleks menarik tangan Medina, tapi tidak dengan tangan Soraya.
"Lepaskan wanita itu!" ucapan Sakhaa dengan tegasnya, dan juga dengan rahang yang mengeras.
Kata-kata tersebut tersemat pada telinga Soraya, ia beranggapan jika kalimat itu Sakha lontarkan untuk Meidina. Ia menatap tajam lelaki yang berada di depannya itu, Arsakha berhasil membawa Medina kegenggangan tangannya. Namun tidak dengan Soraya yang tidak ia genggam.
Medina yang mengetahui Arsakha menggenggam tangannya, langsung menarik dan menghempaskan lengan Arsakha itu. Ia harus bisa menjaga dirinya, karena Sakha bukanlah suaminya lagi.
__ADS_1
Melainkan orang asing yang saat ini ia kenal, sedangkan Soraya hanya bisa pasrah yang melihat Sakha terang-terangan menggenggam tangan Medina.
Ia menahan isaknya dengan tersenyum, mengisyaratkan kepada Arsaka untuk tidak ikut campur dalam menyelamatkan Soraya. Soraya pasrah akan takdirnya saat ini mati pun ia akan sangat bersyukur, karena itulah adalah hal cara yang membuat ia akan lebih tenang.
Soraya dibawa oleh mereka berempat, Medina dan juga Arsaka hanya terdiam. Karena Arsakha tidak bisa membantu Soraya dengan kaki lumpuhnya itu. Begitupun juga Medina yang tidak berani, mereka hanya terdiam bisu dan kapal pesiar Nico pun akhirnya akan mendekati kapal pesiar Tuan Marvin.
Saat itu, Papa Rendra dan Ayah Hamzah diserang oleh anak buah Tuan Marvin yang menyerang Ayah hamzahra juga Papa Rendra.
Di sana, Sakha nampak khawair begitu pun juga Meidina. Kedua orang tua lelaki mereka, tengah ikut berperang untuk menyelamatkan mereka berdua sebagai anaknya. Di dalam sana, Nico dan Musa menghajar Tuan Marvin Begitu juga dengan Tuan Marvin yang terus-terusan memberontak.
Musa membantu Niko untuk melawan banyaknya anak buah Tuan Marvin, mereka menghajar tanpa tersisa Namun karena kalah jumlah Niko dan Musa pun hanya bisa melawan sebisanya.
Arsakha hanya bisa membantu mengamankan Medina, "Ayo ikut bersamaku Meidina, kita mencari tempat yang aman." ajak Arsaka pada Meidina.
Ia memutar kursi rodanya dengan spontan Madinah membantu Arsaka. "Bagaimana dengan Soraya Kak Saka?" tanya Meidina pada Saka.
Ia membantu Arsakha mendorong kursi rodanya, dan mereka pun mencari tempat yang aman dari kejaran anak buah Tuan Marvin. Saat Niko dan Musa keluar, mereka mencari keberadaan Meidina dan juga Saka yang hilang entah kemana itu.
Mata Musa jelalatan mencari keberadaan istrinya itu, ia mencari ke sana dan ke sini sampai ke situ.
" Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Nico
Musa pun menggelengkan kepalanya, "Mereka tidak ada, entah Kemana si bodoh itu membawa pergi istriku" jawab Musa
Nico hanya menghela nafasnya sebentar, menenangkan pikirannya dan juga mengontrol kembali tenaga-tenaganya yang mulai hilang. Karena kelelahan sehabis menghajar Tuan Marvin dan beberapa anak buahnya itu.
__ADS_1
"Sekarang kita bagaimana, apa kita mencari mereka?"
Niko pun mengangguk pelan, "Iya sebaiknya kita harus mencari mereka, jika tidak mereka akan dihabisi oleh komplotan dari si kampret Marvin" jelas Nico
Musa pun mengangguk pelam, "Ayo, sekarang kita pergi mencari mereka Niko." Mereka berdua berpencar mencari keberadaan Meidina, Soraya dan juga Arsaka yang menghilang.
Tampak di sana, Soraya tengah diikat tangannya, yang terasa kesakitan dan juga menangis begitu tersedu-sedu, disiksa oleh anak buah dari tuan Marvin. Mereka mencambuk Soraya tanpa ampun, melampiaskan semuanya kepada Soraya.
"Apa itu sakit? Apa itu perih? Apa itu terluka? Aku sudah merasakan semua rasa yang telah aku rasakan di dunia ini. Tuhan Bolehkah aku bahagia Walaupun itu hanya sebentar saja, tidak akan lama hanya 15 menit..." lirih Soraya pada batinnya.
Ia tidak peduli dengan hal yang mereka lakukan pada dirinya. Bahkan dengan kotornya, mereka mulai melucuti pakaian Soraya dan hampir membuat Soraya hanya memakai pakaian dalam saja. Mereka dengan tak sopannya meraba-raba tubuh Soraya, yang tengah dicambuk itu.
Namun Soraya berhasil menghindar, dan mencoba mempertahankan harga dirinya itu.
"Tidak Soraya, kau tidak boleh diam saja jika sudah begini." Soraya pun melawannya, memberanikan diri untuk menggigit tangan lelaki yang hendak akan menyentuh gunung kembali tersebut.
"AUWWWW!" teriak pria itu.
Soraya pun memukul kepala pria itu, dengan menggunakan kepalanya sendiri. Pria itu pun meringi kesakitan sambil memegangi kepalanya yang berdarah. Begitupun juga dengan kepala Soraya yang berdarah, Ia membenturkan kepalanya ke kepala pria yang tengah mencoba meraba-raba tubuhnya itu.
Melihat temannya kesakitan, pria itu pun menyambuk Soraya tanpa ampun dan juga menampar Soraya dengan berkali-kali. Dan juga tanpa berhenti, sehingga pipi gadis itu merah dan bibirnya mengeluarkan banyak darah segar. Soraya menendang alat pria yang menampar tersebut dan juga lelaki yang tengah mencabukinya itu.
Ia mengambil pisau dan mulai membuka ikatan tersebut. Soraya membuka pintu dengan cepat Ia berlari entah tanpa arah jalan tujuan ke mana. Soraya berjalan ke sana ke sini berharap tidak ada anak buah Tuhan Marvin yang melihatnya.
"Sakha, kau di mana kau masak kau di mana, aku perlu perlindunganmu... aku takut..." lirih Soraya dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
Sambil menangis dan berlari mengejar arah yang tak berarah. Anak buah Tuan Marvin yang melihat Soraya langsung mengejarnya, Soraya pun mengambil langkah seribu dan berlari dengan cepat.
Hal sial menimpanya, ketika ia bertemu dengan lorong yang buntu dan saat itu anak buah Tuan Marvin mengepungnya.