Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
AKAN BERUNDING


__ADS_3

Praktik dibawa oleh Arshaka dan juga Adam untuk menemui Niko. Sebelum itu, mereka berdua meminta izin pada Praktik untuk membawa istri pratik ke hadapan Niko. Untuk ditanyai lebih lanjut, namun Praktik menolaknya dengan keraas. Ia takut jika istrinya tersebut akan trauma kembali.


"Tuan, jangan ajak istriku pergi. Aku takut jika dia akan kembali merasakan traumanya saat waktu itu...." lirih Pratik.


Arsakha dan Adam pun meng-iakannya. Mereka juga tahu betul, dengan kondisi istri pratik yang kala itu sangat ketakutan.


"Baiklah, tapi kau harus ikut dengan kami untuk berbicara dengan Niko." Ucap Adam


Praktik mengangguk pelan. "Iya tuan, saya mengerti." Ucap Praktik


"Bagus jika begitu, sekarang kau bawa mobil ini ke perusahaanku." Titah Arsakha.


Praktik pun mengangguk pelan, ia mengambil kunci mobil yang Arsakha berikan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Praktik membawa kedua orang besar itu di belakang.


"Sebentar, sepertinya aku melupakan sesuatu." ucap Adam.


Arshaka yang duduk di sampingnya itu hanya mengertukan keningnya. "Melupakan sesuatu? Melupakan apa Adam?" Tanya Arsakha dengan serius.


Adam teringat akan Devanya yang kala itu memintanya untuk menemuinya, namun Adam yang siang itu langsung ke Mansion Ayah Hamzah tidak ingat dengan perkataan Devanya untuk menemuinya siang ini.


"Aku lupa, Devanya memintaku untuk aku bertemu dengannya. Bagaimana ini Sakha? apa dia akan marah padaku atau malah memblokir semua sosial mediaku." ucap Adam.


Arshaka pun hanya menghela nafasnya dengan panjang, ia melirik Adam dengan tatapan tak suka.


"Hanya gara-gara itu Dam? Bukanlah hal yang begitu penting, mana ponselmu? Aku akan berbicara pada Devanya. Aku akan meminjam untuk sementara waktu saja." ucap Arsaka sambil menampankan tangannya.


Adam pun merogoh kantong saku celananya. Ia memberikan ponsel apel digigit kepada Arskha. "Ini, tolong katakan padanya bahwa aku sedang bersamamu."


Arsakha hanya terdiam, sepertinya Adam akan segera menjadi pria bodoh yang bucin untuk waktu yang dekat kali ini.

__ADS_1


"Cih... Kau sangat merepotkan! Kenapa kau tidak memberitahunya saja bahwa kau sedang bersamaku?" ucap Arsakha yang nampak kesal itu.


"Ketika Devanya sudah meminta sesuatu. Maka aku harus menurutinya, tapi untuk kali ini aku akan mementingkan persahabatanku dulu." ucap Adam dengan antusias.


"Peduli persahabatan? Kalau saja tidak peduli dengan sahabatmu yang satu ini." cibir Arsakha.


Adam yang merasa tersindir langsung menatap Arsakha dengan penuh tanda tanya.


"Memperdulikanmu? Aku lebih baik padamu Sakha, aku selalu memikirkanmu dan juga Niko. Entah bagaimana kalian bisa bertahan dengan wanita buas seperti istri kalian. Aku baru saja jatuh cinta pada Devanya untuk yang sekian kalinya, aku mohon kalian tidak mengusik ku. Karena aku ingin kalian mengajariku, bagaimana cara menjadi suami yang baik kedepannya."


Arsaka terdiam, pasalnya ia merasa. Ia bukanlah suami yang terbaik, karena ia juga baru saja kembali lagi dengan Soraya Setelah ssekin tahun Lamanya.


"Sepertinya jika kau ingin membicarakan tentang rumah tangga. Kau harus berbicara dengan Niko, karena ia sudah lama menjadi suami dibandingkan aku yang baru kali ini kembali benar lagi." tutur Arsakha yang membenarkan.


Adam teringat dengan kejadian yang waktu di masa lalu menimpa mereka semua.


"Dan kau tahu Arshaka, aku benci dengan masa lalu yang kala itu mempermainkan kita semua. Dengan bersandiwara memberimu pelajaran bagi kita semua."


"Namun aku sadar, dari masa lalu kita tidak boleh menyia-nyiakan seseorang yang telah ada di samping kita. Meskipun kita tidak mencintai dan menginginkannya, mereka tetaplah manusia yang harus kita sayangi dan cintai. Sebagaimana orang lain menyayangi kita." ucap Adam yang menyandarkan kepalanya di sandaran mobil.


"Sebaiknya kau tanya dan bicara pada Nico saja, Dam." ketus Arsakha.


"Benar juga, dibandingkan menanyakannya padamu. Lebih baik aku menanyakannya saja pada Nico." ucap Adam.


Arshaka pun mengiakannya begitu saja, "Aku juga harus berguru pada Nico, agar tahu menjadi suami idaman seperti apa." sambung Adam.


Pratik mendengarkan pembicaraan antara Adam dan juga Arsaka, ia masih diam membisu. Tentang berita itu, yang kali ini bertebaran tentang Soraya. Kembali lagi terkuak oleh media, di satu sisi Pratik takut dengan kesehatan mental istrinya dan di satu sisi lainnya ia takut dengan mental Soraya juga.


Mobil berhenti di gedung pencakar langit itu, Adam keluar terlebih dahulu disusul oleh Praktik dan juga Arsaka. Mereka bertiga disambut hangat oleh keempat penjaga keamanan di perusahaan Arshaka. Berjalan menuju lift khusus CEO yang terlihat begitu elegan dan juga mewah ketika dilihat oleh mata.

__ADS_1


Sakha masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebanggaannya itu. Arsakha mengeluarkan ponselnya dan lalu menghubungi Nico untuk segera datang ke perusahaannya. Sedangkan Adam dan juga Pratik menunggu sambil duduk di sofa yang berada di ruangan arsaka.


Mereka dikejutkan kembali oleh berita tentang Soraya dengan langsung. Karena Praktik yang tak sengaja melihat sebuah ikan di sosial medianya.


"Tuan, sepertinya berita ini memang benar, kita harus segera menghentikannya. Jika tidak, nama baik Soraya akan segera hancur dalam seketika" ucap Praktik.


Kedua lelaki jangkung itu pun mengangguk dengan pelan. "Itu benar Sakha, sebaiknya kita harus menghentikan berita ini terlebih dahulu. Karena mereka bisa saja mengancam Soraya dan membuat Soraya kembali tertekan." ucap Adam yang mengatakan yang sebenarnya.


Jika berita ini sampai ke dalam telinga Soraya, Soraya pasti akan segera melarikan diri lagi.


"Apa sejauh ini ia tidak mengetahui tentang berita dirinya?" tanya Adam pada Arsakha.


Arsaka pun menganggukkan pelan kepalanya, "Tidak, dia tidak tahu. Andaikan saja jika dia tahu. Mungkin ia sudah akan kabur dari mansion. Namun, sebelum ia mengetahui tentang kabar berita ini. Aku akan meminta seluruh pelayan dan juga keamanan untuk menyita semua ponsel dan juga alat untuk mencari informasi.


Agar Soraya tidak tahu, jika siaran berita ini terjadi."


Ucap Arsakha, mengingat Soraya yang selalu memintanya untuk mengembalikan ponsel dan juga alat elektronik lainnya. Setelah mengetahui berita tersebut, Sakha langsung memerintahkan beberapa pelayan, dan juga petugas keamanan di mansion untuk tidak membocorkan tentang berita Soraya.


Karena Sakha tidak ingin Soraya kembali menjadi Soraya yang dulu.


"Syukurlah Arsakha. Aku harap Soraya tidak apa-apa, dan juga untukmu. Berarti tugasmu kali ini adalah mengatakan benar atau tidaknya, walaupun begitu. Kami juga perlu kebenarannya, Pratik." sahut Adam.


"Iya, kau juga akan melakukan konversi pers. Jika memang benar Soraya lah yang telah melukai istrimu dengan alasan yang jelas. Untuk saat ini, aku belum bisa membuat rencana dan mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, aku akan membicarakannya pada Niko terlebih dahulu." jelas Sakha.


Selang beberapa menit setelah Arsakha mengucapkan kalimat tersebut. Nicho datang dengan membawa sebuah laptop di genggaman tangannya itu.


"Apa kalian sudah lama menungguku? Maaf, aku sedikit terlambat karena di jalan tadi macet." ucap Nico


"Tidak apa-apa, kemari dan duduklah. Kami semua akan senantiasa menunggumu untuk berbicara." ucap Sakha.

__ADS_1


__ADS_2