Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
S2 : Percakapan Manis


__ADS_3

Arsakha pergi menemui Adam, dan juga Musa ke taman yang akan mereka bertemu. Taman tersebut berada di dekat danau, yang berdekatan dengan jalan. Memberikan suasana damai dan juga ketenangan bagi siapa saja yang datang ke sana. Arsakha mengendarai mobilnya dengan pelan, kemudian sambil mendengarkan musik dari earphonenya, ia melihat jalanan sekitar kota yang padat.


Sekejap, Arsakha melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua, yang menandakan ia masih memiliki banyak waktu untuk datang ke sana.


"Kiranya ada apa ya Adam memintaku untuk bertemu? apa ia tetap kukuh ingin aku ikut project itu?" tanya Arsakha.


Sakha memarkirkan mobilnya terlebih dahulu sebelum ia datang ke taman langsung. Sejenak ia berpikir tentang Soraya, baru saja keluar sebentar ia sudah mulai rindu.


Hufft, Sakha menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Ia pun berjalan menuju taman, ternyata Adam dan juga Musa sudah menunggunya sedari tadi di taman. Dengan langkah yang panjang, Arsakha menghampiri mereka berdua.


"Adam... Musa... " teriaknya, sampai-sampai membuat orang tersebut memalingkan wajahnya.


"Sakha, kemarilah" ucap Adam.


Sakha berjalan mendekati Arsakha, ia sebentar melirik Arsakha dan tersenyum. Mereka bertiga duduk dikursi taman yang panjang, bedannya Musa duduk dikursi yang terpisah.


"Ada apa kalian memanggilku dan ingin bertemu denganku?" tanya Arsakha penuh penasaran.


"Aku ingin kau tetap ikut Sakha" jawab Adam


"Aku tidak mempermasalahkan tentang project itu. Bagiku, project itu tidak ada apa-apanya dibandingkan perusahaan raksasa milikku" celoteh Arsakha.


"Baiklah-baiklah, si raja bisnis ini memang benar-benar rajanya" cetus Musa


"Kau ada disini? ku kira kau hanya pajangan yang ikut-ikutan dengan Adam" cibir Arsakha.


Musa kesal, ia memalingkan wajahnya dan tak habis pikir dengan yang Sakha katakan.


"Hahaha, sudah Musa. Sakha hanya bercanda, ia tak serius pada ucapannya" beo Adam, yang menenangkan suasana hati Musa.


"Iya itu benar, apa kau tidak keberatan jika aku menculik anakmu?" tanya Sakha pada Musa.


Musa mengertukan keningnya, "Silangkan saja jika kau berani mengambilnya dari ibunya, aku pastikan kau tidak akan selamat." cibir Musa, Arsakha menelan salivanya dalam-dalam.


"Kau berani Sakha?" tanya Adam


"Tentu saja... Tidak..." jawab Arsakha yang memalas.


"Kau suka anak kecil, tapi kenapa tidak buat anak kecil saja?" tanya Musa.

__ADS_1


"Heh kampret! kau pikir membuat anak gampang!" ketus Sakha.


Adam terkekeh mendengarnya, "Sudahlah kalian jangan bertengkar, lebih baik kalian segera membuat berkas yang akan segera ditanda tangani oleh petinggi dubai" ujar Adam.


Obrolan yang kini sudah menjadi canda dan tawa bagi mereka bertiga, dinaungi dengan popohan yang rimbun. Angin sepoi-sepoi yang menabrak kulit mereka bertiga yang bersih, Sakha diam sejenak dan mencerna perkataan dari Musa.


"Sa, apa Moeza ada?" tanya Sakha serius.


Musa mengangguk, "Iya ada, ada apa memangnya?" tanya balik Musa yang penasaran.


"Aku ingin membawanya main-main sebentar, apa kau keberatan?" Arsakha.


"Tidak, silahkan saja bawa. Moeza juga merindukanmu katanya" ungkap Musa.


"Benarkah? tapi kenapa ia tidak merindukanku?" celoteh Adam yang sedikit kesal.


"Hmm, itu mungkin karena kau jarang berinteraksi dengannya" cibir Sakha.


Mendengar perkataan dari Arsakha, Adam terdiam. Benar juga dengan apa yang dikatakan Sakha, ia tidak terlalu dekat dengan keponakannya itu.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Adam, yang hanya dibalas angkatan kedua bahu dari Adam dan Sakha.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, Sakha baru saja pulang dari kantor sehabis ia ke taman tadi, karena ia harus menyiapkan berkas-berkas terlebih dahulu untuk ikut project di dubai tersebut.


"Lelah sekali, apa Soraya mau ikut bersamaku, atau tidak. Aku tidak peduli! sebaiknya aku bicara dulu padanya, dan mulai bernegosiasi sebentar" gumam Arsakha.


Ia berjalan masuk kedalam mansion, tidak ada orang. Begitu sepi dan juga sunyi, Sakha heran dengan keadaan mansion yang tak seperti biasanya.


Baru saja ia masuk ke dalam mansion, ia dikejutkan dengan kedatangan Soraya yang tiba-tiba memeluk pinggang Arsakha dari belakang.


"Kau kemana saja? aku sudah lama menunggumu?" tanya Soraya dengan penuh penasaran.


"Aku menemui Adam dan juga Musa di taman, dan setelah itu pergi ke kantor sebentar untuk menyiapkan beberapa berkas-berkas" jawab Arsakha.


"Benarkah? aku kira kau menemui wanita lain" ketus Soraya yang merenggangkan pelukannya.


Soraya sedikit memajukan bibirnya, Sakha yang melihat itu pun tersenyum dan memeluk Soraya dari depan.


"Sora, ada yang ingin kau bicarakan padamu, ayo kita bicarakan di atas saja. Apa tubuhmu masih sakit?" tanya Arsakha serius, ia sambil merangkul bahu istrinya tersebut.

__ADS_1


"Ada apa Sakha?" Soraya


"Shuuut! panggil aku sayangmu mulai dari sekarang" Arsakha


"Heem, baiklah sayangmu" timpal Soraya.


Sakha menepuk pelan jidatnya dengan pelan menggunakan telapak tangannya. Soraya terkekeh geli, ia melihat raut wajah kesal Arsakha, namun terkesan lucu baginya.


"Jangan ditekuk sayang, nanti wajahmu keriput..." lirih Soraya dengan manja.


"Aku kan, memang sudah tua. Apa kau keberatan jika raut wajahku tua, dan mengkeriput nanti?" tanya Sakha


"Tentu saja tidak, aku tidak akan keberatan. Nanti kita akan tua bersama, dan mengkeriput bersama." jawab Soraya.


Ia tetap memeluk pinggang Sakha sambil menaiki anak tangga, Soraya begitu erat memeluk Sakha.


"Aku tidak ingin kau pergi jauh dariku Sakha, jika kau pergi jauh, maka aku pun harus ikut pergi bersamamu. Aku takut jika kegelapan akan menghantuiku ketika kamu tidak ada, jangan pernah meninggalkanku ya sayangku" keluh Soraya.


Sakha tersenyum, sepertinya ia sudah menemukan jawabannya.


"Kalau begitu, kau mau kan pergi bersamaku ke dubai nanti?" tanya Sakha.


Mereka sudah sampai di atas dan sudah masuk ke kamar, Soraya langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang besar yang empuk itu.


"Sora, apakah kau sudah mandi?" tanya Sakha


"Heem, iya. Aku sudah mandi sejak tadi, kau yang seharusnya mandi dasar bau!" cetus Soraya


"Apa-apaan! Aku tidak bisa habis pikir sama kamu sayang, aku masih wangi seperti ini kamu bilang bau" timpal Sakha yang merasa kesal.


"Ya sudah sana mandi, aku ingin kau mandi agar wangi dan bersih" pinta Soraya.


"Laksanakan tuan putri."


Cup, Arsakha mencium pipi kiri Soraya dan meninggalnya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan Soraya segera menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.


"Sakha, aku sangat-sangat-sangat mencintaimu" batin Soraya.


Entah mengapa, ia tidak bisa mengatakannya sendiri, mungkin saja ia masih malu-malu karena canggung dengan Arsakha. Pelan-pelan saja, nanti juga akan lengket dengan sendirinya. Meskipun tak mudah untuk menyatukan kedua insan yang sama-sama trauma untuk jatuh cinta. Tapi ini adalah salah satu kemajan dari kisah cinta mereka, itu artinya, mereka mampu membuka hatinya untuk orang baru lagi.

__ADS_1


__ADS_2