
Hari berganti hari,sudah satu minggu Meidina pergi entah kemana. Ia selalu mencari,wanita yang pernah mengisi hari-hari nya. Wanita yang mencintainya dengan tulus,wanita yang ia cintai sejak kecil.
Arsakha termenung dalam lamunan nya,ia mencoba berpikir dimana keberadaan,wanita nya sekarang. Seseorang mengetuk pintu ruangan nya, Sakha pun memperbolehkan nya masuk.
Ceklek
Pintu terbuka, Jessica datang membawa secangkir kopi. Ia meletakan kopi tersebut,di atas meja Arsakha. Sakha tidak bergeming,atau pun merespon.
"Presdir" saut Jessica.
"Hmm" dahem Sakha.
"Presdir sudah bercerai?" tanya Jessica, membuat Arsakha mengerutkan kening nya.
"Apa urusan mu, menanyakan itu" ketus Arsakha.
"Tidak presdir, saya permisi" ucap Jessica,dengan cepat. Ia membungkuk kan kepalanya,dan langsung pergi dari ruangan Arsakha.
Arsakha memijat pelan,pelipis matanya. Menutup kedua matanya,yang lentik.
"Aku harus mencari mu kemana lagi Meidina, aku sangat merindukan mu" batin Arsakha
Tiba-tiba,seseorang datang tanpa mengetuk pintu. Ia langsung masuk,ke dalam ruangan Arsakha.
"Bodoh,kau pasti sedang memikirkan mantan istrimu kan" saut Nico, mendekati Arsakha. Sakha membuka pelan matanya,ia menatap Nico.
"Hmm"
Nico terkekeh,ia pun tertawa. Sakha kesal dibuatnya. "Mungkin sekarang,mantan istrimu sedang mencari calon suami baru untuknya" saut Nico.
Arsakha bertambah kesal,ia melempar sebuah buku ke arah Nico. Dengan segera, Nico menangkap nya. "Tidak kena" ucap Nico, ia mengembalikan buku itu ke Arsakha.
"Nico,bagaimana dengan keadaan Adam?" tanya Arsakha.
Nico duduk di sofa,ia menyilangkan kaki nya.
"Seperti yang kau tau, Adam masih mencari keberadaan adik nya" jawab Nico.
Sakha terdiam,ia menatap Nico penuh arti. "Aku tahu, kau juga merindukan mantan istrimu. Aku dan anak buahku, sedang mencari keberadaan nya sekarang" ucap Nico meyakinkan Arsakha.
__ADS_1
"Kau sudah mencari nya keluar negeri?" tanya Arsakha.
Nico mengangguk kan kepalanya, "Hendra dan Hendri, sedang mencari nya di luar negeri. Seluruh anak buahku juga" jawab Nico.
"Dan" ucap Nico,menggantung.
"Aku sudah menghukum keluarga badebah itu,beserta Arya selingkuhan Adelia" sambung Nico.
Arsakha menghembuskan nafasnya,dengan kasar. "Apakah ini karmaku,karena sudah mengkhianati Meidina" ucap Arsakha.
"Tentu saja" ucap polos Nico, membuat Arsakha kesal.
Di Rumah Sakit .
Dokter Anya mendapatkan kabar bahwa,mantan suaminya tidak masuk kantor sudah satu minggu lebih, Musa yang mendengar kabar itu. Hanya bersikap biasa saja,dan tenang. Seolah-olah, tidak ada hal yang buruk terjadi. Tapi tidak untuk Anya, ia masih mengharapkan Arya.
"Kenapa kakak selalu mengkhawatirkan lelaki sialan itu. Apa yang sudah dia lakukan padamu kak,sehingga membuatmu begitu mencintainya!" tegas Musa,pada Kak Anya.
Kak Anya melirik adiknya,ia tersenyum dan duduk di samping Musa.
"Kau tidak akan tahu Musa,itulah yang dinamakan cinta" ucap Kak Anya.
Anya hanya menggeleng - geleng kan kepalanya, sambil memegangi kening nya. Tentu saja, sikap Arya pada Musa,tidak akan Musa maafkan dan lupakan. Mengingat dulu, Arya berselingkuh dengan kekasih Musa.
Musa mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, ia tak mempedulikan keselamatan nya lagi. Hanya ada satu hal dipikirkan nya, kebancian.
"Aku tidak akan memaafkan Arya,karena sudah membuat kakak ku terluka,dengan kisah perselingkuhan mereka. Apalagi,dia berselingkuh dengan kekasih ku sendiri" gumam Musa.
Tidak lama setelah itu, ia sudah di depan perusahaan cabang ayahnya. Musa disambut hangat oleh para pegawai, ia men stabilkan emosi nya dan raut wajah kesalnya. Musa berjalan masuk ke dalam gedung tersebut, ia tersenyum ramah pada pegawai kantor.
"Abi kan sangat kaya, kenapa ia memintaku dan Kak Anya bekerja. Bukan kah, anak sultan itu bebas menginginkan apapun yang mereka mau. Tapi ini, aku dan Kak Anya malah disuruh mencari pekerjaan" batin Musa.
"Apa abi,sudah akan jatuh miskin" gumam Musa membulatkan matanya.
Ia segera berlari kecil, memasuki ruangan yang sudah disiapkan oleh bawahannya. "Tidak, tidak boleh terjadi. Sebagai lelaki, aku harus bekerja keras,agar nanti bisa menafkahi istri dan anak-anak ku" gumam Musa, ia mengambil sebuah ponsel di saku jas nya. Dan menelepon Dafa,yang merupakan asisten pribadi nya.
"Halo. Assalamualaikum tuan, ada apa?" tanya Dafa disebrang sana.
"Waalaikumsalam. Apa kerjaku sekarang?" tanya balik Musa.
__ADS_1
"Tuan Musa,ada pertemuan penting bersama presdir Virendra group malam ini" ucap Dafa.
"Kenapa malam?, maksudmu,aku dan presdir itu akan malam bersama juga?" ucap dafa tercengang.
"Iya tuan"
Musa mengusap kasar wajahnya, dengan telapak tangan kanan nya. "Seharusnya kau saja yang pergi,kau kan asisten ku" celoteh Musa.
"Maaf tuan, bukan kah. Tuan Musa sendiri,yang menyuruh ku untuk tidak ikut, dan menghandle pekerjaan tuan di Arab" ucap Dafa. Musa semakin memanas dibuatnya.
"Sudahlah, sampaikan salamku pada Abi dan Umi ku"
Musa menutup telepon nya, ia duduk dikursi untuk presdir. Karena untuk sementara waktu,ia yang akan menangani perusahaan cabang abi nya.
"Aku tidak peduli,jika presdir dari perusahaan Virendra group itu,cantik dan seksi sekali pun. Aku tidak akan tergoda, aku hanya menginginkan dia, dia yang sudah mengambil hatiku,dan menghilang ntah kemana seperti di telan bumi" batin Musa.
Siang berganti malam, Musa sudah akan siap berangkat,ke sebuah Restoran yang di siapkan bawahannya,untuk pertemuan penting nya. Bersama perusahaan Arsakha.
Disatu sisi, Arsakha pun sudah bersiap akan berangkat. Ia kini, seorang diri, tanpa Adam yang selalu menemani nya. Nico disibuk kan oleh dunia mafia nya, ia menghukum kejam Adelia beserta keluarganya. Yang Arsakha tahu, Adelia menjadi budak ****,untuk semua anak buah Nico. Itulah hukuman yang Nico berikan pada Adelia,hingga nanti,ajal nya pergi menjemput.
Musa sampai terlebih dahulu dibandingkan Arsakha, Sakha terjebak macet di jalan. Hingga tak lama kemudian,ia sampai di Restoran yang sudah ditentukan.
Arskaha dan Musa, saling berjaba tangan dan tersenyum. Musa merasa lega, karena Arsakha adalah lelaki, bukan perempuan.
"Aku merasa lega, karena partner bisnisku ternyata pria,bukan wanita genit yang selalu menggodaku" batin Musa
Mereka membahas soal pekerjaan, Musa menjelaskan,keuntungan apa saja yang akan Sakha dapatkan,jika bergabung dengan perusahaan cabang ayah nya. Waktu terus berjalan,tidak terasa kini topik bisnis nya sudah selesai. Dan mereka berjaba tangan kembali, "Deal" ucap Arsakha dan Musa.
"Sabaiknya,kita makan terlebih dulu sebelum pulang, aku sudah sangat lapar" ucap Arsakha,dibarengi tertawa kecil.
"Maafkan aku, aku lupa untuk memesan makanan" ucap Musa, ia menepuk pelan kening nya.
Mereka memesan makanan, dan menyantap makan malam bersama. Musa menceritakan kedatangan nya dari Arab Saudi,ke Indonesia. Hanya untuk perjalanan bisnis ayah nya. Musa menceritakan tentang Meidina,tanpa Arsakha ketahui. Dan Arsakha juga menceritakan tentang Meidina, tanpa Musa ketahui.
"Penyesalan memang selalu datang di akhir" ucap Musa, merasa iba mendengar cerita Arsakha. Yang sudah menyia-nyiakan dan mengkhianati mantan istrinya.
"Benar,dan kau.Tetaplah berjuang,menemukan gadis yang kau cintai itu" ucap Arsakha, ia tersenyum ke arah Musa.
"Pasti" balas Musa, tersenyum kembali pada Arsakha.
__ADS_1
Mereka berdua, menyantap makan malam nya masing-masing,setelah itu mereka saling berpamitan dan pulang ke tempat nya masing-masing.