Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
Haruskah kita berpisah?


__ADS_3

Hari berganti, sudah seminggu berlalu. Sang peneror di telepon itu tak lagi mengganggu mereka, Musa teringat akan pembicaraan Ayah Hamzah tempo hari.


Jika itu benar, itu arti nya aku memiliki seorang saudari tiri. Batin Musa


Musa melangkahkan kaki nya keluar dari ruang kerja nya. Memikirkan sejenak, setelah kepergian kakak nya ia harus berusaha keras untuk mencari pelaku tersebut.


"Bahkan sampai saat ini, Kak adam dan teman nya belum menemukan pelaku nya" uca Musa, ia memijat pelan pelipis matanya.


Drt.. Drt... Drt..


Ponsel Musa berdering, ia dengan segera mengambil nya di lihat seseorang tengah menghubungi nya. Ia segera mengangkat telepon tersebut.


"Nico" ya, dia adalah seorang raja mafia eropa, mendadak menghubungi Musa sang sultan arab.


Percakapan panjang terjadi di antara kedua nya, mereka saling serius pada topik pembicaraan nya.


"Baik" ucap Musa segera menutup tersebut,dan melangkah kan kaki nya keluar Mansion. Meidina yang dari dapur, kelabakan mencari Musa.


Musa mengemudikan mobil nya dengan serius, ia mengirim sebuah pesan untuk Meidina baca. "Aku harus menemukan orang itu!" pekik Musa.


Sampai di sebuah cafe dekat gedung perusahaan Arsakha, Nico menunggu Musa sedari tadi dengan segera Musa keluar dari mobil nya. Ia berjalan mendekati Nico, yang tengah terfokus akan ponsel nya.


"Maaf sudah membuat lama menunggu" uca Musa, ia duduk di bangku depan Nico


"Tidak apa-apa,mau kopi atau teh? " tanya Nico


"Teh saja" jawab Musa


"Hm, baiklah "


Nico segera memesan, dan ia melanjutkan fokus pada pinsel nya. Ia memberikan ponsel nya di hadapan Nico, "Ambil ini dan bacalah" ucap Nico


Musa segera mengambil ponsel milik Nico,dan membaca baris perbaris pesan itu.


"Apa maksudnya ini!" tegas Musa


Nico tersenyum sinis nya


"Bagus, jika kau sudah bertanya. Akan ku jelaskan sekarang" ucap Nico seraya mengambil ponsel nya itu


"Kau tahu,sekarang sedang berurusan dengan siapa sekarang?" tanya Nico pada Musa.


"Ti-tidak" jawab Nico terbata-bata


"Ini adalah sebuah pesan dari klan mafia asia, aku juga sudah tahu akar permasalahan mu. Semua terjadi karena ayahmu, ia menghamili putri dari ketua mafia dan memilih ibu mu yang di nikahi" jelas Nico, Musa terdiam.


"Anaknya mengalami keguguran, namun dendam itu masih ada. Ia mengatakan padaku, agar kau menikahi cucu nya jika kau tidak mau istri mu kenapa-kenapa"


"Aku di sini bukan memintanya untuk berpisah dengan istrimu, karena aku adalah sahabat Arsakha. Aku akan membantu Musa,kau tenanglah. Baik aku, Adam atau pun Arsakha, menganggap Meidina sudah seperti adik kandung sendiri" jelas Nico, Musa terdiam. Ia berpikir sejenak, dan melirik Nico.


"Kenapa aku harus menikahi nya?" tanya Musa pada Nico

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu Musa, tapi. Satu hal yang harus kau tahu, gadis itu adalah penyelamat Arsakha ketika kecelakaan tempo hari itu" ucao Nico.


Deg...


Musa membulatkan matanya


Arsakha?


Bayang-bayang persahabatan mereka teringat kembali, ada rasa bersalah di benaknya karena sudah mengambil Meidina. Meskipun, Meidina adalah mantan istri Arsakha.


"Musa" saut Nico membuyarkan lamunan Musa


"Keputusan ada di tangan mu" ujar Nico


Pesanan yang mereka pesan datang, Nico menengguk kopi nya dan musa dengan teh nya.


Mereka sama sama terdiam, dan Musa memberanikan diri untuk berkata


"Aku tidak mau mengorbankan istriku, atau pun melepaskan nya. Kami saling mencintai" ucap Musa


"Aku tahu, aku akan berusaha melindungi kalian" ucap nico


"Kenapa tidak lapor polisi? " tanya musa


"Percuma, kita adalah seorang mafia. Sangat tidak mungkin berurusan dengan nya" jawab Nico


Nico berdiri dari tempat duduk nya


"Aku harus pergi" ucap Nico, seraya bangkit dari duduk nya, Di ikuti Musa


* * * *


Di Mansion, Meidina tengah duduk di halaman belakang seorang diri. Ia membsca sebuah novel dengan serius, tiba-tiba.


Sebuah kepalan tangan menutup mata nya, Meidina segera membuka nya.


"Sayang" sautnya


Musa tersenyum ke arah istrinya, saat di perjalanan akan pulang ia teringat ucapan Nico


Aku tidak bisa melepaskan istriku, andai saja dulu aku tidak memaksanya menikah. Hal ini tidak akan terjadi, dan aku tidak menyakiti hatinya. batin Musa.


"kenapa kau diam?" saut meidina


"Tidak sayang, kau sedang apa?" tanya balik Musa


"Membaca novel " jawab meidina sambil menunjukkan buku novel nya


"Sayang, apa kau sudah bertemu kak adam?" tanya Meidina


Musa menggeleng kan kepalanya

__ADS_1


"Belum, dia pasti sedang sibuk mengurus perusahaan ayah" jawab musa, ia duduk di samping istri nya


Meidina tidak mengetahui, tentang permasalahan yang kini terjadi. Musa membungkam mulutnya agar Meidina tidak mengetahui nya, rasa bimbang itu selalu ada.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Batin Musa


Haruskah kita berpisah sayang?, ini semua salahku. Jika aku tidak memaksa mu menikah, ini semua tidak akan terjadi dan kau tak akan terluka untuk kedua kalinya. Batin Musa


Musa menyandarkan kepalanya di bahu Meidina , ia mengelus pucuk rambut suami nya.


"Kau dari mana tadi sayang? aku mencarimu" tanya Meidina


"Aku hanya ada urusan kantor sebentar" elak Musa


"Kenapa? ini kan hari libur " tanya Meidina sekali lagi.


"Namanya juga bisnis sayang, pasti selalu ada masalah tanpa mengenal waktu" ucap musa


"Hm, baiklah aku mengerti sayangku" ucap Meidina,ia mencubit pipi Musa dengan gemas


"Auw" ucap musa merintis kesakitan


"Kau mulai nakal ya sayang" ucap Musa, ia menarik Meidina dan Memendamkan kepala nya di dada istrinya.


Meidina terkekeh geli atas tingkah suami. nya, ia kembali menjewer telinga kanan Musa dengan kacang.


"Geli,kau lah yang nakal" ucap Meidina


"Dih, tidak mengaku jelas-jelas kau selalu menggoda ku" ucap Musa


"Baiklah, malam ini silakan tidur di luar!" tegas Meidina, ia pergi meninggal kan musa di halaman belakang.


"Haist, sayang aku hanya bercanda. Bagaimana jika nanti aku di bawa nyamuk, kau tidak mau kan aku pergi meninggalkan mu" saut Musa yang mengejar istrinya, namun sayang Meidina sudah masuk kedalam kamar nya.


Tok... Tok....


"Sayang buka pintu nya" ucap Musa, menggedor-gedor pintu


Meidina enggan membuka kan nya pintu, namun Musa masih menggedor nya sedari tadi. Karena kasihan telah mengerjai suami nya, Meidina membukakan nya pintu.


Ceklek


Pintu terbuka terlihat mata Musa yang beriar-biar. Ia siap menyantap istri nya, Musa mengunci pintu dan berjalan menuju Meidina yang tegah akan mandi.


Ia memeluk Meidina dari belakang, dan membawa nya ke atas ranjang.


"Hey lepaskan" ucap Meidina


"Tidak akan" ucap Musa


Kebahagiaan menyelimuti kedua insan, mereka bercanda gurau bersama. Tidak ada lagi kata malu di antara keduanya, mereka menikmati malam dengan hangat.

__ADS_1


* * * *


Author : Maaf slow update, author lagi sibuk PTS 🙏🏻 sekilas info, novel ini akan tamat bulan besok. Terima kasih :)


__ADS_2