
Hari sudah malam, para penghuni Mansion sudah tertidur lelap terkecuali satpam yang masih berjaga.
Meidina berusaha untuk tertidur, namun tidak bisa. Tubuh kecil nya selalu menggeliat kesana dan kemari. Hingga membuat Arsakha terbangun dari mimpinya, dan ia terganggu akan keberadaan Meidina.
"Kenapa kau belum tidur, keberadaanmu saja sudah membuatku terganggu" ucap Sakha, ia menatap sebal Meidina.
Meidina bangun, dengan segera ia tertunduk takut.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud mengganggu anda" ucap Meidina gugup.
"Kemarilah, tidur di ranjang dengan ku" ajak Sakha.
Dia pasti sudah gila. Begitulah pikir Meidina.
Terakhir kali Sakha mengatakan jangan harap Meidina bisa tidur dengannya. Kali ini Sakha sendiri lah, yang mengajaknya untuk tidur bersama di ranjang yang sama.
Tidak ada jawaban, Meidina hanya diam membisu.
"Kamu tuli ya!" tegas Arsakha.
"Tidak tuan, maafkan saya" dengan segera ia naik ke atas ranjang, Meidina membelakangi Arsakha.
Bantal guling menjadi pembatas bagi mereka.
Kini Meidina sudah bisa tidur dengan pulas, Arsakha yang belum tertidur sedari tadi hanya bisa memejamkan matanya saja.
Sedangkan sekarang jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, ia menatap istri kecil nya sedang tidur dengan nyenyak.
Meidina masih membelakangi Sakha. Dengan cepat, Sakha melemparkan guling pembatas di antara mereka berdua.
Dan ia mendekati tubuh istrinya dengan pelan, ia memeluk istri kecilnya dari belakang.
"Sangat nyaman, benar-benar sangat nyaman"
Ia tidak bisa berkata-kata lagi, meskipun dicdalam hatinya masih tersimpan rapi nama Adelia.
Namun kali ini sakha tidak bisa menyangkalnya lagi, ia sudah jatuh cinta kepada Meidina.
Hingga adzan berkumandang, Sakha yang terbangun duluan dari Meidina. Dengan segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh istrinya.
"Aku pasti sudah gila" dirinya mengusap kasar wajahnya.
Ia menatap punggung istrinya yang masih tertidur. Sakha masih tidak percaya dengan apa yang ia lakukan.
Drt... Drt... Drt...
Ponsel sakha bergetar, pesan masuk dari layarnya, tanpa basa-basi ia langsung melihat siapa pengirimnya.
"Adelia?" gumamnya.
Pesan dari adelia:.
***📩 : XXNomer
Sakha ini nomer baruku, jangan lupa untuk menyimpannya. Aku merindukanmu baby. I Love You So Much. 😘***
Sakha tersenyum, Adelia sama sekali tidak menyerah untuk Sakha.
Sakha membangunkan Meidina, Meidina pun bangun dan terkejut.
"Tu... tuan" ucapnya terbata-bata.
"Kau gagap ya?" tanya Sakha.
__ADS_1
"Tidak tuan"
"Sana sholat, sebentar lagi sudah akan fajar" perintah Sakha.
"Tuan tidak sholat? " tanya meidina
"Tidak"
Meidina segera pergi, berdebat dengan seorang raja bisnis? tentu saja bukan tandingan nya.
Setelah menyekesaikan sholatnya, tidak lupa ia selalu berdoa dan membaca lantunan ayat suci al-quran.
Sakha keluar dari ruang gantinya, kini ia sudah rapi mengenakan pakaian yang sudah Meidina pilihkan.
Sama seperti Sakha, Meidina juga sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Hari ini dan seterusnya, pergi dan pulang akan aku antar jemput. Aku tidak menerima penolakan" ucap Sakha.
"Tidak usah tuan, saya bisa naik angkot" balas Meidina.
"Kau sudah berani melawan ya" tegas sakha
"Tidak tuan, saya tidak berani" pasrah Meidina.
"Bagus"
Sakha dan Meidina turun dari lantai atas, semuanya sudah menunggu dimeja makan. Ia menatap tajam Papah Rendra, seseorang yang sudah membuat Adelia pergi meninggalkannya.
Akibat ulahnya, Sakha salah paham akan cinta Adelia. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah melepaskan Adelia.
Aku harus segera mencari cara, untuk menceraikan anak kecil ini. gumam Sakha dalam hatinya.
Meskipun Meidina masih bersekolah dan belum cukup umur, tidak membuat keluarga Virendra terbantah, bahkan pemerintahpun tertunduk patuh ditangan Papah Rendra.
"Pah, Sakha mau pindah ke Mansion milik Sakha sendiri" saut Sakha.
"Tidak bisa mah, bagaimana kami bisa deket. Disini banyak orang, sakha malu" ucapnya.
"Wah, wah, wah. Seseorang CEO Virendra Group bisa malu juga ya" saut Nico.
"Cih, diamlah" ketus Sakha.
"Sudah-sudah, nanti Papah pikirkan lagi" ucap Papah Rendra.
Setelah selesai sarapan, mereka bergegas berangkat.
Adam membantu tuannya naik ke dalan mobil, Meidina membantu menyimpan kursi roda Sakha ke dalam bagasi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Adam tengah fokus menyetir, Nico sibuk dengan layar ponselnya dan juga Sakha yang sibuk dengan laptop nya.
Sedangkan Meidina tengah membaca buku novel kesukaannya.
Sakha menatap Meidina.
"Apa yang sedang kau baca?" tanya Sakha.
"Buku novel" jawab Meidina.
"Cih,Adam" saut Sakha.
"Iya tuan muda" balas Adam, Nico pun melirik heran ke belakang.
Ada apa dengan si bodoh yang satu ini. gumam nya dalam hati
__ADS_1
"Mulai sekarang, kau juga mengantar dan jemput anak kecil ini" ucap Sakha.
Hah, anak kecil? kamu sendiri kali kaya om-om. Gumam meidina dalam hati sambil menatap Sakha, dari arah samping.
"Baik tuan muda" ucap Adam.
"Nona muda, anda bersekolah dimana?" tanya Adam seakan tidak tahu saja.
"SMA Penabur" jawab Meidina.
"Baiklah" balas Adam.
Sampai mereka terhenti digerbang depan sekolah, beruntung tidak banyak orang diluar.
Tetapi banyak pasang mata yang menatap mobil mewah itu, Meidina hendak akan membuka pintu mobil.
"Ingat, jangan beritahu siapa-siapa tentang pernikahan kita, jika kau tidak ingin terkena masalah" ucap Sakha.
Ia menatap lama Meidina. Meidina hanya mengangguk, ia hendak ingin mencium punggung tangan Arsakha. Namun Arsakha tidak mau.
Adam dan Nico naik darah, hanya mencium punggung tangan saja Sakha tidak mau.
"Aku pergi dulu, Assalamualaikum" ucap Meidina tak lupa ia mengucapkan salam pada mereka.
"Waalaikumsalm" Adam menjawab salam Meidina.
Nico hanya bingung, pasalnya ia tak mengerti apa yang Meidina dan Adam ucapkan.
Meidina keluar dan tersenyum, ia melihat Dinda dan langsung menghampirinya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Nico.
"Nona muda mengucapkan salam, dan saya membalasnya" jawab Adam.
"Tapi, kenapa orang yang belakang hanya diam. Apa dia berbeda keyakinan dengan istrinya?" cibir Nico.
"Diamlah Nico! Adam cepat berangkat" perintah Sakha, Adam pun mengiyakan nya. Ketika Sakha melihat ke arah jendela.
Ia menatap lelaki, yang menemui istrinya ditoko buku.
Awas saja jika kau macam-macam pada istri kecilku. Gumam Sakha dalam hatinya.
Nico yang melihat lelaki tersebut, kembali menatap Sakha. Muncul ide gila untuk memanasi Sakha.
"Sepertinya lelaki itu mempunyai nilai yang lebih baik, dari pada orang yang dibelakang" ucap Nico.
Sakha tidak memperdulikan apa yang nico ucapkan, ia hanya fokus dengan pekerjaannya.
Cih, Malah dikacangin. Gumam Nico dalam hati.
Adam hanya terkekeh geli, Nico dibuat kesal olehnya. Hingga sampai didepan perusahaan, seorang lelaki tengah berdiri didepan pintu menatap mereka bertiga.
.......
.......
...Assalamualaikum 💕 ...
...Hola readers, maaf kalo aku sekarang jarang up atau telat up....
...Karena aku harus belajar daring dulu, habis itu ikut eskul 🙏🏻 ...
...Mohon maaf ya, semoga readers mengerti:) aku akan tetap update kok. Btw, ikuti aku di Instagram yuk! ...
__ADS_1
...follow instagram @stmaemunah_sr...
...jahat kalo kalian gak follow...