Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
KEDATANGAN MUSA


__ADS_3

Seseorang datang ke ruangan Arsakha tanpa mengetuk pintu, ia adalah Musa Aldebaran yang dengan angkuhnya datang ke perusahaan Arsakha.


"Ternyata kau disini Sora" ucap Musa, yang seketika itu membuat Soraya bergidik ketakutan.


"Sakha... " lirih Soraya pada Arskaha.


Musa mendekati dirinya ke arah Soraya, ia menarik paksa tanga Soraya untuk ikut bersamanya.


"Ayo pergi Sora" ajak Musa pada Soraya.


Arsakha pun menatap kejadian itu dengan melekat, begitupun dengan Nico yang masih bingung dengan apa yang sudah terjadi.


"Kau datang ke perusahaanku, lalu masuk ke dalam ruanganku tanpa izin dan tanpa permisi. Apakah itu sopan Tuan Aldebaran?" umpat Arsaka yang mencibir Musa.


Musa pun hanya menghela nafasnya dengan berat, "Aku tahu aku salah, tapi biarkanlah aku membawa Soraya pergi. Setidaknya dia tidak akan mengganggumu lagi Sakha"


Arsakha tersenyum tersenyum sinis. "Setelah 3 tahun lamanya, kau baru ingat untuk kembali? kau ke mana saja. Apa kau tidak ingat dengan istri dan juga putramu?" ucapan Arsakha spontan membuat Musa membelakkan kedua matanya.


Ada benarnya juga dengan apa yang Saja katakan, ia sangat merindukan Meidina dan juga putranya yaitu Moeza.


"Aku merindukan mereka berdua, dan juga kalian semua. Tapi ada suatu hal yang perlu aku urus, ini berkaitan dengan keluarga kami."


Arsakha membalasnya dengan ucapan yang begitu pedas, "Lalu, apakah kita juga keluarga? seharusnya jika kita keluarga, kita sama-sama saling membantu bukan menyelesaikan masalah dengan sendiri."


"Katakanlah apa yang kau butuhkan, aku akan membantumu dan juga aku memiliki berita penting untukmu." ucap Nico ia duduk di sofa.


Mereka pun juga sama, membicarakan apa yang telah terjadi selama 3 tahun belakangan ini.


"Tolong maafkan aku, atas semua kesalahanku di masa lalu yang telah meninggalkan kalian semua. Dan juga, terutama keluargaku, istriku dan juga Putraku. Aku punya suatu misi yang diberikan Abi kepadaku, ia memintaku untuk mencari ayah dari Soraya.

__ADS_1


Merupakan hal yang tidak masuk akal bukan? Apakah kalian pernah mendengar dulu Soraya adalah hasil anak di luar nikah Ibu Dara saat waktu muda dulu."


Sakha melihat ke arah Soraya, mengingat dirinya yang yang dulu itu seperti sampah masyarakat terbuang dan tak pernah dianggap oleh siapapun.


"Dan kau tahu, apa yang aku temukan selama ini? Aku sudah melakukan hasil tes DNA sebanyak 5 kali, dan hasilnya tetap sama. Kami masih memiliki hubungan darah, yang berarti Soraya adalah putri dari Abiku, Jefriel."


Ucapan Musa yang terdengar oleh telinga Arshaka dan Nico. Soraya hanya terdiam, sambil meneteskan air matanya yang keluar dari bola matanya itu.


"Kau tahu aku sangat menyesalinya selama ini aku seharusnya mencari dalang yang sudah mengadu domba kan keluargaku dengan keluarga Soraya. Yang akhirnya membuat kami bercerai-berai, terutama saat aku tahu siapa dalang dibalik semua ini." ucap Musa.


Nico masih diam, dia merasa tak percaya dengan apa yang telah Ia dengar.


"Aku tahu, siapa yang sudah mengadu domba kan keluargamu dan juga kami semua" ucap Niko yang spontan itu membuat mereka bertiga menyoroti mata ke arah Niko.


" Siapa?" tanya Arshaka.


"Marvin, Marvin Oktavia. Dia adalah suami dari Ibu Soraya"


Soraya pun membelakkan kedua matanya, ia sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang ayahnya telah lakukan.


" Apa! Ayah? Tidak mungkin, Ayahku tidak mungkin seperti itu!" Soraya membenarkan dirinya persoalan sang ayah tercinta.


"Dia adalah lelaki yang sangat baik kepadaku, dan juga Ibuku mana mungkin dia mengadu domba kan keluargaku dan keluarga Musa, apalagi dia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan kalian semua.


Mungkin saja, ini hanya kebetulan. Aku tidak akan pernah percaya jika ayah Marvin yang melakukannya!'' ucap Soraya.


Nico hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, mendengarkan Soraya yang tak percaya dengan apa yang ia katakan.


" Jika kau tidak percaya, maka Devanya lah yang akan berbicara." ucap Niko.

__ADS_1


Seketika itu membuat Musa mengerutkan kedua alisnya, "Devanya? Bukankah Kak Devanya sudah lama meninggal, jangan gila itu tidak mungkin terjadi! Aku yakin yang membunuhnya adalah mantan pacar dari Arshaka, secara kan dia pernah merebut Kak Arya dari Kak Anya." Sahut Musa.


Arsakha hanya menatap Musa dengan tatapan yang begitu tajam. "Aku ingat betul kematian Devanya itu setelah kematian Adelia. Jadi tidak mungkin Adelia menyakiti Devanya! Bagaimana bisa, Nico sendiri lah yang telah menghukumnya." sahut Arsakha kepada Musa.


Niko pun hanya terkekeh geli mendengarnya. "Apa kau masih merindukannya Sakha?" tanya Niko penuh kegelian,


Sakha hanya mendengus kesal. "Siapa yang merindukannya, aku sudah menikah." Ucapannya yang membuat pipi Soraya merah merona.


" Sudahlah, kita sebaiknya bahas permasalahan ini karena permasalahan ini adalah masalah akhir dari cerita ini" ujar Niko kepada semuanya.


"Benar, aku juga sudah pusing dengan cerita ini yang telah terbelit-belit dengan cerita mafia, dan juga perselingkuhan Arsaka." Ucapan Musa spontan membuat Arsaka melepas sepatunya dan melemparkan sapatu itu ke arah Musa.


Saka membulatkan kedua matanya, menatap tajam dan begitu Intens kepada Musa. "Kau juga kan, yang sudah membuat pusing alur jalan cerita ini dengan menikahi paksa Meidina!"


Musa hanya memperlihatkan gigi putihnya kepada Arsakha. "Seperti kata pepatah Arshaka, siapa cepat dia dapat!" ucap Musa yang membuat nyali Arsaka ketika itu langsung menciut.


"Benar juga dengan apa yang dikatakan Si Bodoh ini! Seharusnya dulu aku juga paksa saja Meidina untuk menikah kembali denganku" ucap Arsaka di dalam batinnya.


"Sudah sudah jangan meributkan seperti itu, sebaiknya kita pikirkan cara bagaimana keluar dari masalah ini." pinta Soraya yang memecah kegaduhan antara Arshaka dan Musa.


Musa berpikir sejenak, "Bukankah kau bilang Kak Devanya masih hidup? sekarang aku tanya Kak Devanya di mana sekarang!" ucap masa penuh ketegasan.


"Kau tenang saja, Devanya aman bersama Adam di Jepang" ucap Arsaka yang melirik Musa dengan Tatapan yang begitu tajam.


"Aku ingin menjemputnya, dan ingin melihat kondisinya seperti apa." Musa tak kuat untuk berdiri, ia menjatuhkan air matanya yang ia rasa ini adalah tangisan yang begitu pilu.


Namun segera Niko pun melarang untuk pergi. "Jangan Musa, ini pasti akan sangat berbahaya bagimu, tunggulah saja Devanya pulih Adam akan menunggunya dan juga aku sudah memerintahkan beberapa anak buahku untuk pergi ke Jepang hanya untuk menjaga kakakmu dan Adam. Kau harus percaya, kakakmu akan baik-baik saja di sana." ujar Niko.


Musa tak bisa lagi untuk menahan tangisnya, ia menangis dengan tersedu-sedu. Soraya dan juga Arsakha mengelus pelan punggung Musa, mencoba menguatkan Musa untuk masalah akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2