Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
SORAYA TAU


__ADS_3

Meidina hendak akan mendekati wanita yang sangat mirip dengan Soraya itu. Meidina terdiam, dengan tatapan yang masih tertegun ke depan. Melihat Soraya yang tengah berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan mall kota.


Namun, ia kehilangan jejak karena Soraya yang di kerumuni oleh banyak orang yang berlalu lalang lewat.


"Sora Kemana?" gumam Meidina yang tanpa kebingungan itu.


"Sebaiknya aku kembali saja, aku akan melaporkan hal ini pada suamiku!."


...***...


Tiba di London, Inggris. Mereka berdua turun dari pesawat pribadi yang mewah itu, Sakha menuntun Soraya keluar dari dalam pesawat pribadi.


Dikawal oleh dua bodyguard berbadan kekar di belakang mereka berdua, Arsakha di hampiri oleh seseorang berjas hitam dan lengkap menggunakan kacamata hitamnya. Ia menunjuk hormat pada Sakha, lalu ia tersenyum penuh arti pada mereka berdua.


"Selamat datang di London, Sir. Saya harap anda betah tinggal di sini" ucap pria itu.


"Ya, aku akan cukup lama di sini" ucap Arsakha.


"Izinkan saya mengantar anda ke apartemen anda, Sir" tawar sang pria tersebut.


"Oke, aku akan membutuhkanmu untuk waktu yang lama saat berada di London" jelas Arsakha.


Pria itu kembali menundukan kepalanya, "Mari Sir, ikuti saya menuju mobil anda."


Arsakha mengikutinya di belakang, Soraya masih terdiam dan hanya mengikuti Arsakha yang tengah menggenggam erat tangannya itu.


"Kau jangan bertanya, diam dan ikuti saja langkahku di belakang!" tegas Sakha yang membuat Soraya menjadi diam seribu bahasa.


Dengan hati yang was-was, Soraya mengikuti Arsakha di belakang dengan langkah yang penuh kehati-hatian. Sakha tahu betul, Soraya adalah orang yang paling menyebalkan dan sangat lambat. Tak jarang Arsakha marah-marah tidak jelas pada Soraya.


Waktu terus berputar, mereka akhirnya telah tiba di apartemen yang Sakha beli.


"Ayo masuk Sora!" ajak Sakha


Soraya hanya bisa mengangguk pelan, ia pasrah dengan perintah dari Arsakha. Namun saat langkahnya melaju, ia tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria asing.


BRUGH!, bahu mereka sama-sama menghantam dengan sangat keras.


"Oh, I'am Sorry" ucap Soraya sambil menundukan kepalanya.


Sakha yang melihatnya hanya terdiam membisu, ia masih menatap pria itu dengan intens.

__ADS_1


"Its okay, it's okay" ujar pria itu.


Mata Arsakha dan juga matanya saling bertemu, ia terdiam sejenak ketika pandangan maut itu saling memandang.


"Sakha" sahut pria itu.


"Cih, kenapa kau ada di sini!" tegas Sakha.


"Apa urusanmu? terserah aku ada di mana pun, karena aku memiliki urusan juga di sini"


"Awas saja, jika kau mengacaukan semuanya akan ku pastikan kau tinggal nama saja Davit" ancam Sakha.


Davit hanya tersenyum licik pada Arsakha, "Kau pikir aku peduli dengan masalahmu Sakha? Aku tidak peduli sama sekali!" pekik Davit.


"Cih, pergilah Davit son!"


Ada pertengkaran diantara mereka berdua, akhirnya para bodyguard itu melerai pertengkaran antara Arsakha dan pria yang bernama Davit itu.


"Sudah tuan sudah, mari kita lanjutkan ke atas" ujar bodyguard Sakha.


Sakha hanya terdiam sambil menatap kepergian rivalnya tersebut, "Sakha" sahut Soraya.


Sakha terdiam, dan enggan untuk menatap wajah istrinya tersebut.


Waktu terus berputar, ke esokan harinya Soraya duduk di sofa sambil membaca buku-buku yang diberikan Meidina. Ia bagaikan Rapunzel yang terkurung di sebuah istana mewah, Sakha tidak membiarkannya keluar dari dalam apartemen.


Tidak ada benda yang bisa di akses dengan internet, bahkan Arsakha tidak menaruh televisi untuk Soraya menonton. Ia takut jika skandal Soraya akan terdengar oleh Soraya yang asli.


Namun, jika sudah takdirnya ia tahu mau bagaimana lagi. Seseorang mengirimkan koran ke dalam apartemen Arsakha, Soraya yang baru saja tinggal tidak tahu menahu dengan tinggal di sini. Ia berusaha beradaptasi dengan baik sejauh ini.


"Koran? aku kira di negara maju seperti ini sudah tidak ada literasi membaca koran lagi" gumam Soraya.


Ia mengambil koran tersebut yang diletakkan di atas laci ruang tamu, Soraya sedikit kesulitan untuk memahami kata-katanya.


"Apa!" ia terkejut, sungguh ia tak pernah menyangkanya jika kriminal yang berada di koran itu adalah dirinya.


Soraya membuang koran itu, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Apa Sakha sengaja tidak memberitahuku, dan dia pergi mengajakku keluar negri karena ingin menyembunyikan aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Soraya bergegas menuju ke dalam kamarnya, ia mengambil beberapa keperluan seperti sejumblah uang dan kunci mobil yang Sakha titipkan padanya.


Ia turun menuju lantai bawah, tak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya. Soraya melirik ke arah kanannya, tempat parkir bawah tanah. Namun, bukan Sakha namanya jika tak mengawal Soraya dengan bodyguard-bodyguard nya.

__ADS_1


"Nona, anda mau kemana?" tanya salah satu bodyguard Sakha.


Tidak ada jawaban dari Sakha, ia tak menghiraukan bodyguard itu dan malah masuk ke dalam mobil. Dengan cekatan, bodyguard Sakha mengambil kunci mobil yang telah tertancap itu.


"Maaf nona, anda tidak boleh kemana-mana. Tuan Sakha tidak mengizinkan anda untuk keluar sebelum tuan pulang." jelas sang pengawal tersebut.


"Aku ingin pergi keluar sebentar!" pekik Sora.


"Tidak boleh nona, jika tidak anda sendiri yang akan menyesal nantinya"


"Cih!"


Soraya keluar dari dalam mobil, ia mambanting pintu mobil dengan sangat keras. Ia pergi, namun kedua bodyguard itu kembali mengikutinya dari belakang. Soraya sedikit berlari sambil menghapus kembali air matanya yang mulai berjatuhan itu.


"Sakha, kau sangat jahat!"


Isak tangis Soraya semakin pecah ketika mendapati Sakha tengah berdiri di hadapannya. Sakha yang baru pulang dari kantornya langsung menatap Soraya dengan penuh kebingungan.


"Soraya menangis? Tapi kenapa ia menangis?" tanya Arsakha pada dirinya sendiri.


Ia segera menyusul Soraya yang tengah menuju apartemen Sakha, Sakha semakin bingung dengan tingkah Soraya yang aneh itu.


"SORAYA!" teriak Arsakha.


Soraya enggan untuk menjawabnya, ia masuk ke dalam apartemen dan meninggalkan Sakha di luar. Sakha bertanya pada bodyguard yang bertugas jaga di depan pintu.


"Dia kenapa? dan juga kenapa kalian membiarkannya keluar?!"


"Maaf tuan, tadi kami makan siang sebentar dan meninggalkan nona. Saat kembali lagi, nona telah berada di luar dan kembali lagi ke mansion." jelas salah satu bodyguard tersebut.


Sakha masuk ke dalam apartemen, ia mendapati Soraya yang tengah menangis dengan isak tangis yang sendu di atas ranjangnya.


"Soraya, kau kenapa menangis?" tanya Sakha.


Sakha duduk di tepian ranjang, ia melihat Soraya yang tengah membelakangi Sakha.


"Sora" sahut Sakha.


"Katakanlah ada apa, kenapa kau seperti ini Soraya?" lirik Sakha yang dengan lembut mengelus rambut Surya.


"KAU JAHAT SAKHA!"

__ADS_1


"KAU JAHAT!"


__ADS_2