
Soraya memakai gaun yang diberikan oleh desainer itu, ia nampak begitu anggun ketika menggunakannnya. Namun tidak untuk Sakha yang merasa aneh dengan penampilan istrinya itu.
"Perfect, beatiful girl" ucap sang desainer yang memuji kecantikan Soraya.
Soraya senyum karena dipuji, namun tidak untuk Arsaka. Ia menatap desainer itu dengan begitu intens.
''Aku keberatan, bisa kau ganti gaunnya" ujar Arsaka yang mengangkat tangan kanannya, saat melihat Soraya.
Sang desainer itu pun terdiam, ia memilih untuk tidak bicara karena di sana Arsakha adalah orang yang begitu penting untuk bisnis mereka. Karena arshaka jugala, mereka bisa berdiri dengan modal yang Arsakha berikan
"Tuan ingin seperti apa? kami akan merubah konsepnya jika tuan mau" ujar sang desainer tersebut.
Arsakha berpikir sebentar sambil melihat wajah istrinya tersebut. "Berikan dia gaun yang akan launching bulan depan, aku ingin melihatnya memakai gaun itu" ucap Arshaka.
Mau tidak mau pun desainer itu pun menurutinya, dan Soraya pun dirubah kembali dengan memakai gaun yang lebih indah dari sebelumnya. Karena ini juga, mereka mengganti konsepnya lagi.
Sesuai dengan permintaan Sakha, gaun pengantin yang akan launching bulan depan mereka mengeluarkan semua. Gaun yang mereka akan launching, namun tidak untuk gaun pengantin berdarah yang tadi Soraya pakai. Karena itu adalah Project yang designer kerjakan, untuk mempromosikan butiknya agar terlihat unik.
"Ayo Nona Soraya, biar saya bantu make up" ucap sang MUA, yang meminta izin pada Soraya untuk merias wajahnya.
Karena mereka sudah berganti konsep, tidak mungkin Sakha akan berdandan seperti orang yang terlihat mati.
"Baiklah... Ayo cepat segera selesaikan" ujar Soraya.
Perlu 2 jam telah untuk mempersiapan Soraya, mulai dari mempersiapkan baju dan make up. Tidak lupa juga peralatan yang harus lengkapi. Setelah semuanya beres, Soraya pun keluar, dan menghadap pada Sakha.
Arsakha yang terkejut, ketika melihat sang istri yang berada di depannya sudah berdandan dengan begitu cantik.
"Ayo Nona Soraya, kita harus melakukan sesi pemotretan, karena waktu sudah terkuras 2 jam lebih" ucap sang fotografer yang sudah mulai mengeluh.
Soraya pun mengangguk pelan, ia melirik Arsakha yang menatapnya sedari tadi."Heem, baiklah. Ayo kita lakukan "
cekrek cekrek cekrek cekrek
__ADS_1
Hampir 5 jam Soraya melakukan sesi pemotretan yang panjang ini. Karena, sesi pemotretan yang dilakukan oleh perusahaan dan dengan batik tentulah berbeda.
Ia harus bergonta ganti gaun agar penampilannya sempurna, karena ini adalah gaun pengantin yang akan butik itu launching bulan depan. Arsakha menghampiri Soraya, ia merangkul pundak Soraya dan membawa Soraya pergi dari sana.
"Duduklah" titahnya.
Sakhaa meminta Soraya untuk duduk, lalu memberikan air mineral untuk Soraya minum. "Minum lah, aku tahu kau pasti haus" ucap Sakha sambil memberikan air itu.
Lalu Sakha duduk di samping Soraya. Sudah memasuki jam istirahat, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Artinya mereka cukup lama di sini, sang designer dan pemilik butik pun menghampiri Arsaka.
Mereka tersenyum pada Arsaka, namun Arsakha tidak senyum balik pada mereka. Malah Soraya lah yang balik tersenyum pada mereka berdua.
Sang pemilik butik itu melirik Arsakha, ia mengobrol dan basa-basi pada Sakha.
"Pak Sakha, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya sang pemilik butik tersebut
Sakha pun menjawab. "Aku tidak membutuhkan apa-apa, aku hanya butuh seseorang untuk menjaga istriku ketika aku tidak ada di butik ini, apa kalian bisa?" Tanya balik Arsakha
Sang pemilik butik itu pun tersenyum. "Tentu saja bisa Pak" ucap sang pemilik butik
"Istri Anda pasti akan aman bersama kami. Bapak jangan takut" sahut sang designer.
Soraya pun pergi mengganti, Ia tidak menampakan raut wajah yang cemburu pada Arsaka. Ketika melihat Arsakha dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, ia menampilkan raut wajah dengan keprofesionalan Soraya.
Kenapa ia harus cemburu, Arsakha dikelilingi oleh wanita cantik. Namun yang dikelilinginya sudah berumur, pantas saja Soraya biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Jika semuanya sudah beres, Aku ingin segera pulang karena hari sudah semakin gelap" ucap Arsakha.
Sang desainer dan juga pemilik butik itu pun mengerti, sambil menunggu Sora yang berganti baju, mereka berbincang-bincang soal bisnis tersebut. Karena Soraya merupakan model yang akan mereka pamerkan pada pelaunching bulan depan.
Soraya sudah bersiap untuk pulang, dan ia tak lupa meminta izin pada pemilik butik dan desainer tersebut. Melihat keseriusan Soraya yang begitu giat mengejar karirny, Arsaka pun akan terus mendukung karir Soraya tersebut.
Tidak ada yang tidak mungkin, dari seorang lelaki yang tidak menghargai perempuan ini. Ia telah menjadi seorang lelaki yang sangat menghargai perempuan, hal ini membuktikan bahwa Arsakha telah berubah dari sifatnya yang dulu, Selalu meremehkan perempuan. Ketika penyesalan itu datang dan dapat merubah Arsakha yang berwatak keras itu.
"Ayo Soraya, kita pulang" ajak Arsaka
Soraya pun mengganggu, ia mengikuti langkah kaki Arshaka yang berada di depannya. Tiba di jalanan, tidak ada sepatah kata pun yang mereka lontarkan hanya ada diam dan hening lah yang sedari tadi.
Demi memecahkan keheningan, Sakha pun mulai berkata pada Soraya. "Soraya, Kenapa kau diam saja?" tanya Arshaka yang memecah keheningan.
Spontan membuat Soraya melirik ke arah sampingnya. "Aku tidak apa-apa sungguh. Ada apa denganmu?'' Tanya balik Soraya membuat Arsaka bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau balik bertanya padaku?" ucap kesal Arsakha
"Tidak apa-apa." ucap Soraya spontan
"Apa kau mau makan dulu?" tanya Sakha kembali"
"Tidak, aku ingin pulang saja" Jawab Soraya.
Tidak ada suara setelah itu, mereka sampai sekitar pukul 08.00 malam. Soraya langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion. Sakha yang dibuat bingung dengan sikap Soraya itu pun hanya bisa mengelus dadanya dengan pelan.
"Mungkin saja Soraya sedang berhalangan, jadinya moodnya tidak beraturan." gumam Sakha
"Aduh bocor nggak ya ini!" gumam Soraya sambil melihat ke belakang badannya, memastikan tidak ada darah haidnya bocor.
Pantas saja Soraya diam tidak mau bicara saat di dalam mobil. Ternyata dia sedang Palang Merah yang membuat perutnya sakit, seketika itu ia memegang perutnya dan meringis kesakitan.
Karena di hari pertama adalah hari yang paling sakit, apalagi di hari ketiga ketika datang bulan itu tiba.
__ADS_1
"Sakit sekali, seharusnya tadi aku minta Sakha untuk berhenti di minimarket. Untuk membeli obat pelancar haid" gumam Soraya yang meringis kesakitan, sambil memegang perutnya itu.
Karena sudah berada di kamar mandinya, ia pun melanjutkan nya dengan mandi walaupun ia sudah mandi saat berada di butik. Namun ia terasa gerah dan memutuskan untuk mandi lagi.