
Nico masuk ke dalam ruangan Arsakha, ia melirik sakhabatnya itu dengan tatapan sendu.
"Bagaimana keadaan mu? " tanya Nico pada Sakha.
"Tidak baik" saut Sakha
"Cih, ini aku bawakan kau makanan" ucap Nico memperlihatkan bungkusan yang ia bawa.
"Makanlah, aku harus kembali ke hotel karena pangeran kecil selalu menangis" jelas Nico.
"Kenapa cepat sekali" ucap adam
"Cih, kau tidak tahu bagaimana rasa nya menjadi seorang ayah" ketus nico
"Tidak apa-apa, kau pergilah Nico" saut Arsakha tersenyum.
Hari sudah berganti, langit sedang tidak bisa di ajak kompromi sekarang. Adam tengah menikmati sarapan nya, begitu juga dengan Arsakha dan Nico. Naora pulang lebih dulu,karena si pangeran kecil tidak mau berlama-lama di negara A.
Arsakha menatap teman-teman nya.
"Kalian, apa kalian sudah mengetahui siapa orang yang sudah menyelamatkan mu?" tanya Arsakha
Adam dan Nico melirik nya secara bersamaan.
"Sudah" ucap adam dan nico secara bersamaan.
"Siapa?" tanya Arsakha
"Kepo" ketus Nico
"Oh, jadi nama nya kepo" ucap Sakha.
"Bukan itu sialan, dia seorang gadis bernama Soraya" celoteh Nico
Adam hanya diam, ia enggan berbicara.
"Kau cacingan kah? kenapa diam-diam seperti itu. Jangan-jangan kau Ngepet ya dam? " ucap konyol Nico.
Cletak
Adam menyentil jidat Nico.
"Auw, sakit sialan. Kau ingin aku memakan mu! " tegas Nico ia memegangi jidat nya
"Benarkah kau ingin memakan ku? akan ku beritahu Naora, jika suami nya suka pisang makan pisang" ancam Adam
"Kau menggertak ku? " tanya Nico
"Tidak" jawab singkat Adam
Arsakha hanya menggeleng kan kepala nya, seseorang masuk dari bangsal nya. Ayah Rendra menghampiri Arsakha,dan mendekati nya.
"Bagaimana keadaan mu nak? " tanya ayah Rendra.
"Baikan ayah, aku akan segera melakukan pengobatan lebih lanjut setelah ini" ucap Arsakha
"Itu bagus, kau sudah melakukan langkah yang tepat" ayah Rendra melirik Nico dan Adam.
__ADS_1
"Kalian lanjutkan sarapan nya, aku akan keluar dulu" ucap ayah rendra.
Nico melirik Arsakha, sambil mengunyah makanan nya.
"Apa kau menatapi ku, jangan-jangan kau jatuh cinta padaku ? " ucap Arsakha membuat Nico Risih
"Cih,aku masih normal dasar sialan" ucap Nico dengan nada kesal. Kedua sahabat nya terkekeh geli.
Mereka menertawakan Nico.
"Kalian!" pekik nico.
Drt.... Drt.... Drt...
Ponsel Adam berbunyi.
"Sebentar ya, aku angkat telepon terlebih dahulu" ucap Adam, ia keluar dari bangsal Arsakha.
"Halo, Assalamualaikum Tuan Adam" ucap seorang pria di sambungan telepon.
"Waalaikumsalam, bagaimana? kau sudah mendapatkan informasi nya" tanya Adam pada pria di sambungan telepon tersebut.
"Sudah tuan, seperti dugaan tuan. Dia adalah Dokter DEVANYA, mantan kekasih tuan saat kuliah waktu itu" ucap nya.
Deg.
Jantung Adam berdetak kencang, saat diri nya mendengar nama Devanya.
Itu berarti dia benar-benar Anya, tapi kenapa Anya tidak mengatakan padaku jika ia memiliki adik lelaki bernama Musa.
"Tuan" ucap seseorang di telepon.
Adam tersadar, dan langsung mengangkat kembali telepon tersebut.
"Eh ya" saut nya.
"Tuan, kami juga mendapatkan informasi. Bahwa Nona Anya mengalami pemer**saan, saat pulang dari rumah sakit. Ia kini sedang di rawat, dan di kabarkan tengah kritis" ucap nya.
Deg.
Tubuh Adam melemas, ia memegangi dada nya yang terasa sakit.
"Itu tidak mungkin kan?" ucap Adam, dengan nada pelan.
"Itu benar tuan, jika tuan tidak percaya. Kami mendapatkan informasi itu dari mafia meksiko"
"Ayah tuan juga memerintahkan ku ,untuk segera mencari keberadaan pelaku tersebut" sambung nya.
Adam terdiam,ia enggan untuk menjawab Pratik di sambungan telepon.
"Tuan" sautnya
"Hm, kau boleh lanjutkan pekerjaan mu" ucap Adam. ia langsung mematikan telepon nya.
Air mata jatuh membasahi kedua pipi nya, ia tak kuat menahan nya lagi. Nico datang menghampiri Adam yang tengah terduduk di luar, ia menatap heran sahabat nya itu.
"Bodoh, kau kenapa?" tanya Nico pada Adam.
__ADS_1
Adam melirik nya, menatap sendu Nico.
"Nico, aku harus segera pulang ke negara B" ucap Adam.
"Hah, kenapa kau pulang. Aku saja tidak pulang, apa ayahmu sakit nya kambuh? " tanya balik Nico
"Tidak dia baik-baik saja"
"Lalu kenaa kau pulang lebih cepat? " ucap Nico
"Kau tahu Devanya kan? kekasihku saat kuliah dulu" lirih Adam, Nico duduk di samping Adam.
"Oh Devanya, ada apa memang nya. Bukan kah dia sudah menikah" saut Nico
"Aku tahu, aku juga tidak tahu dia meninggal kan aku demi lelaki mana, ku harap keadaan baik-baik saja sekarang" lirih Adam, menitik kan air mata nya.
Nico mengelus punggung Adam dengan telapak tangan nya, ia melirik sedih adam juga.
"Sudahlah, memang nya dia siapa mu lagi dam. Dia meninggal kan mu demi lelaki lain, seharusnya kau juga cari wanita lain " saut Nico
"Aku tahu, ini memang tak mudah. Tapi, Anya tengah kritis sekarang. Aku harus menjenguk nya juga"
"Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? "tanya heran Nico
"Dia kritis, dan menjadi korban pemer****aan kemarin malam"
Nico kaget. Dan membulat kan mata nya sama seperti Adam.
"Aku akan membantu mu mencari pelaku itu, kau bersabarlah" ucap Nico
Adam masih termenung dalam sedih nya, tidak seperti biasa nya seorang Adam menunjukkan kesedihan nya secara langsung. Biasanya ia akan memendam nya sendirian, atau hanya berbicara pada keluarga nya saja.
Tapi kali ini, Adam menunjukkan nya. Rasa cintanya pada Anya, sama besarnya seperti Musa mencintai Meidina.
Meskipun seorang lelaki, apa salahnya menangis demi perempuan yang mereka sayangi. Terkadang, air mata lelaki itu lebih tulus dibandingkan air mata perempuan.
Sangat jarang melihat seorang lelaki, menangis demi seorang perempuan.
Adam menguatkan hati nya, sangat lemas rasa nya Ketik mendengar kabar Anya yang saat ini bagi nya .
Di Lain tempat.
Seseorang paruh baya,sekitaraan umur 70 tahun tengah menikmati sebatang rokok di jari tangan nya. Pria itu tersenyum, ketika menjawab sebuah panggilan saat ini.
"Bagus, sesuai rencana. Awasi Dara, aku takut dia akan ceroboh nanti nya" ucap pria paruh baya itu.
"Baik tuan Sombet" ucap bawahan nya.
Panggilan singkat itu ia tutup, rasa bahagia menyelimuti nya kali ini.
Permainan ku dan anak ku,baru saja di mulai Jefriel. Nikmati dan rasakan karma mu.
Gumam nya, ia membuang rokok nya dan memilih masuk ke dalam Mansion nya.
Meidina masih setia menunggu bersama Musa, Musa sudah tertidur pulas di bahu Meidina.
Nampak dirinya yang tengah menggigil kali ini, Meidina menyelimuti Musa dengan jaket yang ia bawa. Musa sangat kelelahan, ia harus bolak balik memeriksa keadaan kakak nya.
__ADS_1